Siswa Qatar Mondok Di Daarut Tauhid – Bandung Selama Ramadan

Standard

Libur bagi siswa sekolah adalah hal yang sangat dinanti-nanti,  tidak melakukan kegiatan belajar sama sekali. Libur sekolah di Indonesia umumnya berlangsung  selama dua hingga tiga pekan cukup bagi siswa untuk istirahat dari kegiatan belajar di sekolah. Orang tua akan mengisi libur anak dengan kegiatan menyenangkan.  Nah bagaimana bila libur sekolah berlangsung lebih dari dua bulan? Sedangkan dua pekan saja membuat para orangtua kebingungan untuk mengisi waktu libur mereka apalagi dua bulan !!!

Libur sekolah di Eropa dan Amerika berlangsung lebih dari dua bulan untuk musim panas. Termasuk sekolah-sekolah dengan kurikulum Eropa dan Amerika yang ada di luar wilayah tersebut. Itu sebabnya banyak kegiatan  Summer Camp  di Eropa dan Amerika untuk mengisi libur musim panas. Di Timur Tengah banyak sekali sekolah-sekolah berbasis kurikulum Inggris dan Amerika yang mengikuti libur sekolah negara asalnya. Apalagi musim panas di Timur Tengah bisa mencapai angka 50 derajat celcius !!!  Bayangkan kalau tidak libur bagaimana tubuh harus menyerap panas matahari yang sangat menyengat setiap hari. Maka tak heran saat musim panas bulan Juli-September kota-kota di Timur Tengah sepi dari siswa-siswa sekolah dan para ibu yang berlibur ke negara asal mereka.

Demikian pula dengan warga Indonesia di Qatar yang umumnya anak-anak mereka menuntut ilmu di sekolah internasional berbasis kurikulum Inggris dan Amerika libur musim panas berlangsung selama dua setengah bulan. Orang tua harus kreatif dalam mengisi libur sekolah agar anak mereka tidak bosan atau hanya menatap layar komputer yang terhubung dengan internet. Untuk libur di kampung halaman banyak sekali pilihan untuk mengisi kegiatan anak-anak selain pergi ke tempat hiburan atau ada yang mengikut sertakan anak-anak dalam les pelajaran atau bergabung dengan klub olah raga.

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Tahun ini diprakarsai oleh Tentang Qatar beberapa orang tua berinisiatif mengisi libur sekolah anak mereka dengan menimba ilmu di pesantren Daarut Tauhid ( DT ) milik KH Abdullah Gymnastiar di Bandung. Kegiatan ini telah berlangsung selama tiga pekan sejak hari ke dua Ramadan 22 juli hingga 12 Agustus 2012 yang lalu. Seluruh santri berjumlah 17 siswa putra lalu pada satu pekan terakhir bertambah 2 siswa putri. Usia mereka berkisar dari 7 hingga 15 tahun. Berharap liburan kali ini mempunyai nilai lebih dengan diisi hal-hal bermanfaat tanpa mengurangi nilai kesenangan. Konsep yang ditawarkan DT diharapkan dapat memberi pengalaman unik yang berharga dan memfasilitasi proses perkembangan santri. Kegiatannya selain dilakukan dalam ruangan untuk mentoring juga dilakukan di luar ruang, alam terbuka agar peserta tidak jenuh.

Mentoring ala DT dengan konsep Manajemen Qolbu ( MQ ) yang banyak menggunakan istilah sebagai kata kunci menjadi mudah diingat oleh santri. Terbukti saat berkomunikasi atau bersenda gurau sesama santri seringkali saling mengingatkan dengan istilah-istilah SMOS ( Suka Melihat Orang Susah / Susah Melihat Orang Senang ), Terapi Penyakit Qolbu TENGIL ( Takabur Egois Norak Galak Iri Lalai ), Menjadi Remaja Unggul dengan 3A (Aku aman;  Aku menyenangkan;  Aku ), dan Menjadi Pribadi Simpatik dengan 5S ( Salam  Sapa Senyum  Sopan  Santun ).

Mentoring, tausiyah, tadarus, tahfiz harian yang sangat padat tidak membuat santri jenuh karena selalu diselingi dengan  ice breaking  dan istirahat siang.  Selain pemberian materi ada juga  kegiatan luar ruang yang menyenangkan seperti olah raga atau  fun games  yang membutuhkan kerja sama kelompok sehingga santri seakan-akan bermain padahal mereka sedang diajarkan kerjasama kelompok.

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Selain itu setiap akhir pekan santri melakukan i’tikaf   di pesantren lain agar melihat juga ragam kehidupan  dan berinteraksi dengan warga lain. Asal tahu saja mereka menuntut ilmu di sekolah Internasional  yang berisi murid-murid dari berbagai bangsa – multi cultural – dan berbagai macam agama tetapi berstrata sosial yang sama maka sangat perlu buat mereka berinteraksi dengan ragam sosial yang berkelas-kelas di tanah air sehingga  mereka peka terhadap lingkungan sekitar.

Kegiatan luar ruang selain  outbound  juga mengadakan kunjungan sosial ke salah satu  pesantren Pondok Asuhan yatim piatu dan dhuafa membuat mereka berbaur karena melihat dan berinteraksi langsung dengan para santrinya. Santri bermalam di pondok tersebut melakukan kegiatan tadarus, olah raga, sahur dan buka puasa bersama dengan makanan seadanya yang sama porsi dan macamnya bagi semua penghuni pondok. Tidak ada yang lebih banyak atau mendapat lebih sedikit jatahnya, semua sama. Mereka juga menyaksikan pesantren yang  mandiri pangan dengan berkebun dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di lingkungan pondok. InshaAllah kunjungan ini sangat membekas di hati mereka.

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

 

 

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

 

Santri juga melakukan kunjungan wisata sejarah ke Museum Konperensi Asia-Afrika, Museum Geologi, dan Goa Belanda yang ada di kawasan Bandung. Untuk wisata seni mereka mengunjungi Saung Udjo menikmati kesenian Jawa Barat sambil belajar bermain angklung serta mengunjungi industri kerajinan batik untuk melihat proses pembuatan batik tulis dan cap sekaligus membuat sendiri sapu tangan batik cap karya masing-masing.

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Usai  mondok  di DT diharapkan santri lebih meningkatkan ibadah mereka selain ibadah wajib juga melaksanakan ibadah sunnah karena selama mondok mereka teratur melaksanakan  salat sunat rawatib, dhuha, zikir, dan tadarus tiap subuh. Gavin dan Ravi peserta kakak adik yang berayahkan  kebangsaan Amerika dan ibu WNI sangat senang dengan kebersamaan selama  mondok  di DT.  Ariq, 14 tahun sangat  enjoy  dengan kegiatan ini.

Kegiatan ini juga menjadikan latihan berbahasa Indonesia semua santri karena mereka sehari-hari berbahasa Inggris di sekolah dan pergaulan. Berdasarkan komentar beberapa orang tua melihat perubahan yang baik terhadap anak-anaknya setelah  mondok  di DT. Semua santri berharap bila acara serupa diadakan lagi tahun depan. Seorang santri,  Arif 15 tahun,  sempat berseloroh , “Seandainya para pejabat diikut sertakan dalam kegiatan MQ selama tiga pekan maka InshaAllah tidak akan korupsi.” Ia merasa Manajemen Qolbu selama 3 pekan sangat efektif menggembleng santri

Advertisements

Pasar Tradisional Yang Modern

Standard

Saat masih kanak-kanak ibu saya sering mengajak saya menemaninya ke pasar tradisional membeli sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Sebenarnya males banget nemenin karena alasan becek dan bau sampah membusuk itu loh yang nggak tahan. Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Ciledug menjadi pilihan ibu karena dekat dengan rumah kami. Kala itu 30 tahun silam belum ada pertokoan-pertokoan modern seperti saat ini.

Setelah saya sekolah hingga akhirnya kuliah ibu mulai jarang mengajak saya ke pasar karena kesibukan waktu saya di sekolah dan kegiatan ekstra lainnya. Apalagi saat kuliah saya kost dekat kampus pulang ke rumah sepekan sekali.

Setelah menikah saya  mulai sibuk dengan tetek bengek urusan rumah tangga, mengurus suami, memberesi rumah apalagi setelah anak pertama kami lahir kesibukan saya bertambah lagi. Saya masih meraba-raba dalam dalam pengaturan keuangan rumah tangga.

Awalnya pusing kepala harus mengatur pemasukan dan pengeluaran plus menahan nafsu dunia yang mau ini dan itu. Untuk memenuhi asupan gizi anak kami adalah prioritas utama meski dengan penghasilan pas-pasan dari suami yang saat itu seorang asisten dosen di kampus. Berbelanja di pasar tradisional adalah pilihan paling tepat karena murah dan lebih banyak pilihan.

Toh akhirnya saya harus sering-sering lagi ke pasar tradisional meski becek dan bau harganya jauh lebih murah daripada pasar swalayan. Kalau dulu hanya menemani ibu membantu menjinjing belanjaan kini saya harus ‘bertarung’ menawar harga agar dapat lebih murah dari pasar swalayan atau tukang sayur keliling. Aduuuh gimana ya caranya menawar…. Bukankah suami akan bangga bila sang istri mampu mengatur keuangan rumah tangga. Tak peduli lagi soal pasar becek dan bau sampah busuk yang penting murah yo Pak, hihihi.

Pasar Modern BSD - Serpong

Pasar Modern BSD – Serpong

Awalnya suami juga malas kalau harus mengantar saya ke pasar tradisional tapi akhirnya ia mau dengan catatan hanya menunggu di warung dekat lahan parkir motor. Sambil menunggu biasanya ia mencoba jajanan pasar seperti lontong sayur, kupat tahu atau bubur ayam. Tak mengapa asalkan ia mau mengantar jadi saya tidak harus naik angkutan umum menjinjing belanjaan.

Hingga akhirnya pasar tradisional di kawasan kami tinggal diubah oleh developer real estate menjadi pasar modern. Konsep bangunan tetap sama dengan pasar tradisional tetapi diatur rapi berdasarkan jenis dagangan yang dijual. Ada blok makanan, warung makan, alat-alat dapur, dan termasuk pakaian murah meriah, semuanya teratur dan bersih. Awalnya saya enggan juga, pesimis dengan perubahan tersebut khawatir harganya akan sama saja dengan pasar swalayan tapi apa mau dikata.

Setelah pasar modern tersebut selesai dibangun ternyata, wow, di luar sangkaan saya semuanya teratur berdasarkan jenis yang dijual. Yang paling penting lagi tidak becek, tidak bau, dan tidak pengap harga pun bersaing. Langit-langit yang tinggi, lantai pasar pun dibuat dari keramik tidak becek lagi seperti sebelumnya yang hanya dari tanah liat, itu sebabnya menjadi becek apalagi di area pedagang daging, ayam, dan ikan. Tempat sampah ada di setiap sudut gang lapak pedagang. Hasil interview saya dengan beberapa pedagang, mereka juga tidak mengeluhkan harga sewa lapak di pasar tersebut.

Pasar modern di kawasan kami menjadi perintis perubahan bagi pasar-pasar tradisional lainnya yang ada di perumahan-perumahan kawasan Jakarta dan sekitarnya. Sejak itu pula suami saya mau menemani saya belanja ke dalam pasar tidak hanya menunggu di warung.

Wholesale Market Doha

Wholesale Market Doha

Sejak kami tinggal di Doha kebiasaan belanja sayur dan buah-buahan ke pasar tradisional tetap menjadi pilihan karena harganya memang lebih murah dari pasar swalayan. Yang paling penting lagi tidak becek dan bau…

Pasar tradisional satu-satunya di kota Doha ini dikenal dengan nama Wholesale Market atau pasar induk menjadi pusat penjualan sayur dan buah partai besar artinya mereka menjual dalam 1 kardus atau karung yang berisi kurang lebih 6-7 kg per kardus. Umumnya pembeli di Wholesale Market adalah pemilik restoran atau pedagang groceries market. Tak sedikit pula keluarga Qatari yang belanja partai besar karena umumnya mereka keluarga besar.

Di lokasi yang sama ada juga area yang menjual partai kecil artinya kita bisa juga membeli per kilo atau satuan. Saya lebih suka di tempat ini selain  lebih bersih  saya tak perlu membeli dalam jumlah banyak karena hanya untuk konsumsi kami sekeluarga jadi tak perlu menyimpan sayur cukup banyak khawatir layu dan busuk. Bangunannya luas, lantai kering dan bersih, atap tinggi dengan pencahayaan alami, dan tidak bau.

Para Suami Belanja ke Pasar

Para Suami Belanja ke Pasar

Sayur dan buah-buahan di Qatar dipasok dari negara-negara tetangga seperti Saudi, Jordan, Lebanon, Yaman, Oman bahkan Mesir meski ada juga beberapa produk lokal. Harga 1 kardus sayur dan buah di pasar tradisional ini bisa ½ atau bahkan ¼ harga di groceries market.

Seorang teman yang menjalani catering, Lala, akhirnya menjadi teman saya belanja tiap kali ke Wholesale Market jadi kami bisa membeli dalam partai besar, istilahnya sharing, lalu membaginya berdua. Masing-masing akan mendapat sekitar 3 kilogram. Ia terkejut dengan harga yang jauh lebih murah dari pasar swalayan sampai-sampai ia menghitung berapa untungnya pemilik pasar swalayan.

Untuk pedagang daging, ayam, dan ikan masih di lokasi yang sama tetapi di bangunan yang berbeda lebih dikenal dengan Fish Market. Lokasi pedagang ikan lumayan banyak lapaknya, yang saya senang dari area ini lantainya dari keramik meski basah tapi selalu bersih. Atap bangunannya tinggi dan semua dipenuhi pendingin udara. Semua pedagang mengenakan baju atasan dan bawahan putih. Memakai topi ala chef bersepatu boot selutut dari plastik. Di bagian luar Fish Market terdapat area khusus  membersihkan ikan jadi setelah kita berbelanja ikan bisa meminta jasa beberapa orang yang khusus hanya membersihkan ikan dan cumi atau mengupas kulit udang.

Untuk penjual ayam segar, ayam yang masih hidup lalu kita minta potong sesuai pesanan, hanya tersedia 3 lapak yang menurut tempat langganan saya bisa menjual 400-600 ekor ayam per hari. Sementara penjual daging hanya 2 lapak.

Bila belanja dalam jumlah banyak para buruh angkut – biasa disebut mali -telah menanti kami para pembeli untuk meminta jasa mereka. Mereka semua berseragam hijau membawa gerobak kecil beroda satu di bagian depan dan 2 kaki di bagian belakang. Mereka adalah buruh angkut resmi dari pemerintah menggunakan tanda pengenal di bagian dada. Saya sudah punya langganan buruh angkut yang siap membawakan belanjaan saya.

Sebetulnya tidak umum di Qatar bila seorang pembeli wanita ke pasar sendirian. Walau tidak ada aturan tertulis sesuai budaya setempat umumnya para wanita lokal ditemani khadimat, sopir atau suaminya. Bahkan tidak aneh bila yang belanja hanya si bapak saja. Suami saya selalu menyarankan mencari teman bila saya harus ke pasar tapi kadang saya nekat saja kalau sudah kepepet. Maaf yo Pak…

Ada lagi aturan tidak tertulis yang berlaku dalam berpakaian ada baiknya memakai abaya seperti wanita lokal. Hal ini untuk menghindari dari mata-mata jahil para pedagang yang kadang usil menatap pembeli yang berpakaian ‘terbuka’. Asal tahu saja semua pedagang di wholesale market adalah laki-laki. Mereka adalah pendatang dari India, Pakistan, Srilanka, dan Banglades. Tidak seorang pun wanita yang berjualan di pasar tradisional.

Bahasa yang kami gunakan dalam bertransaksi umumnya bahasa Inggris kecuali pada pembeli lokal mereka para pedagang lancar berbahasa Arab. Pedagang sayur langganan saya lama kelamaan bisa menyebutkan nama-nama sayur dan buah ke dalam bahasa Indonesia karena selalu saya terjemahkan. Tiap kali saya tiba di pasar maka ia akan berteriak,

“Kangkung, bayam, sawi, terong, kentang…..”

Senangnya lagi tiap kali saya tiba di pintu gerbang pasar para pedagang dan buruh angkut menyambut saya dengan sapaan “Assalaamu’alaikum madam….” 

KESENIAN INDONESIA DI TANAH GURUN

Standard

Nasionalisme bangsa Indonesia terusik kembali setelah tarian Tor Tor diakui Malaysia sebagai warisan budaya mereka. Padahal mungkin anak-anak jaman sekarang baru mendengar nama tarian tersebut. Ini bukan kali pertama terjadi, beberapa tahun silam lebih heboh lagi karena motif batik diakui sebagai warisan budaya Malaysia juga.  Hingga akhirnya nyaris semua warga Indonesia mendadak pakai baju motif batik semua. Bahkan beberapa instansi pemerintah dan milik swasta menerapkan karyawannya berpakaian motif batik pada hari Jumat.

Apalagi  warga Indonesia yang justru jauh dari tanah air bangga banget memakai motif batik khas Indonesia. Setiap kesempatan acara-acara komunitas Indoensia atau  International Day  di sekolah anak-anak selalu mengenakan pakaian motif batik. Bahkan tidak hanya pakaian, tas dan sepatu motif batik menjadi pilihan. Kami tidak hanya membanggakan kepada bangsa Malaysia tapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang ada di negara yang kami tempati. Dengan motif batik tersebut bangsa lain dapat mengidentifikasi bahwa  kami sebagai orang Indonesia. Meski tak jarang pula saya lihat beberapa bule ada juga yang suka memakai pakaian batik.  Akhirnya batik memang menjadi ikon orang Indonesia.

Kini semakin banyak warga Indonesia yang bekerja sebagai tenaga ahli di Timur Tengah termasuk di Qatar.  Kami hidup berdampingan dengan warga negara lainnya apalagi dengan warga ASEAN.  Mungkin karena wilayah negara kami berdekatan, kemiripan bentuk wajah, postur badan, kesamaan dalam beberapa selera makanan bahkan kemiripan bahasa.

Menurut duta besar RI untuk Qatar bapak Deddy Saiful Hadi,  ASEAN Community di Qatar mempunyai agenda bersama dalam membahas masalah-masalah substansi seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya negara-negara anggota ASEAN. Dari 10 negara anggota ASEAN di  hanya 3 negara yang tidak memiliki perwakilan di Qatar yaitu Laos, Kamboja, dan Myanmar. Hal ini mungkin disebabkan jumlah warga negara tersebut yang ada di Qatar sedikit. Selain itu mereka juga mempunyai  agenda non substansi seperti bazaar makanan atau pertandingan olah raga antar warga kedutaan negara ASEAN.

Sebulan lalu warga Indonesia di Qatar boleh berbangga hati kepada warga negara-negara ASEAN. Sebuah pagelaran pentas seni budaya bangsa ASEAN digelar di Katara, Doha.  Acara yang diberi nama ASEAN Gala Dinner diadakan pertama kali pada 14 Juni 2012 di Qatar yang diselenggarakan oleh Malaysia. Acara serupa diadakan setiap tahun namun biasanya sebatas acara makan malam. Negara penyelenggaranya pun bergiliran.

Peragaan Pakaian Adat

Peragaan Pakaian Adat

Peserta Pakaian Adat Indonesia

Peserta Pakaian Adat Indonesia

Acara tahun ini selain makan malam setiap negara juga menampilkan pakaian nasional dan tarian khas negara masing-masing.  Sebagai  penampilan pertama acara tersebut adalah Fashion Show pakaian nasional negara masing-masing. Indonesia menampilkan beberapa pakaian daerah di antaranya pakaian Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Boleh dibilang Indonesia paling banyak menampilkan pakaian nasional karena keragaman suku bangsa kita beragam pula pakaiannya. Pakaian-pakaian tersebut ditampilkan oleh anak-anak Indonesia yang tinggal di Qatar. Termasuk dua anak remaja saya mengenakan pakaian daerah Nusa Tenggara Timur.

20 orang ibu memainkan angklung

20 orang ibu memainkan angklung

Setelah Fashion Show dilanjutkan dengan tarian daerah modern yang diberi judul Merah Putih karena pakaian penarinya menggunakan atasan merah dan bawahan putih. Para penonton dibuat terpukau dengan gerakan tarian ini yang kelihatan cantik dengan model baju seperti bersayap. Setelah itu penonton dibuai lagi dengan penampilan ibu-ibu yang memainkan alat musik tradisional angklung  alat musik yang terbuat dari bambu. Mereka berjumlah 20 ibu-ibu menyanyikan lagu Yamko Rambe dan Cublak-cublak Suwang. Istri duta besar, ibu Endang, turut serta dalam penampilan ini.

Akhirnya penampilan terakhir dari Indonesia adalah tari Saman yang dibawakan oleh anak-anak Indonesia yang tinggal bersama orang tua mereka di salah satu daerah di Qatar bernama Al Khor. Sebagian besar warga Indonesia di Al Khor berasal dari Aceh atau Sumatera. Tarian sangat memukau  hingga  diberi  applause yang sangat meriah dari para penonton. Bagaimana tidak karena tarian ini membutuhkan kecepatan dalam kesamaan gerak.

Penari Saman bersama Bapak Dubes dan istri

Penari Saman bersama Bapak Dubes dan istri

Dibandingkan dengan penampilan negara-negara lain memang kelihatan warga Indonesia paling siap dan  menarik dibandingkan negara lain. Bukannya gede rasa, selang beberapa hari setelah acara ASEAN Gala Dinner saya bertemu dengan teman-teman  asal Malaysia yang menyampaikan kekaguman mereka pada penampilan warga Indonesia dalam acara tersebut. Hmm  rasa nasionalisme saya makinbertambah  justru jauh dari tanah air.

Catatan dari tanah gurun….

ARISAN BUKAN LAGI AJANG SILATURAHMI

Standard

Entah sejak kapan kegiatan ini bermula tapi yang saya ingat sejak saya masih di bangku sekolah dasar ibu saya sudah sibuk dengan berbagai macam arisan. Dari mulai arisan RT (Rukun Tetangga) di lingkungan tempat tinggal kami hingga arisan berbentuk barang. Umumnya barang-barang keperluan dapur yang sedang trend misalnya satu set alat memasak yang terdiri dari beberapa panci dengan beberapa  ukuran juga berbagai macam fungsi. Entah apa saja fungsinya saya nggak  begitu peduli, lah kan masih anak-anak.

Kegiatan ini sangat dekat dengan saya karena kebetulan ibu saya pernah menjadi salah seorang pengurus RUKI (Rukun Ibu) di lingkungan  RT. Bersama adik saya sering diberi tugas mengantar undangan arisan ke warga RT tiap awal bulan.

Untuk arisan barang perkakas  dapur boleh dibilang ibu saya adalah bandarnya.  Artinya ibu yang membeli  barang tersebut lalu menerima uang dari para anggota arisan. Dulu saya sering menemani ibu ke Pasar Senen membeli perkakas dapur untuk arisan barang tersebut. Umumnya para anggota arisan ibu saya adalah orangtua teman sekolah saya atau tetangga.

Seperti arisan uang pada umumnya maka nama tiap anggota masing-masing  ditulis dalam secarik kertas kecil. Tiap carik kertas  digulung  lalu dimasukkan ke dalam kaleng atau gelas tertutup yang bagian atasnya diberi lubang agar salah satu gulungan kertas tersebut bisa keluar.  Nama yang tertera dalam kertas yang keluar itu adalah penerima  uang atau barang arisan. Biasanya dikerjakan setiap bulan bahkan ada yang tiap pekan untuk mengeluarkan nama dalam gulungan kertas tersebut. Biasa disebut mengocok arisan. Nama yang keluar pun jumlahnya beragam dalam satu kali perjumpaan arisan bisa satu bahkan sampai lima sekaligus. Tergantung kesepakatan semua anggota dan jumlah uang yang ditentukan. Setiap anggota arisan menyetor jumlah uang yang sama untuk kemudian masing-masing akan mendapatkan jumlah yang sama atau barang yang sama tiap kali namanya keluar dari gelas arisan.

Untuk arisan barang kini lebih beragam variasinya, selain perkakas dapur, kebutuhan elektronik seperti ponsel, laptop, televisi, lemari pendingin hingga barang mewah seperti berlian. Siapa yang tidak tergiur….

Sampai kini saya berkeluarga pun kegiatan arisan tetap berlangsung di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya ibu-ibu bahkan menular di kalangan kaum Adam. Masih ingat kan film Arisan!.

Sempat diskusi dengan ibu saya “Kenapa sih Ma, uang arisan itu  nggak  kita simpan saja setiap bulan?  Toh  sama saja pada akhir masanya kita akan pegang sejumlah yang kita dapat di arisan.”

“Kan yang penting silaturahmi antar warganya”  jawab ibu saya ringan. Ahaa ini dia jawaban yang selalu saya dapat bahwa arisan sebagai ajang silaturahmi dengan teman dan keluarga.

“Jadi yang penting bukan arisannya? Kenapa nggak dibuat pertemuan tiap bulan tanpa mengumpulkan uang. Tujuannya murni silaturahmi. Nggak ada embel-embel datang karena uang. Seperti pengajian kan murni mendengarkan tausiah.”

“Yaaa, kan beberapa orang ada juga yang perlu  fresh money  daripada pinjam ke rentenir arisan tidak berbunga.”

“Ooh jadi masih perlu toh  tujuan uangnya. Enak dong  yang pertama kali namanya keluar tapi toh tetap saja dia harus membayar kembali uang yang didapat. Sama saja dengan mencicil.”

“Yaa hitung-hitung bantu teman yang perlu uang.”

“Yang dapat terakhir nggak enak dong sama dengan ‘menitip’ uang pada teman lalu di akhir masa ia mendapatkan kembali uang yang dititipnya”.

“Yaa yang terakhir harus rela, ikhlas. Malah biasanya beberapa anggota mau dapat yang terakhir jadi sama dengan menabung.”

“Laah kalau nabung juga ya kenapa tidak di Bank atau Koperasi Simpan Pinjam.”

“Lagipula  Mama jadi menyiapkan konsumsi kalau kebetulan nama Mama yang keluar. Naah uang arisan jadi harus disisihkan untuk membeli konsumsi.”

“Ada uang khusus koq untuk konsumsi.”

“Tertutup nggak jumlah yang dibelanjakan dengan uang yang didapat.”

Enggak  juga sih tapi kalau Mama seneng sediain makan untuk tamu. Mereka jadi  nyicipin  masakan Mama.”

Hmm jadi sebetulnya yang penting kumpul sekaligus membantu yang ‘perlu’  fresh money. Pantas saja saya pernah mendengar seorang teman yang ikut sebuah arisan, berhubung namanya sudah keluar, ia tak mau hadir lagi di pertemuan arisan berikutnya tapi hanya menitipkan uang arisan pada anggota lain,  “Nggak  perlu datang  ah  kan nama gue udah  keluar.”  Alasan arisan sebagai ajang silaturahmi sudah hilang dengan kasus ini. Masih untung mau memberi uang arisan berikutnya. Nah kalau tidak?

Pernah juga saya tanyakan pada ibu saya, “Ma, ada  nggak  anggota arisan yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Maksudnya belum selesai masa arisan tapi ia tidak membayar lagi”.

“Waah kalau itu sih banyak.”

“Laah?!!! Rugi  dong  anggota yang lain. Alasannya apa  koq  tiba-tiba berhenti?”

“Yaa  macem-macem  deh uangnya perlu  dipake  untuk keperluan lain. Padahal ibu itu sudah keluar namanya. Nagihnya susah banget.  Jadi yang terakhir namanya keluar, uangnya kurang”.

Piknik di taman dengan teman-teman

Piknik di taman dengan teman-teman

Jauh-jauh tinggal di luar negeri ternyata kegiatan arisan seperti candu bagi komunitas warga Indonesia. Mulai dari arisan ibu-ibu saja atau arisan dengan keluarga yang artinya suami, istri dan anak-anak bisa ikut hadir. Suatu kali saya dibujuk-bujuk ikut arisan oleh seorang  ibu – sebut saja ibu Ayu –  yang kebetulan suaminya satu perusahaan dengan tempat suami saya bekerja.  “Moso’  mbak Na nggak kumpul dengan teman-teman satu perusahaan. Kita tinggal di luar negeri  kalau ada apa-apa yang  nolongin  kita siapa?  Moso’ teman-teman perusahaan lain yang  nolongin?”

Wakkss  moso’ mau nolongin teman harus lihat suaminya satu perusahaan atau tidak. Saya tidak pernah ‘pandang bulu’kalau mau tolong teman tidak juga pandang suku, agama, dan bangsa. Saya seringkali buat pertemuan dengan teman-teman yang suaminya satu perusahaan dengan suami saya, misal dengan piknik di taman kota, ke pantai, atau gurun pasir saat musim dingin, pengajian rutin bulanan, bahkan open house saat  Hari Raya tiap tahun saya adakan di apartemen kecil saya. Tidak pandang posisinya apa pokoknya semuanya welcome datang tanpa tujuan uang sedikit pun.

Kalau ada teman melahirkan atau opname di Rumah Sakit saya usahakan menjenguk secepat mungkin. Saya bisa bayangkan betapa sedihnya sendirian di Rumah Sakit tanpa sanak saudara di negeri orang. Seorang teman single tidak ada sanak saudaranya di negeri ini terpaksa dirawat di rumah sakit. Ia terkejut saat saya menjenguknya, “Mbak Na, seneng banget dijenguk plus dibawain arem-arem hangat pula.” Sementara belum satupun anggota arisan ibu-ibu datang menjenguknya.

Pernah dengar dari teman yang ikut suatu kelompok arisan bahwa ada  seorang ibu – sebut saja ibu Ismi – tidak membayar uang arisan bulan terakhir. Sementara namanya sudah keluar di awal arisan. Parahnya lagi ia dititipi uang arisan oleh teman saya karena tidak bisa hadir eeh tidak disetorkan pula. Untuk menemuinya jadi susah tiba-tiba terdengar kabar ia sudah pindah ke tanah air.  Gubraaakkkk…. beneran tepok jidat kali ini. Sudah banyak kejadian seperti ini tapi kok ya nggak kapok-kapok  para ibu ikut arisan.

“Sudah kejadian begitu kok lo tetep ya masih ikut arisan sana-sini.”

“Yaa sekarang sih hati-hati Mbak Na, bener-bener harus pilih teman yang bisa dipercaya komitmen pada arisan”, jawab teman saya yang addict dengan arisan.

Hmm, ternyata dibutuhkan komitmen untuk sebuah arisan. Kalau begini kejadiannya alasan silaturahmi  sudah hilang sama sekali. Alasan arisan untuk mendapatkan fresh money bisa dijadikan ’kesempatan’ bagi orang yang tidak bertanggung jawab.

Dari alasan silaturahmi,  fresh money bergeser lagi menjadi arisan trendy yang mulai marak saat ini. Saya sebut trendy artinya arisan dengan tema baju ditentukan oleh pemenang arisan sebagai dress code  misalnya ‘arisan in blue’. Semua peserta arisan harus berpakaian nuansa biru. Sekali waktu jumpa dengan seorang teman di pusat pertokoan serba ada berujar, “Capek nih keliling mall cari baju tema loreng-loreng macan belum nemu juga.”

“Oh untuk acara sekolah anakmu ya?”

“Bukan mbak Na, untuk arisan 2 hari lagi temanya baju loreng macan padahal aku nggak punya baju motif begituan.”

Oh My God tambah satu poin lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk arisan selain konsumsi harus ada juga untuk pakaian. Analisa saya pribadi arisan macam ini untuk status sosial seorang perempuan, saat arisan berlangsung akan kelihatan bajunya bernada sama biasanya pula diadakan di sebuah resto. Saat arisan akan foto bersama untuk kemudian tayang di situs jejaring sosial, woow kereen.

Pernah pada beberapa kesempatan saya tanyakan pada ustaz mengenai hukum arisan. Semua ustaz yang saya tanyakan menyatakan arisan itu halal tapi yang perlu dihindarkan pada saat pertemuannya. Tau dong kalau ibu-ibu sudah kumpul ngobrol ngalur-ngidul sampai akhirnya bergosip. Macam-macam saja yang dibicarakan, anaknya siapalah, suaminya siapalah, sampai keretakan rumah tangga artis yang tidak kita kenal sama sekali. Itu yang perlu dihindarkan.

Semaksimal mungkin saya kurangi pertemuan seperti itu alih-alih ajang silaturahmi tapi yang ada ngomongin hal-hal nggak penting buat saya. Lebih baik saya gunakan waktu untuk menulis artikel-artikel bermanfaat. Untuk menjaga silaturahmi saya pilih kegiatan pengajian rutin tiap pekan. Hadir tepat waktu mendengarkan tausiah setelah selesai bersiap menjemput anak-anak di sekolah.

Pengajian rutin

Pengajian rutin

Kelompok Ibu-ibu kreatif

Kelompok Ibu-ibu kreatif juga wadah untuk silaturahmi

Cooking class kegiatan yang paling saya suka untuk kesempatan bertemu dengan teman-teman se tanah air sambil belajar masak. Saya minta ibu-ibu yang mahir memasak sebagai pengajar lalu saya ajak 5 – 7 orang teman sebagai siswanya. Semua bahan dasar memasak kami tanggung bersama biayanya. Acaranya dibuat santai tidak kaku. Selesai acara kami pun membawa hasil kerja yang bisa dinikmati dengan keluarga di rumah. Jadi satu menu baru lagi akan terhidang di meja makan saya.

Kegiatan seni kelompok ibu-ibu juga bisa jadi pilihan ajang silaturahmi sambil melestarikan budaya bangsa. Kelompok angklung atau tari daerah selain menjadi wadah sosial juga memupuk kecintaan pada tanah air walau kita jauh tinggal di negeri orang. Bila ada kesempatan show  pada bangsa lain bisa jadi kebanggaan tersendiri. Menjadikan bangsa Indonesia  tak dianggap sebelah mata.

KBRI  tempat saya tinggal saat ini mengadakan arisan rutin tiap bulan. Selama hampir 8 tahun tinggal di negara ini saya belum pernah bergabung arisan tersebut kecuali  bila diisi dengan demo memasak, demo rias wajah, dekor hidangan meja makan apalagi bila ada presentasi kesehatan. Pernah seorang chef asal Indonesia yang bekerja di sebuah hotel di Doha mendemonstrasikan cara mengukir buah, seorang ibu cantik warga Indonesia mencontohkan cara menata meja makan untuk hari-hari istimewa, seorang ibu muda yang berprofesi dokter gigi di tanah air menyampaikan tips merawat gigi pada balita, seorang dokter Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan minyak memberikan tips pada ibu-ibu untuk persiapan menopause.

Ternyata tidak hanya saya yang bukan anggota arisan KBRI hadir dalam kegiatan itu ada juga beberapa ibu lain yang ingin memetik ilmu dari pertemuan tersebut. Kami hanya membayar uang konsumsi untuk pertemuan saat itu. Silaturahmi terpenuhi ilmu manfaat kami dapat. Arisan plus plus..

Masjid Dalam 15 Kilometer

Standard

Sebuah rutinitas akan berjalan begitu saja bila kita tidak perhatikan keadaan sekitar. Bahkan bisa jadi membosankan hingga kita tidak mau melakukannya lagi. Rutinitas apa saja, perjalanan rumah ke kantor, dari rumah ke sekolah, pekerjaan di kantor, bahkan pekerjaan rumah tangga.  Setiap kita pasti punya rutinitas masing-masing. Rutinitas saya hampir sama dengan setiap ibu lainnya,  pagi hari mengantar anak ke sekolah lalu mengikuti kelas kebugaran. Tanpa terasa kegiatan tersebut berlangsung sejak 4 tahun lalu hampir setiap hari.

 

Tiba di sekolah sebelum pukul 7 langsung menuju pusat kebugaan Aspire  berjarak kurang lebih 15 kilometer dari sekolah yang saya tempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam. Tanpa saya sadari dalam perjalanan itu melewati beberapa masjid hingga tiba di Aspire. Masjid  pertama yang  saya lalui tepat di samping sekolah anak-anak saya. Sebuah masjid kecil di sudut jalan raya (gambar 1). Masjid tempat saya biasa menunggu anak-anak bila ada kegiatan ekstra kurikuler setelah pulang sekolah. Sampai saat ini saya tidak tahu nama masjid tersebut karena tidak saya temukan satu pun nama di dinding atau di pintu masjid.

 

Setelah melalui Rainbow R/A ke arah Al Istiqlal Rd saya melewati masjid  Sheikh Muhammad Ibn Al Wahhab Mosque di sisi kanan jalan (gambar 2). Masjid  yang baru diresmikan tahun lalu sebagai masjid nasional, masjid terbesar di Qatar.

 

Dari Al Istiqlal Rd saya kendarai mobil ke Sport R/A belok kanan ke arah Mesila menaiki  fly over hingga Palace R/A belok ke kiri. Seratus  meter dari Palace R/A di sisi kiri jalan ada sebuah masjid (gambar 3).  Kemudian  200 meter dari masjid tersebut di sisi kanan jalan saya melihat sebuah atap kubah di dalam sebuah rumah megah (gambar 4). Saya tidak tahu persis bangunan tersebut masjid atau sebuah majlis (pendopo).

 

Setelah melewati rumah megah tersebut saya menyusuri jalan pintas untuk menghindari lampu lalu lintas. Sebuah masjid saya lewati lagi di sisi kanan jalan. Sebuah masjid tua yang warna cat nya mulai usang (gambar 5).

 

Masjid terakhir yang saya lewati sebelum tiba di Aspire ada 2 masjid yang letaknya saling berhadapan. Masjid di sisi kanan jalan terletak di halaman rumah mewah sedangkan masjid di sisi kiri jalan terletak di dalam komplek perumahan (gambar 6). Dari jauh mata saya memandang 2 menara masjid berhadapan disinari matahari pagi.

Subhanallah…

 

Coba perhatikan kegiatan rutin kalian, adakah yang spesial diantaranya?

 

 Keterangan: R/A roundabout: bundaran lalu lintas

Pasien Kecilku di Rumah

Standard

Saat pergantian musim seperti sekarang ini sangat rentan dengan mewabahnya berbagai macam penyakit. Baik itu flu atau batuk. Tidak pandang usia menyerang dewasa atau anak-anak. Bila kondisi fisik kita menurun sangat mudah terserang penyakit. Minggu lalu badai pasir sempat menyerang kota kami, si bungsu Mishaal langsung terkena batuk dan flu. Batuk hanya sehari selesai tapi flu terus hingga 5 hari. Akhir pekan karena terlalu banyak kegiatan akhirnya suhu badannya meninggi. Keesokan harinya suhu badan langsung menurun diikuti bintik-bintik merah seluruh badan. Setelah mengunjungi dokter dinyatakan positif terkena cacar air.

Langkah pertama langsung isolasi dari kedua kakaknya.  Lanjut googling   informasi  do and don’t  terhadap penyakit menular ini. Saya komunikasikan dengan Mishaal bahwa penyakit ini menular jadi tidak boleh mendekati bahkan masuk  kamar kedua kakaknya. Itu sebabnya tidak boleh masuk sekolah hingga 2 minggu mendatang. Tidak boleh pula menggaruk luka berair di tubuhnya karena menyebabkan bekas berlubang di kulit seumur hidup.

Alhasil kontak langsung hanya dengan saya sebagai ibunya yang mengurusi makan, obat dan penanganan luka cacarnya. Keesokan harinya, hari ke-2, ia bangun agak siang setelah saya pulang mengantar kedua kakaknya ke sekolah. Wajahnya kelihatan agak sedih tetapi langsung gembira saat melihat saya tiba di rumah.

“Bu, Kakak dan Abang kemana?”, tanyanya.

“Sudah berangkat sekolah”, jawab saya.

“Kalau bapak kemana?”, tanyanya lagi.

“Berangkat terbang tadi subuh saat Mishaal masih tidur”, jawab saya lagi.

“Memangnya kenapa?  Tadi subuh bapak ke kamar Mishaal koq tapi sengaja nggak bangunin  supaya Mishaal cukup istirahat”, jawaban untuk menenangkan dirinya.

“Kakak dan Abang lihat Bapak berangkat?“.

“Iya lihat”.

“Aku dicium Bapak nggak?” tanyanya sambil senyum-senyum.  

Aaah, hati saya trenyuh tetapi dengan senyum pula saya jawab,

“Bapak  nggak cium Mishaal seperti biasa supaya  tidak tertular. Nanti kalau sudah sembuh pasti dicium lagi. Nah kalau Bapak sakit nanti  nggak  bisa kerja”.

“Hmmm”,  wajahnya tersenyum lega dengan jawaban saya.

Saya tambahkan lagi, “Walau nggak  cium Mishaal, Bapak tetap sayang koq ke Mishaal. Usai sholat tadi didoakan supaya cepat sembuh, nggak rewel, nggak gatal-gatal. Mishaal juga banyak-banyak berdoa ya saat sakit seperti ini. InshaAllah mudah dikabulkan doa-doa orang yang sakit”.

Masih dengan wajah senyum ingin tahu, “Bu, kenapa Ibu mau dekat-dekat aku?”.

Pertanyaan kali ini lebih mengharukan buat saya.

Sambil mengolesi obat ke luka cacarnya, saya jawab, “Laaah kalau Ibu nggak  mau dekat Mishaal siapa yang mengolesi  salep ke seluruh badanmu? Siapa yang bawakan makanan ke kamar? Mishaal mau mandi sendiri kalau seluruh badan seperti ini? Atau mau si bibik Srilanka kita yang ngurusi  Mishaal?”.

Pertanyaan singkatnya saya balas balik dengan rentetan pertanyaan. Ia menjawab hanya dengan gelengan kepala.

Isi kepala saya masih penuh dengan penjelasan tambahan, “Lagipula semua ibu pasti melakukan ini ke semua anaknya. Ibu yang bekerja di kantor langsung minta ijin ke bos nya supaya bisa di rumah ngurusi   anaknya yang sakit”. Selesai jawaban saya bersamaan dengan selesai mengolesi salep ke seluruh badannya.

Masha Allah, langsung hilang rasa lelah, padahal tadinya badan saya mulai terasa gatal-gatal juga, kali ini sih sugesti :))

Puas rasanya bisa mengurus sendiri anak yang sedang sakit.

“Setelah makan Mishaal lanjutkan baca buku ya”, saran saya untuk mengisi waktunya di rumah.

“Tapi aku mau main monopoli”, jawabnya santai.

“Oke deh main sendiri ya”, jawab saya santai juga.

“Mana bisa Bu monopoli main sendirian”, jawabnya sedih.

Waduh benar juga. Saya coba nego,” Tapi coba saja main sendiri, Mishaal bisa jadi 3 orang termasuk bankir ”.

“Ya susah Bu, aku main dengan siapa lagi kalau bukan dengan ibu. Yang lain nggak   ada yang mau dekat aku”, air matanya mulai menetes.

 

Haddeeuuhh, ibu mana yang tega kalau anaknya mulai begini.  Akhirnya tutup mata deh melihat pekerjaan rumah menumpuk di depan mata.

Semoga cepat sembuh ya sayang…..

RUMAH ADALAH SEKOLAH PERTAMA BAGI ANAK

Standard

Suhu hari ini sudah mencapai 40 derajat celcius tapi tak membuat saya lelah bila menatap wajah anak-anak saya usai sekolah. Walaupun setiap hari saya antar dan jemput mereka dari dan ke sekolah. Udara bulan Mei mulai meningkat panas di kota ini pertanda memasuki musim panas. Perjalanan dari dan ke sekolah selalu saya gunakan untuk berbagi cerita dengan anak-anak membuat hati ini terasa sejuk. Topik pembicaraan pekan ini masih berkisar pernikahan The Royal Wedding. Informasi banyak sekali saya dapatkan dari anak saya mengenai pernikahan tersebut. Tak lupa saya selipkan pesan bahwa makna pernikahan lebih dari sebuah pesta megah. Contoh yang nyata seperti pernikahan orang tua Pangeran William yang berakhir tragis.

Selalu juga saya tanyakan apa yang mereka pelajari hari ini di kelas. Meski lelah usai sekolah mereka akan bercerita apa yang mereka dapat hari ini. Terakhir akan saya tanyakan apakah bekal sekolah mereka habis hari ini. Pertanyaan yang amat saya tunggu dari mereka akhirnyapun akan keluar,  “Ibu Masak apa hari ini?”.

Anak bungsu saya, Mishaal, yang belum genap berusia 6 tahun bercerita bahwa tadi dia diminta gurunya, Miss Ramsey, ke stock room -tempat menyimpan alat-alat pendukung belajar mengajar seperti spidol, kertas dan lain sebagainya-  mengambil beberapa alat keperluan untuk kelasnya. Menurutnya selalu  dia dan seorang temannya, Mimi, yang diminta ke stock room.

“Kenapa sih bu, aku terus yang disuruh ke stock room ? Aku lagi… aku lagi”, tanyanya dengan heran.

Saya jelaskan itu pertanda dia dipercaya mampu menjalankan tugas tersebut. Ruangan stock room terpisah dengan bangunan  kelasnya.  Belum tentu semua anak bisa mengerjakan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Saya sampaikan pula bahwa abangnya, Jihad, ketika masih sekolah dasar juga selalu mendapat kepercayaan tugas tersebut dari gurunya.

Malam hari usai makan malam di rumah  anak-anak mengerjakan tugas sekolah di ruang belajar kami. Saya dampingi Mishaal menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara pelajaran untuk kedua anak remaja saya yang usia sekolah lanjut dengan bantuan internet dan buku-buku sekolah. Semua jadi mudah terselesaikan. Saya hanya mengingatkan agar tidak menjelajah kemana-mana di internet. Berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas agar lebih cepat tidur. Tidur yang cukup akan membuat mereka fresh  di sekolah.

Keesokan paginya sambil menyiapkan sarapan dan bekal untuk sekolah lagi-lagi saya ingatkan anak-anak agar tidak lupa membawa semua perlengkapan sekolah agar tidak ada yang tertinggal di ruang belajar. Saat mengantar anak-anak sekolah tak henti-hentinya mulut ini ‘berkicau’ agar mereka memperhatikan guru, lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tambahan lagi pesan saat break time agar selesaikan lebih dulu bekal sekolah mereka lalu bermain dengan teman. Nyaris begitu setiap hari. Saya pun yakin setiap ibu melakukan hal yang sama seperti saya ingin anak-anaknya siap menimba ilmu di sekolah.

Teringat pada siswa-siswi saya saat masih mengajar di sekolah swasta di kawasan Tangerang,  they were really wonderful. Siswa-siswi saya telah hadir di kelas dengan persiapan yang matang. Lebih-lebih  anak-anak yang berprestasi bagi saya mereka adalah hasil didikan orangtua mereka dengan dukungan  segala macam fasilitas yang mereka miliki. Sementara saya sebagai gurunya kadang belum siap betul untuk memberi materi dengan segala alasan tetek bengek harurusan rumah tangga.

Pernah suatu kali saat memasuki ruang kelas untuk mengajar saya lupa membawa buku catatan saya. Seorang siswi menawarkan mengambilkannya untuk saya dari ruang guru sebelum saya pinta. Orang tuanya lah yang membuat siswi tersebut peka, siap membantu, tidak hanya kepada guru saya yakin demikian juga kepada orang lain.

Peran orangtua mereka terhadap prestasi mereka lebih besar ketimbang saya sebagai gurunya. Bahwa mereka adalah anak-anak yang menghargai  guru-guru mereka adalah hasil didikan orang tua mereka. Bahwa mereka adalah anak-anak yang berprestasi juga hasil dorongan semangat orangtua mereka. Mereka masih memiliki sopan santun atau tidak adalah hasil ajaran orangtua mereka.  Mereka mengerjakan atau tidak tugas-tugas dari sekolah adalah atas pantauan orang tua mereka.

Yang mengambil peran sangat besar dalam hal ini adalah ibu mereka. Akan sangat berbeda hasilnya bila ibu mereka tidak peduli, cuek  dengan pendidikan mereka apalagi akhlak mereka. Walau ibu mereka bekerja di luar rumah tetap saja peranannya sangat besar terhadap mereka. Apalagi bila ibu mereka di rumah sepatutnyalah yang sangat memperhatikan akhlak dan perkembangan perilaku mereka. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama mereka.

Guru mereka bisa berganti-ganti sejak TK hingga mereka kuliah tetapi apakah mereka bisa berganti-ganti orang tua? Itu sebabnya bila saat pertemuan orang tua murid, kami para guru akan saling berkomentar,

“Pantas anaknya pintar dan sopan ternyata ibunya juga seperti itu, ramah”.

Kami para guru pun tidak akan heran kalau mendapat komplain dari seorang ibu tentang anaknya yang kerap kali membolos, ujian mendapat nilai di bawah rata-rata, mengajinya terbata-bata, hapalan Qurannya ah-eh-ah-uh,  ujung-ujungnya yang disalahkan adalah pihak sekolah atau guru bidang studi bersangkutan tidak kompeten, nggak becus, tidak bisa mengatur siswa-siswinya. Kami pun hanya mesem-mesem saja,

“Hmm, pantas anaknya begitu”, nggak jadi deh diskusi mencari ujung permasalahan kenapa  anak mereka seperti itu.

Alhamdulillaah pada suatu kesempatan  menghadiri parents meeting  anak saya yang masih duduk di primary  berjumpa dengan guru Al-Quran sekaligus Bahasa Arab yang berujar saat menutup pertemuan dengan saya,

“I am sure that your son comes from a good background education. He could answer and explain about the lesson that I teach in class”. Wow melayang…

Pola asuh ibu mempengaruhi sikap perilaku anak sehari-hari terhadap teman, guru, pembantu di rumah, bahkan masyarakat sekitar. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri; jika dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri; jika dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan arti hidup dalam kehidupan.

Bila ibunya selalu menyalahkan orang lain bagaimana dengan anaknya? Bila ibunya selalu introspeksi diri begitu pula dengan anaknya tanpa menafikan peran ayah dalam mendidik anak.

Catatan Hardiknas