Monthly Archives: November 2009

TUKANG PIJAT

Standard

oleh Nana Fadjar

Akhirnya hari ini badanku ringsek juga setelah kemarin menerima tamu sejak usai salat Ied hingga menjelang Isya’. Termometer menunjuk angka 37.5 C atas suhu badanku hari ini. Memang terasa demam sejak kemarin tapi semangat menjamu tamu tak boleh luntur. Sebetulnya sudah minum obat penurun panas tapi tulang-tulang masih terasa remuk dan nyeri. Sudah kebiasaanku sejak lama kalau sakit begini pasti dipijat maka keluar keringat dingin dilanjuti tidur nyenyak alhasil setelahnya langsung berenergi. Tapi mau pijat di negeri orang ini, hmmm, harus pikir-pikir dan agak sedikit berusaha. Pikir-pikir untuk mengeluarkan uangnya dan berusaha untuk mendapatkan tukang pijatnya.

Sebetulnya ada sih tukang pijat langganan yang bisa dipanggil ke rumah. Mak Atun wanita paruh baya asal Madura, yang memang bekerja di panti pijat bisa dipanggil ke rumah hanya pada hari liburnya di akhir pekan. Sayangnya, dia sedang mudik ke tanah air. Kalaupun dia tidak mudik, duh, harus menunggu sampai pekan depan. Jangan tanya upahnya, kalau mengikuti kurs hari ini kurang lebih $ 25, belum termasuk ongkos taksinya $ 5. Itupun kurang dari 1 jam dia sudah menyelesaikan pijatannya karena sudah banyak yang memanggilnya juga. Kadang aku harus menunggu pekan berikutnya karena katanya sudah penuh.

Jangan bandingkan dengan upah tukang pijat di tanah air, bisa sakit hati deh. Bayangkan hanya dengan $ 5 saja, Mbok Tun, tukang pijat langgananku sudah bisa hadir ke rumah dalam waktu kurang dari 1 jam setelah kutelpon. Pijatannya akan selesai dalam 2 jam saat aku sudah tertidur sambil mengorok. Dia akan membangunkanku bila ojek jemputannya sudah memanggil di depan rumahku. Badanku terasa bugar lalu bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala.

Tak mau membiarkan badanku nyeri berkepanjangan, akhirnya hari ini kuputuskan pergi ke panti pijat ala Thai Massage yang kebetulan dekat dengan rumahku. Selama 5 tahun tinggal di negeri orang ini adalah kedatanganku yang ke dua kalinya ke tempat ini. Pertama kali, 4 tahun silam ketika sedang hamil 5 bulan, kala itu urat leherku seperti terpelintir akibat harus sering menengok ke belakang dalam rangka mengikuti kursus mengemudi. Setelah 1 jam dipijat sakit leherku hilang.

Begitu pula kedatangan kali ini, Alhamdulillah, usai 1 jam dipijat hilang sudah nyeri tulang yang kurasa seharian di badanku. Walau harus menyetir ke tempat ini dan agak sulit juga mendapatkan parkir. Upah yang kubayar $ 30/60 menit, 5 kali lipat dari upah Mbok Tun….

Kalau mau dipikir-pikir wajar saja tarif itu, lah wong pekerjanya saja di impor dari negara asalnya. Pemilik panti pijat harus menyediakan akomodasi, makan sehari-hari bahkan tiket pesawat pulang pergi ke kampung halaman setiap 2 tahun untuk para pekerjanya. Berbeda halnya dengan Mbok Tun, wanita kelahiran kota Lampung yang tinggal di ibu kota bersama suaminya. Dia tidak perlu mengeluarkan biaya akomodasi karena suaminya mungkin menanggung biaya rumah. Makan sehari-hari tentunya terpenuhi dari upahnya memijat para konsumennya yang tersebar di seantero Tangerang dan sekitarnya. Kalau dia mau mudik toh hanya mengeluarkan ongkos bis yang hanya sepersekian ongkos pesawat.

28 Nopember 2009, Doha.

Advertisements