Monthly Archives: June 2012

ARISAN BUKAN LAGI AJANG SILATURAHMI

Standard

Entah sejak kapan kegiatan ini bermula tapi yang saya ingat sejak saya masih di bangku sekolah dasar ibu saya sudah sibuk dengan berbagai macam arisan. Dari mulai arisan RT (Rukun Tetangga) di lingkungan tempat tinggal kami hingga arisan berbentuk barang. Umumnya barang-barang keperluan dapur yang sedang trend misalnya satu set alat memasak yang terdiri dari beberapa panci dengan beberapa  ukuran juga berbagai macam fungsi. Entah apa saja fungsinya saya nggak  begitu peduli, lah kan masih anak-anak.

Kegiatan ini sangat dekat dengan saya karena kebetulan ibu saya pernah menjadi salah seorang pengurus RUKI (Rukun Ibu) di lingkungan  RT. Bersama adik saya sering diberi tugas mengantar undangan arisan ke warga RT tiap awal bulan.

Untuk arisan barang perkakas  dapur boleh dibilang ibu saya adalah bandarnya.  Artinya ibu yang membeli  barang tersebut lalu menerima uang dari para anggota arisan. Dulu saya sering menemani ibu ke Pasar Senen membeli perkakas dapur untuk arisan barang tersebut. Umumnya para anggota arisan ibu saya adalah orangtua teman sekolah saya atau tetangga.

Seperti arisan uang pada umumnya maka nama tiap anggota masing-masing  ditulis dalam secarik kertas kecil. Tiap carik kertas  digulung  lalu dimasukkan ke dalam kaleng atau gelas tertutup yang bagian atasnya diberi lubang agar salah satu gulungan kertas tersebut bisa keluar.  Nama yang tertera dalam kertas yang keluar itu adalah penerima  uang atau barang arisan. Biasanya dikerjakan setiap bulan bahkan ada yang tiap pekan untuk mengeluarkan nama dalam gulungan kertas tersebut. Biasa disebut mengocok arisan. Nama yang keluar pun jumlahnya beragam dalam satu kali perjumpaan arisan bisa satu bahkan sampai lima sekaligus. Tergantung kesepakatan semua anggota dan jumlah uang yang ditentukan. Setiap anggota arisan menyetor jumlah uang yang sama untuk kemudian masing-masing akan mendapatkan jumlah yang sama atau barang yang sama tiap kali namanya keluar dari gelas arisan.

Untuk arisan barang kini lebih beragam variasinya, selain perkakas dapur, kebutuhan elektronik seperti ponsel, laptop, televisi, lemari pendingin hingga barang mewah seperti berlian. Siapa yang tidak tergiur….

Sampai kini saya berkeluarga pun kegiatan arisan tetap berlangsung di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya ibu-ibu bahkan menular di kalangan kaum Adam. Masih ingat kan film Arisan!.

Sempat diskusi dengan ibu saya “Kenapa sih Ma, uang arisan itu  nggak  kita simpan saja setiap bulan?  Toh  sama saja pada akhir masanya kita akan pegang sejumlah yang kita dapat di arisan.”

“Kan yang penting silaturahmi antar warganya”  jawab ibu saya ringan. Ahaa ini dia jawaban yang selalu saya dapat bahwa arisan sebagai ajang silaturahmi dengan teman dan keluarga.

“Jadi yang penting bukan arisannya? Kenapa nggak dibuat pertemuan tiap bulan tanpa mengumpulkan uang. Tujuannya murni silaturahmi. Nggak ada embel-embel datang karena uang. Seperti pengajian kan murni mendengarkan tausiah.”

“Yaaa, kan beberapa orang ada juga yang perlu  fresh money  daripada pinjam ke rentenir arisan tidak berbunga.”

“Ooh jadi masih perlu toh  tujuan uangnya. Enak dong  yang pertama kali namanya keluar tapi toh tetap saja dia harus membayar kembali uang yang didapat. Sama saja dengan mencicil.”

“Yaa hitung-hitung bantu teman yang perlu uang.”

“Yang dapat terakhir nggak enak dong sama dengan ‘menitip’ uang pada teman lalu di akhir masa ia mendapatkan kembali uang yang dititipnya”.

“Yaa yang terakhir harus rela, ikhlas. Malah biasanya beberapa anggota mau dapat yang terakhir jadi sama dengan menabung.”

“Laah kalau nabung juga ya kenapa tidak di Bank atau Koperasi Simpan Pinjam.”

“Lagipula  Mama jadi menyiapkan konsumsi kalau kebetulan nama Mama yang keluar. Naah uang arisan jadi harus disisihkan untuk membeli konsumsi.”

“Ada uang khusus koq untuk konsumsi.”

“Tertutup nggak jumlah yang dibelanjakan dengan uang yang didapat.”

Enggak  juga sih tapi kalau Mama seneng sediain makan untuk tamu. Mereka jadi  nyicipin  masakan Mama.”

Hmm jadi sebetulnya yang penting kumpul sekaligus membantu yang ‘perlu’  fresh money. Pantas saja saya pernah mendengar seorang teman yang ikut sebuah arisan, berhubung namanya sudah keluar, ia tak mau hadir lagi di pertemuan arisan berikutnya tapi hanya menitipkan uang arisan pada anggota lain,  “Nggak  perlu datang  ah  kan nama gue udah  keluar.”  Alasan arisan sebagai ajang silaturahmi sudah hilang dengan kasus ini. Masih untung mau memberi uang arisan berikutnya. Nah kalau tidak?

Pernah juga saya tanyakan pada ibu saya, “Ma, ada  nggak  anggota arisan yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Maksudnya belum selesai masa arisan tapi ia tidak membayar lagi”.

“Waah kalau itu sih banyak.”

“Laah?!!! Rugi  dong  anggota yang lain. Alasannya apa  koq  tiba-tiba berhenti?”

“Yaa  macem-macem  deh uangnya perlu  dipake  untuk keperluan lain. Padahal ibu itu sudah keluar namanya. Nagihnya susah banget.  Jadi yang terakhir namanya keluar, uangnya kurang”.

Piknik di taman dengan teman-teman

Piknik di taman dengan teman-teman

Jauh-jauh tinggal di luar negeri ternyata kegiatan arisan seperti candu bagi komunitas warga Indonesia. Mulai dari arisan ibu-ibu saja atau arisan dengan keluarga yang artinya suami, istri dan anak-anak bisa ikut hadir. Suatu kali saya dibujuk-bujuk ikut arisan oleh seorang  ibu – sebut saja ibu Ayu –  yang kebetulan suaminya satu perusahaan dengan tempat suami saya bekerja.  “Moso’  mbak Na nggak kumpul dengan teman-teman satu perusahaan. Kita tinggal di luar negeri  kalau ada apa-apa yang  nolongin  kita siapa?  Moso’ teman-teman perusahaan lain yang  nolongin?”

Wakkss  moso’ mau nolongin teman harus lihat suaminya satu perusahaan atau tidak. Saya tidak pernah ‘pandang bulu’kalau mau tolong teman tidak juga pandang suku, agama, dan bangsa. Saya seringkali buat pertemuan dengan teman-teman yang suaminya satu perusahaan dengan suami saya, misal dengan piknik di taman kota, ke pantai, atau gurun pasir saat musim dingin, pengajian rutin bulanan, bahkan open house saat  Hari Raya tiap tahun saya adakan di apartemen kecil saya. Tidak pandang posisinya apa pokoknya semuanya welcome datang tanpa tujuan uang sedikit pun.

Kalau ada teman melahirkan atau opname di Rumah Sakit saya usahakan menjenguk secepat mungkin. Saya bisa bayangkan betapa sedihnya sendirian di Rumah Sakit tanpa sanak saudara di negeri orang. Seorang teman single tidak ada sanak saudaranya di negeri ini terpaksa dirawat di rumah sakit. Ia terkejut saat saya menjenguknya, “Mbak Na, seneng banget dijenguk plus dibawain arem-arem hangat pula.” Sementara belum satupun anggota arisan ibu-ibu datang menjenguknya.

Pernah dengar dari teman yang ikut suatu kelompok arisan bahwa ada  seorang ibu – sebut saja ibu Ismi – tidak membayar uang arisan bulan terakhir. Sementara namanya sudah keluar di awal arisan. Parahnya lagi ia dititipi uang arisan oleh teman saya karena tidak bisa hadir eeh tidak disetorkan pula. Untuk menemuinya jadi susah tiba-tiba terdengar kabar ia sudah pindah ke tanah air.  Gubraaakkkk…. beneran tepok jidat kali ini. Sudah banyak kejadian seperti ini tapi kok ya nggak kapok-kapok  para ibu ikut arisan.

“Sudah kejadian begitu kok lo tetep ya masih ikut arisan sana-sini.”

“Yaa sekarang sih hati-hati Mbak Na, bener-bener harus pilih teman yang bisa dipercaya komitmen pada arisan”, jawab teman saya yang addict dengan arisan.

Hmm, ternyata dibutuhkan komitmen untuk sebuah arisan. Kalau begini kejadiannya alasan silaturahmi  sudah hilang sama sekali. Alasan arisan untuk mendapatkan fresh money bisa dijadikan ’kesempatan’ bagi orang yang tidak bertanggung jawab.

Dari alasan silaturahmi,  fresh money bergeser lagi menjadi arisan trendy yang mulai marak saat ini. Saya sebut trendy artinya arisan dengan tema baju ditentukan oleh pemenang arisan sebagai dress code  misalnya ‘arisan in blue’. Semua peserta arisan harus berpakaian nuansa biru. Sekali waktu jumpa dengan seorang teman di pusat pertokoan serba ada berujar, “Capek nih keliling mall cari baju tema loreng-loreng macan belum nemu juga.”

“Oh untuk acara sekolah anakmu ya?”

“Bukan mbak Na, untuk arisan 2 hari lagi temanya baju loreng macan padahal aku nggak punya baju motif begituan.”

Oh My God tambah satu poin lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk arisan selain konsumsi harus ada juga untuk pakaian. Analisa saya pribadi arisan macam ini untuk status sosial seorang perempuan, saat arisan berlangsung akan kelihatan bajunya bernada sama biasanya pula diadakan di sebuah resto. Saat arisan akan foto bersama untuk kemudian tayang di situs jejaring sosial, woow kereen.

Pernah pada beberapa kesempatan saya tanyakan pada ustaz mengenai hukum arisan. Semua ustaz yang saya tanyakan menyatakan arisan itu halal tapi yang perlu dihindarkan pada saat pertemuannya. Tau dong kalau ibu-ibu sudah kumpul ngobrol ngalur-ngidul sampai akhirnya bergosip. Macam-macam saja yang dibicarakan, anaknya siapalah, suaminya siapalah, sampai keretakan rumah tangga artis yang tidak kita kenal sama sekali. Itu yang perlu dihindarkan.

Semaksimal mungkin saya kurangi pertemuan seperti itu alih-alih ajang silaturahmi tapi yang ada ngomongin hal-hal nggak penting buat saya. Lebih baik saya gunakan waktu untuk menulis artikel-artikel bermanfaat. Untuk menjaga silaturahmi saya pilih kegiatan pengajian rutin tiap pekan. Hadir tepat waktu mendengarkan tausiah setelah selesai bersiap menjemput anak-anak di sekolah.

Pengajian rutin

Pengajian rutin

Kelompok Ibu-ibu kreatif

Kelompok Ibu-ibu kreatif juga wadah untuk silaturahmi

Cooking class kegiatan yang paling saya suka untuk kesempatan bertemu dengan teman-teman se tanah air sambil belajar masak. Saya minta ibu-ibu yang mahir memasak sebagai pengajar lalu saya ajak 5 – 7 orang teman sebagai siswanya. Semua bahan dasar memasak kami tanggung bersama biayanya. Acaranya dibuat santai tidak kaku. Selesai acara kami pun membawa hasil kerja yang bisa dinikmati dengan keluarga di rumah. Jadi satu menu baru lagi akan terhidang di meja makan saya.

Kegiatan seni kelompok ibu-ibu juga bisa jadi pilihan ajang silaturahmi sambil melestarikan budaya bangsa. Kelompok angklung atau tari daerah selain menjadi wadah sosial juga memupuk kecintaan pada tanah air walau kita jauh tinggal di negeri orang. Bila ada kesempatan show  pada bangsa lain bisa jadi kebanggaan tersendiri. Menjadikan bangsa Indonesia  tak dianggap sebelah mata.

KBRI  tempat saya tinggal saat ini mengadakan arisan rutin tiap bulan. Selama hampir 8 tahun tinggal di negara ini saya belum pernah bergabung arisan tersebut kecuali  bila diisi dengan demo memasak, demo rias wajah, dekor hidangan meja makan apalagi bila ada presentasi kesehatan. Pernah seorang chef asal Indonesia yang bekerja di sebuah hotel di Doha mendemonstrasikan cara mengukir buah, seorang ibu cantik warga Indonesia mencontohkan cara menata meja makan untuk hari-hari istimewa, seorang ibu muda yang berprofesi dokter gigi di tanah air menyampaikan tips merawat gigi pada balita, seorang dokter Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan minyak memberikan tips pada ibu-ibu untuk persiapan menopause.

Ternyata tidak hanya saya yang bukan anggota arisan KBRI hadir dalam kegiatan itu ada juga beberapa ibu lain yang ingin memetik ilmu dari pertemuan tersebut. Kami hanya membayar uang konsumsi untuk pertemuan saat itu. Silaturahmi terpenuhi ilmu manfaat kami dapat. Arisan plus plus..

Advertisements