Category Archives: qatar

Siswa Qatar Mondok Di Daarut Tauhid – Bandung Selama Ramadan

Standard

Libur bagi siswa sekolah adalah hal yang sangat dinanti-nanti,  tidak melakukan kegiatan belajar sama sekali. Libur sekolah di Indonesia umumnya berlangsung  selama dua hingga tiga pekan cukup bagi siswa untuk istirahat dari kegiatan belajar di sekolah. Orang tua akan mengisi libur anak dengan kegiatan menyenangkan.  Nah bagaimana bila libur sekolah berlangsung lebih dari dua bulan? Sedangkan dua pekan saja membuat para orangtua kebingungan untuk mengisi waktu libur mereka apalagi dua bulan !!!

Libur sekolah di Eropa dan Amerika berlangsung lebih dari dua bulan untuk musim panas. Termasuk sekolah-sekolah dengan kurikulum Eropa dan Amerika yang ada di luar wilayah tersebut. Itu sebabnya banyak kegiatan  Summer Camp  di Eropa dan Amerika untuk mengisi libur musim panas. Di Timur Tengah banyak sekali sekolah-sekolah berbasis kurikulum Inggris dan Amerika yang mengikuti libur sekolah negara asalnya. Apalagi musim panas di Timur Tengah bisa mencapai angka 50 derajat celcius !!!  Bayangkan kalau tidak libur bagaimana tubuh harus menyerap panas matahari yang sangat menyengat setiap hari. Maka tak heran saat musim panas bulan Juli-September kota-kota di Timur Tengah sepi dari siswa-siswa sekolah dan para ibu yang berlibur ke negara asal mereka.

Demikian pula dengan warga Indonesia di Qatar yang umumnya anak-anak mereka menuntut ilmu di sekolah internasional berbasis kurikulum Inggris dan Amerika libur musim panas berlangsung selama dua setengah bulan. Orang tua harus kreatif dalam mengisi libur sekolah agar anak mereka tidak bosan atau hanya menatap layar komputer yang terhubung dengan internet. Untuk libur di kampung halaman banyak sekali pilihan untuk mengisi kegiatan anak-anak selain pergi ke tempat hiburan atau ada yang mengikut sertakan anak-anak dalam les pelajaran atau bergabung dengan klub olah raga.

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Tahun ini diprakarsai oleh Tentang Qatar beberapa orang tua berinisiatif mengisi libur sekolah anak mereka dengan menimba ilmu di pesantren Daarut Tauhid ( DT ) milik KH Abdullah Gymnastiar di Bandung. Kegiatan ini telah berlangsung selama tiga pekan sejak hari ke dua Ramadan 22 juli hingga 12 Agustus 2012 yang lalu. Seluruh santri berjumlah 17 siswa putra lalu pada satu pekan terakhir bertambah 2 siswa putri. Usia mereka berkisar dari 7 hingga 15 tahun. Berharap liburan kali ini mempunyai nilai lebih dengan diisi hal-hal bermanfaat tanpa mengurangi nilai kesenangan. Konsep yang ditawarkan DT diharapkan dapat memberi pengalaman unik yang berharga dan memfasilitasi proses perkembangan santri. Kegiatannya selain dilakukan dalam ruangan untuk mentoring juga dilakukan di luar ruang, alam terbuka agar peserta tidak jenuh.

Mentoring ala DT dengan konsep Manajemen Qolbu ( MQ ) yang banyak menggunakan istilah sebagai kata kunci menjadi mudah diingat oleh santri. Terbukti saat berkomunikasi atau bersenda gurau sesama santri seringkali saling mengingatkan dengan istilah-istilah SMOS ( Suka Melihat Orang Susah / Susah Melihat Orang Senang ), Terapi Penyakit Qolbu TENGIL ( Takabur Egois Norak Galak Iri Lalai ), Menjadi Remaja Unggul dengan 3A (Aku aman;  Aku menyenangkan;  Aku ), dan Menjadi Pribadi Simpatik dengan 5S ( Salam  Sapa Senyum  Sopan  Santun ).

Mentoring, tausiyah, tadarus, tahfiz harian yang sangat padat tidak membuat santri jenuh karena selalu diselingi dengan  ice breaking  dan istirahat siang.  Selain pemberian materi ada juga  kegiatan luar ruang yang menyenangkan seperti olah raga atau  fun games  yang membutuhkan kerja sama kelompok sehingga santri seakan-akan bermain padahal mereka sedang diajarkan kerjasama kelompok.

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Selain itu setiap akhir pekan santri melakukan i’tikaf   di pesantren lain agar melihat juga ragam kehidupan  dan berinteraksi dengan warga lain. Asal tahu saja mereka menuntut ilmu di sekolah Internasional  yang berisi murid-murid dari berbagai bangsa – multi cultural – dan berbagai macam agama tetapi berstrata sosial yang sama maka sangat perlu buat mereka berinteraksi dengan ragam sosial yang berkelas-kelas di tanah air sehingga  mereka peka terhadap lingkungan sekitar.

Kegiatan luar ruang selain  outbound  juga mengadakan kunjungan sosial ke salah satu  pesantren Pondok Asuhan yatim piatu dan dhuafa membuat mereka berbaur karena melihat dan berinteraksi langsung dengan para santrinya. Santri bermalam di pondok tersebut melakukan kegiatan tadarus, olah raga, sahur dan buka puasa bersama dengan makanan seadanya yang sama porsi dan macamnya bagi semua penghuni pondok. Tidak ada yang lebih banyak atau mendapat lebih sedikit jatahnya, semua sama. Mereka juga menyaksikan pesantren yang  mandiri pangan dengan berkebun dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di lingkungan pondok. InshaAllah kunjungan ini sangat membekas di hati mereka.

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

 

 

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

 

Santri juga melakukan kunjungan wisata sejarah ke Museum Konperensi Asia-Afrika, Museum Geologi, dan Goa Belanda yang ada di kawasan Bandung. Untuk wisata seni mereka mengunjungi Saung Udjo menikmati kesenian Jawa Barat sambil belajar bermain angklung serta mengunjungi industri kerajinan batik untuk melihat proses pembuatan batik tulis dan cap sekaligus membuat sendiri sapu tangan batik cap karya masing-masing.

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Usai  mondok  di DT diharapkan santri lebih meningkatkan ibadah mereka selain ibadah wajib juga melaksanakan ibadah sunnah karena selama mondok mereka teratur melaksanakan  salat sunat rawatib, dhuha, zikir, dan tadarus tiap subuh. Gavin dan Ravi peserta kakak adik yang berayahkan  kebangsaan Amerika dan ibu WNI sangat senang dengan kebersamaan selama  mondok  di DT.  Ariq, 14 tahun sangat  enjoy  dengan kegiatan ini.

Kegiatan ini juga menjadikan latihan berbahasa Indonesia semua santri karena mereka sehari-hari berbahasa Inggris di sekolah dan pergaulan. Berdasarkan komentar beberapa orang tua melihat perubahan yang baik terhadap anak-anaknya setelah  mondok  di DT. Semua santri berharap bila acara serupa diadakan lagi tahun depan. Seorang santri,  Arif 15 tahun,  sempat berseloroh , “Seandainya para pejabat diikut sertakan dalam kegiatan MQ selama tiga pekan maka InshaAllah tidak akan korupsi.” Ia merasa Manajemen Qolbu selama 3 pekan sangat efektif menggembleng santri

Advertisements

Pasar Tradisional Yang Modern

Standard

Saat masih kanak-kanak ibu saya sering mengajak saya menemaninya ke pasar tradisional membeli sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Sebenarnya males banget nemenin karena alasan becek dan bau sampah membusuk itu loh yang nggak tahan. Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Ciledug menjadi pilihan ibu karena dekat dengan rumah kami. Kala itu 30 tahun silam belum ada pertokoan-pertokoan modern seperti saat ini.

Setelah saya sekolah hingga akhirnya kuliah ibu mulai jarang mengajak saya ke pasar karena kesibukan waktu saya di sekolah dan kegiatan ekstra lainnya. Apalagi saat kuliah saya kost dekat kampus pulang ke rumah sepekan sekali.

Setelah menikah saya  mulai sibuk dengan tetek bengek urusan rumah tangga, mengurus suami, memberesi rumah apalagi setelah anak pertama kami lahir kesibukan saya bertambah lagi. Saya masih meraba-raba dalam dalam pengaturan keuangan rumah tangga.

Awalnya pusing kepala harus mengatur pemasukan dan pengeluaran plus menahan nafsu dunia yang mau ini dan itu. Untuk memenuhi asupan gizi anak kami adalah prioritas utama meski dengan penghasilan pas-pasan dari suami yang saat itu seorang asisten dosen di kampus. Berbelanja di pasar tradisional adalah pilihan paling tepat karena murah dan lebih banyak pilihan.

Toh akhirnya saya harus sering-sering lagi ke pasar tradisional meski becek dan bau harganya jauh lebih murah daripada pasar swalayan. Kalau dulu hanya menemani ibu membantu menjinjing belanjaan kini saya harus ‘bertarung’ menawar harga agar dapat lebih murah dari pasar swalayan atau tukang sayur keliling. Aduuuh gimana ya caranya menawar…. Bukankah suami akan bangga bila sang istri mampu mengatur keuangan rumah tangga. Tak peduli lagi soal pasar becek dan bau sampah busuk yang penting murah yo Pak, hihihi.

Pasar Modern BSD - Serpong

Pasar Modern BSD – Serpong

Awalnya suami juga malas kalau harus mengantar saya ke pasar tradisional tapi akhirnya ia mau dengan catatan hanya menunggu di warung dekat lahan parkir motor. Sambil menunggu biasanya ia mencoba jajanan pasar seperti lontong sayur, kupat tahu atau bubur ayam. Tak mengapa asalkan ia mau mengantar jadi saya tidak harus naik angkutan umum menjinjing belanjaan.

Hingga akhirnya pasar tradisional di kawasan kami tinggal diubah oleh developer real estate menjadi pasar modern. Konsep bangunan tetap sama dengan pasar tradisional tetapi diatur rapi berdasarkan jenis dagangan yang dijual. Ada blok makanan, warung makan, alat-alat dapur, dan termasuk pakaian murah meriah, semuanya teratur dan bersih. Awalnya saya enggan juga, pesimis dengan perubahan tersebut khawatir harganya akan sama saja dengan pasar swalayan tapi apa mau dikata.

Setelah pasar modern tersebut selesai dibangun ternyata, wow, di luar sangkaan saya semuanya teratur berdasarkan jenis yang dijual. Yang paling penting lagi tidak becek, tidak bau, dan tidak pengap harga pun bersaing. Langit-langit yang tinggi, lantai pasar pun dibuat dari keramik tidak becek lagi seperti sebelumnya yang hanya dari tanah liat, itu sebabnya menjadi becek apalagi di area pedagang daging, ayam, dan ikan. Tempat sampah ada di setiap sudut gang lapak pedagang. Hasil interview saya dengan beberapa pedagang, mereka juga tidak mengeluhkan harga sewa lapak di pasar tersebut.

Pasar modern di kawasan kami menjadi perintis perubahan bagi pasar-pasar tradisional lainnya yang ada di perumahan-perumahan kawasan Jakarta dan sekitarnya. Sejak itu pula suami saya mau menemani saya belanja ke dalam pasar tidak hanya menunggu di warung.

Wholesale Market Doha

Wholesale Market Doha

Sejak kami tinggal di Doha kebiasaan belanja sayur dan buah-buahan ke pasar tradisional tetap menjadi pilihan karena harganya memang lebih murah dari pasar swalayan. Yang paling penting lagi tidak becek dan bau…

Pasar tradisional satu-satunya di kota Doha ini dikenal dengan nama Wholesale Market atau pasar induk menjadi pusat penjualan sayur dan buah partai besar artinya mereka menjual dalam 1 kardus atau karung yang berisi kurang lebih 6-7 kg per kardus. Umumnya pembeli di Wholesale Market adalah pemilik restoran atau pedagang groceries market. Tak sedikit pula keluarga Qatari yang belanja partai besar karena umumnya mereka keluarga besar.

Di lokasi yang sama ada juga area yang menjual partai kecil artinya kita bisa juga membeli per kilo atau satuan. Saya lebih suka di tempat ini selain  lebih bersih  saya tak perlu membeli dalam jumlah banyak karena hanya untuk konsumsi kami sekeluarga jadi tak perlu menyimpan sayur cukup banyak khawatir layu dan busuk. Bangunannya luas, lantai kering dan bersih, atap tinggi dengan pencahayaan alami, dan tidak bau.

Para Suami Belanja ke Pasar

Para Suami Belanja ke Pasar

Sayur dan buah-buahan di Qatar dipasok dari negara-negara tetangga seperti Saudi, Jordan, Lebanon, Yaman, Oman bahkan Mesir meski ada juga beberapa produk lokal. Harga 1 kardus sayur dan buah di pasar tradisional ini bisa ½ atau bahkan ¼ harga di groceries market.

Seorang teman yang menjalani catering, Lala, akhirnya menjadi teman saya belanja tiap kali ke Wholesale Market jadi kami bisa membeli dalam partai besar, istilahnya sharing, lalu membaginya berdua. Masing-masing akan mendapat sekitar 3 kilogram. Ia terkejut dengan harga yang jauh lebih murah dari pasar swalayan sampai-sampai ia menghitung berapa untungnya pemilik pasar swalayan.

Untuk pedagang daging, ayam, dan ikan masih di lokasi yang sama tetapi di bangunan yang berbeda lebih dikenal dengan Fish Market. Lokasi pedagang ikan lumayan banyak lapaknya, yang saya senang dari area ini lantainya dari keramik meski basah tapi selalu bersih. Atap bangunannya tinggi dan semua dipenuhi pendingin udara. Semua pedagang mengenakan baju atasan dan bawahan putih. Memakai topi ala chef bersepatu boot selutut dari plastik. Di bagian luar Fish Market terdapat area khusus  membersihkan ikan jadi setelah kita berbelanja ikan bisa meminta jasa beberapa orang yang khusus hanya membersihkan ikan dan cumi atau mengupas kulit udang.

Untuk penjual ayam segar, ayam yang masih hidup lalu kita minta potong sesuai pesanan, hanya tersedia 3 lapak yang menurut tempat langganan saya bisa menjual 400-600 ekor ayam per hari. Sementara penjual daging hanya 2 lapak.

Bila belanja dalam jumlah banyak para buruh angkut – biasa disebut mali -telah menanti kami para pembeli untuk meminta jasa mereka. Mereka semua berseragam hijau membawa gerobak kecil beroda satu di bagian depan dan 2 kaki di bagian belakang. Mereka adalah buruh angkut resmi dari pemerintah menggunakan tanda pengenal di bagian dada. Saya sudah punya langganan buruh angkut yang siap membawakan belanjaan saya.

Sebetulnya tidak umum di Qatar bila seorang pembeli wanita ke pasar sendirian. Walau tidak ada aturan tertulis sesuai budaya setempat umumnya para wanita lokal ditemani khadimat, sopir atau suaminya. Bahkan tidak aneh bila yang belanja hanya si bapak saja. Suami saya selalu menyarankan mencari teman bila saya harus ke pasar tapi kadang saya nekat saja kalau sudah kepepet. Maaf yo Pak…

Ada lagi aturan tidak tertulis yang berlaku dalam berpakaian ada baiknya memakai abaya seperti wanita lokal. Hal ini untuk menghindari dari mata-mata jahil para pedagang yang kadang usil menatap pembeli yang berpakaian ‘terbuka’. Asal tahu saja semua pedagang di wholesale market adalah laki-laki. Mereka adalah pendatang dari India, Pakistan, Srilanka, dan Banglades. Tidak seorang pun wanita yang berjualan di pasar tradisional.

Bahasa yang kami gunakan dalam bertransaksi umumnya bahasa Inggris kecuali pada pembeli lokal mereka para pedagang lancar berbahasa Arab. Pedagang sayur langganan saya lama kelamaan bisa menyebutkan nama-nama sayur dan buah ke dalam bahasa Indonesia karena selalu saya terjemahkan. Tiap kali saya tiba di pasar maka ia akan berteriak,

“Kangkung, bayam, sawi, terong, kentang…..”

Senangnya lagi tiap kali saya tiba di pintu gerbang pasar para pedagang dan buruh angkut menyambut saya dengan sapaan “Assalaamu’alaikum madam….” 

ARISAN BUKAN LAGI AJANG SILATURAHMI

Standard

Entah sejak kapan kegiatan ini bermula tapi yang saya ingat sejak saya masih di bangku sekolah dasar ibu saya sudah sibuk dengan berbagai macam arisan. Dari mulai arisan RT (Rukun Tetangga) di lingkungan tempat tinggal kami hingga arisan berbentuk barang. Umumnya barang-barang keperluan dapur yang sedang trend misalnya satu set alat memasak yang terdiri dari beberapa panci dengan beberapa  ukuran juga berbagai macam fungsi. Entah apa saja fungsinya saya nggak  begitu peduli, lah kan masih anak-anak.

Kegiatan ini sangat dekat dengan saya karena kebetulan ibu saya pernah menjadi salah seorang pengurus RUKI (Rukun Ibu) di lingkungan  RT. Bersama adik saya sering diberi tugas mengantar undangan arisan ke warga RT tiap awal bulan.

Untuk arisan barang perkakas  dapur boleh dibilang ibu saya adalah bandarnya.  Artinya ibu yang membeli  barang tersebut lalu menerima uang dari para anggota arisan. Dulu saya sering menemani ibu ke Pasar Senen membeli perkakas dapur untuk arisan barang tersebut. Umumnya para anggota arisan ibu saya adalah orangtua teman sekolah saya atau tetangga.

Seperti arisan uang pada umumnya maka nama tiap anggota masing-masing  ditulis dalam secarik kertas kecil. Tiap carik kertas  digulung  lalu dimasukkan ke dalam kaleng atau gelas tertutup yang bagian atasnya diberi lubang agar salah satu gulungan kertas tersebut bisa keluar.  Nama yang tertera dalam kertas yang keluar itu adalah penerima  uang atau barang arisan. Biasanya dikerjakan setiap bulan bahkan ada yang tiap pekan untuk mengeluarkan nama dalam gulungan kertas tersebut. Biasa disebut mengocok arisan. Nama yang keluar pun jumlahnya beragam dalam satu kali perjumpaan arisan bisa satu bahkan sampai lima sekaligus. Tergantung kesepakatan semua anggota dan jumlah uang yang ditentukan. Setiap anggota arisan menyetor jumlah uang yang sama untuk kemudian masing-masing akan mendapatkan jumlah yang sama atau barang yang sama tiap kali namanya keluar dari gelas arisan.

Untuk arisan barang kini lebih beragam variasinya, selain perkakas dapur, kebutuhan elektronik seperti ponsel, laptop, televisi, lemari pendingin hingga barang mewah seperti berlian. Siapa yang tidak tergiur….

Sampai kini saya berkeluarga pun kegiatan arisan tetap berlangsung di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya ibu-ibu bahkan menular di kalangan kaum Adam. Masih ingat kan film Arisan!.

Sempat diskusi dengan ibu saya “Kenapa sih Ma, uang arisan itu  nggak  kita simpan saja setiap bulan?  Toh  sama saja pada akhir masanya kita akan pegang sejumlah yang kita dapat di arisan.”

“Kan yang penting silaturahmi antar warganya”  jawab ibu saya ringan. Ahaa ini dia jawaban yang selalu saya dapat bahwa arisan sebagai ajang silaturahmi dengan teman dan keluarga.

“Jadi yang penting bukan arisannya? Kenapa nggak dibuat pertemuan tiap bulan tanpa mengumpulkan uang. Tujuannya murni silaturahmi. Nggak ada embel-embel datang karena uang. Seperti pengajian kan murni mendengarkan tausiah.”

“Yaaa, kan beberapa orang ada juga yang perlu  fresh money  daripada pinjam ke rentenir arisan tidak berbunga.”

“Ooh jadi masih perlu toh  tujuan uangnya. Enak dong  yang pertama kali namanya keluar tapi toh tetap saja dia harus membayar kembali uang yang didapat. Sama saja dengan mencicil.”

“Yaa hitung-hitung bantu teman yang perlu uang.”

“Yang dapat terakhir nggak enak dong sama dengan ‘menitip’ uang pada teman lalu di akhir masa ia mendapatkan kembali uang yang dititipnya”.

“Yaa yang terakhir harus rela, ikhlas. Malah biasanya beberapa anggota mau dapat yang terakhir jadi sama dengan menabung.”

“Laah kalau nabung juga ya kenapa tidak di Bank atau Koperasi Simpan Pinjam.”

“Lagipula  Mama jadi menyiapkan konsumsi kalau kebetulan nama Mama yang keluar. Naah uang arisan jadi harus disisihkan untuk membeli konsumsi.”

“Ada uang khusus koq untuk konsumsi.”

“Tertutup nggak jumlah yang dibelanjakan dengan uang yang didapat.”

Enggak  juga sih tapi kalau Mama seneng sediain makan untuk tamu. Mereka jadi  nyicipin  masakan Mama.”

Hmm jadi sebetulnya yang penting kumpul sekaligus membantu yang ‘perlu’  fresh money. Pantas saja saya pernah mendengar seorang teman yang ikut sebuah arisan, berhubung namanya sudah keluar, ia tak mau hadir lagi di pertemuan arisan berikutnya tapi hanya menitipkan uang arisan pada anggota lain,  “Nggak  perlu datang  ah  kan nama gue udah  keluar.”  Alasan arisan sebagai ajang silaturahmi sudah hilang dengan kasus ini. Masih untung mau memberi uang arisan berikutnya. Nah kalau tidak?

Pernah juga saya tanyakan pada ibu saya, “Ma, ada  nggak  anggota arisan yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Maksudnya belum selesai masa arisan tapi ia tidak membayar lagi”.

“Waah kalau itu sih banyak.”

“Laah?!!! Rugi  dong  anggota yang lain. Alasannya apa  koq  tiba-tiba berhenti?”

“Yaa  macem-macem  deh uangnya perlu  dipake  untuk keperluan lain. Padahal ibu itu sudah keluar namanya. Nagihnya susah banget.  Jadi yang terakhir namanya keluar, uangnya kurang”.

Piknik di taman dengan teman-teman

Piknik di taman dengan teman-teman

Jauh-jauh tinggal di luar negeri ternyata kegiatan arisan seperti candu bagi komunitas warga Indonesia. Mulai dari arisan ibu-ibu saja atau arisan dengan keluarga yang artinya suami, istri dan anak-anak bisa ikut hadir. Suatu kali saya dibujuk-bujuk ikut arisan oleh seorang  ibu – sebut saja ibu Ayu –  yang kebetulan suaminya satu perusahaan dengan tempat suami saya bekerja.  “Moso’  mbak Na nggak kumpul dengan teman-teman satu perusahaan. Kita tinggal di luar negeri  kalau ada apa-apa yang  nolongin  kita siapa?  Moso’ teman-teman perusahaan lain yang  nolongin?”

Wakkss  moso’ mau nolongin teman harus lihat suaminya satu perusahaan atau tidak. Saya tidak pernah ‘pandang bulu’kalau mau tolong teman tidak juga pandang suku, agama, dan bangsa. Saya seringkali buat pertemuan dengan teman-teman yang suaminya satu perusahaan dengan suami saya, misal dengan piknik di taman kota, ke pantai, atau gurun pasir saat musim dingin, pengajian rutin bulanan, bahkan open house saat  Hari Raya tiap tahun saya adakan di apartemen kecil saya. Tidak pandang posisinya apa pokoknya semuanya welcome datang tanpa tujuan uang sedikit pun.

Kalau ada teman melahirkan atau opname di Rumah Sakit saya usahakan menjenguk secepat mungkin. Saya bisa bayangkan betapa sedihnya sendirian di Rumah Sakit tanpa sanak saudara di negeri orang. Seorang teman single tidak ada sanak saudaranya di negeri ini terpaksa dirawat di rumah sakit. Ia terkejut saat saya menjenguknya, “Mbak Na, seneng banget dijenguk plus dibawain arem-arem hangat pula.” Sementara belum satupun anggota arisan ibu-ibu datang menjenguknya.

Pernah dengar dari teman yang ikut suatu kelompok arisan bahwa ada  seorang ibu – sebut saja ibu Ismi – tidak membayar uang arisan bulan terakhir. Sementara namanya sudah keluar di awal arisan. Parahnya lagi ia dititipi uang arisan oleh teman saya karena tidak bisa hadir eeh tidak disetorkan pula. Untuk menemuinya jadi susah tiba-tiba terdengar kabar ia sudah pindah ke tanah air.  Gubraaakkkk…. beneran tepok jidat kali ini. Sudah banyak kejadian seperti ini tapi kok ya nggak kapok-kapok  para ibu ikut arisan.

“Sudah kejadian begitu kok lo tetep ya masih ikut arisan sana-sini.”

“Yaa sekarang sih hati-hati Mbak Na, bener-bener harus pilih teman yang bisa dipercaya komitmen pada arisan”, jawab teman saya yang addict dengan arisan.

Hmm, ternyata dibutuhkan komitmen untuk sebuah arisan. Kalau begini kejadiannya alasan silaturahmi  sudah hilang sama sekali. Alasan arisan untuk mendapatkan fresh money bisa dijadikan ’kesempatan’ bagi orang yang tidak bertanggung jawab.

Dari alasan silaturahmi,  fresh money bergeser lagi menjadi arisan trendy yang mulai marak saat ini. Saya sebut trendy artinya arisan dengan tema baju ditentukan oleh pemenang arisan sebagai dress code  misalnya ‘arisan in blue’. Semua peserta arisan harus berpakaian nuansa biru. Sekali waktu jumpa dengan seorang teman di pusat pertokoan serba ada berujar, “Capek nih keliling mall cari baju tema loreng-loreng macan belum nemu juga.”

“Oh untuk acara sekolah anakmu ya?”

“Bukan mbak Na, untuk arisan 2 hari lagi temanya baju loreng macan padahal aku nggak punya baju motif begituan.”

Oh My God tambah satu poin lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk arisan selain konsumsi harus ada juga untuk pakaian. Analisa saya pribadi arisan macam ini untuk status sosial seorang perempuan, saat arisan berlangsung akan kelihatan bajunya bernada sama biasanya pula diadakan di sebuah resto. Saat arisan akan foto bersama untuk kemudian tayang di situs jejaring sosial, woow kereen.

Pernah pada beberapa kesempatan saya tanyakan pada ustaz mengenai hukum arisan. Semua ustaz yang saya tanyakan menyatakan arisan itu halal tapi yang perlu dihindarkan pada saat pertemuannya. Tau dong kalau ibu-ibu sudah kumpul ngobrol ngalur-ngidul sampai akhirnya bergosip. Macam-macam saja yang dibicarakan, anaknya siapalah, suaminya siapalah, sampai keretakan rumah tangga artis yang tidak kita kenal sama sekali. Itu yang perlu dihindarkan.

Semaksimal mungkin saya kurangi pertemuan seperti itu alih-alih ajang silaturahmi tapi yang ada ngomongin hal-hal nggak penting buat saya. Lebih baik saya gunakan waktu untuk menulis artikel-artikel bermanfaat. Untuk menjaga silaturahmi saya pilih kegiatan pengajian rutin tiap pekan. Hadir tepat waktu mendengarkan tausiah setelah selesai bersiap menjemput anak-anak di sekolah.

Pengajian rutin

Pengajian rutin

Kelompok Ibu-ibu kreatif

Kelompok Ibu-ibu kreatif juga wadah untuk silaturahmi

Cooking class kegiatan yang paling saya suka untuk kesempatan bertemu dengan teman-teman se tanah air sambil belajar masak. Saya minta ibu-ibu yang mahir memasak sebagai pengajar lalu saya ajak 5 – 7 orang teman sebagai siswanya. Semua bahan dasar memasak kami tanggung bersama biayanya. Acaranya dibuat santai tidak kaku. Selesai acara kami pun membawa hasil kerja yang bisa dinikmati dengan keluarga di rumah. Jadi satu menu baru lagi akan terhidang di meja makan saya.

Kegiatan seni kelompok ibu-ibu juga bisa jadi pilihan ajang silaturahmi sambil melestarikan budaya bangsa. Kelompok angklung atau tari daerah selain menjadi wadah sosial juga memupuk kecintaan pada tanah air walau kita jauh tinggal di negeri orang. Bila ada kesempatan show  pada bangsa lain bisa jadi kebanggaan tersendiri. Menjadikan bangsa Indonesia  tak dianggap sebelah mata.

KBRI  tempat saya tinggal saat ini mengadakan arisan rutin tiap bulan. Selama hampir 8 tahun tinggal di negara ini saya belum pernah bergabung arisan tersebut kecuali  bila diisi dengan demo memasak, demo rias wajah, dekor hidangan meja makan apalagi bila ada presentasi kesehatan. Pernah seorang chef asal Indonesia yang bekerja di sebuah hotel di Doha mendemonstrasikan cara mengukir buah, seorang ibu cantik warga Indonesia mencontohkan cara menata meja makan untuk hari-hari istimewa, seorang ibu muda yang berprofesi dokter gigi di tanah air menyampaikan tips merawat gigi pada balita, seorang dokter Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan minyak memberikan tips pada ibu-ibu untuk persiapan menopause.

Ternyata tidak hanya saya yang bukan anggota arisan KBRI hadir dalam kegiatan itu ada juga beberapa ibu lain yang ingin memetik ilmu dari pertemuan tersebut. Kami hanya membayar uang konsumsi untuk pertemuan saat itu. Silaturahmi terpenuhi ilmu manfaat kami dapat. Arisan plus plus..

SWEET SEVENTEEN

Standard

Dear suamiku,

Menyusuri jalan mulus

Menyebrangi lautan tenang

Menjadi lebih indah karena kulewati bersamamu…

Diikuti langkah-langkah kecil sebagai amanah Ilahi..

Kerikil tajam dapat kutapaki

Badaipun aku terjang

Karena genggaman erat tanganmu

Tak pernah kulupa saat kau pinta diriku

Dari ayahku

17 tahun silam 9 April 1994

Terimakasih telah memilihku

Meski banyak pilihan untukmu :)

Terimakasih telah menjadi imam bagiku

Terimakasih atas kerja kerasmu untuk kami

Menjadi ayah terbaik bagi anak-anakku

Maaf bila getaran cinta tak seperti dulu lagi

Rindu tak begitu menggebu

Perhatian telah tersita

Mungkin karena kesibukanku di dapur

Mengurus ini itu di dalam rumah

Walau begitu,

Semua ini sangat indah

Sangat manis


-love: Ibu-


***

Thaif 9 April 2011

Ya Allah jauhkan kami dari cinta yang salah

Cinta yang menjauhkan kami dari surgaMu

Ya Rahman jadikan anak keturunan kami selalu menegakkan shalat

Mampu bersyukur atas nikmatMu

Walau sekecil apapun

Ya Allah himpun kami di FirdausMu

Bersama RasulMu, para sahabat, dan hamba2 terbaikMu

-Masjidil Haram 2011- Read the rest of this entry

ECONOMY CLASS FLY TO BUSSINESS CLASS

Standard


 

Stasiun Serpong

Selembar potongan kardus ukuran dua kali majalah telah saya lipat menjadi dua bagian. Tak boleh kotor bagian dalamnya karena akan digunakan untuk alas duduk di kereta. Kereta yang akan saya tumpangi dari stasiun Palmerah sudah penuh oleh penumpang dari stasiun Tanah Abang sehingga tak ada lagi kursi kosong di semua gerbong.  Kursi penumpang hanya tersedia di sepanjang sisi kiri dan kanan gerbong. Kira-kira perbandingannya hanya sepersepuluh yang akan mendapatkan kursi dalam satu gerbong.

Tiap-tiap penumpang punya tempat terenak menurut versi masing-masing. Saya masuk ke tengah gerbong lalu menggelar potongan kardus untuk dijadikan alas duduk di lantai gerbong. Lebih baik memilih cara ini, nggak pegel, sementara penumpang lain berdiri di sekitar saya. Lumayaaan, masih 7 stasiun yang akan saya lewati untuk tiba di stasiun tujuan, Serpong. Beberapa penumpang juga memilih cara seperti ini duduk melipat kaki di lantai gerbong kadang tanpa alas apapun. Beruntung kalau mendapatkan posisi di tiang yang terdapat di depan pintu gerbong sebagai penyangga pegangan tangan penumpang berdiri. Aah  saya duduk bersandar di tiang sambil melipat kaki. Bila penumpang tak begitu padat bisa meluruskan kaki.  Kalau sudah pewe,  posisi weenaak begini ayunan kereta membuat saya selalu mengantuk sambil terus berdoa agar cepat keluar dari himpitan ekonomi ini.

Selalu saya pilih gerbong terakhir  karena tidak banyak pedagang asongan dan pengamen yang hilir mudik. Udaranya pun lebih segar daripada gerbong lain karena pintu belakang gerbong yang biasanya menghubungkan dengan gerbong lain terbuka bebas sehingga lumayan banyak angin yang masuk ke dalamnya. Paling-paling hanya beberapa penumpang bergelantungan di pintu tersebut. Pernah juga saya masuk ke gerbong masinis tapi harus berdiri terus hingga tujuan plus  harus memberi ‘uang rokok’ untuk sang masinis.

Sebetulnya kereta bukan satu-satunya pilihan transportasi saya ke dan dari tempat kerja. Bus umum bisa jadi alternatif tetapi ternyata ongkosnya empat kali lipat tiket kereta karena harus tiga kali ganti bus jadi waktu yang ditempuhpun lebih lama. Jumlah penumpang bus pun tak kalah padatnya dengan kereta. Walau beberapa kali pernah juga kereta telat datang dari jadwal biasanya atau berhenti di sebuah stasiun lebih dari 1 jam tanpa pemberitahuan sebab dan kapan akan berakhir.

Jalur Kereta Jabodetabek

Setelah stasiun Palmerah kereta akan berhenti di stasiun Kebayoran Lama. Gerbong akan semakin padat lipatan kaki saya semakin rapat. Umumnya penumpang Kebayoran Lama  adalah pedagang sayur atau buah-buahan yang berjualan di pasar tak jauh dari stasiun.  Segala macam bau tak sedap campur baur di dalam gerbong. Bau keringat yang menempel di badan mereka, bau sayuran atau buah sisa dagangan mereka, bau asap rokok yang menempel di pakaian lusuh mereka. Mereka akan menggantungkan keranjang kayu pikul tempat menyimpan dagangan yang telah kosong ke pintu belakang gerbong. Kemudian mereka mengambil posisi duduk seperti saya bergabung dengan penumpang lain lalu bermain gaple. Entah siapa yang selalu membawa kartu permainan tersebut saya tak pernah tahu. Sambil melemparkan kartu gaple ke lantai gerbong mereka ngobrol ragam persoalan terkini.  Apa saja, pemerintahan, kriminalitas, selebritis, dan lain sebagainya. Lucunya kadang mereka mengomentari salah seorang dari mereka sendiri sambil tertawa-tawa.

Sesungguhnya saya tak mengerti secara pasti apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa Sunda logat Banten. Saya tahu lucu karena mereka semua tertawa lepas. Lepas…seperti tak ada beban hidup dalam tawa mereka. Kadang saya pun ikut tersenyum karena sedikit mengerti apa yang mereka tertawakan. Suasana keakraban sangat terasa di dalam gerbong. Meski saya tidak pernah tahu persis nama-nama mereka tapi kami seperti saling mengenal. Bagaimana tidak  lah wong  hampir setiap hari kami bertemu di gerbong ini. Sudah 2 tahun lebih, setiap hari Senin sampai dengan Jumat saya naik kereta pulang dari tempat kerja di Palmerah ke rumah di Serpong.

Pernah suatu kali seorang bapak tua, kira-kira usia setengah abad, penumpang asal Palmerah tak kelihatan di dalam gerbong ini hampir tiga pekan. Ketika akhirnya beliau muncul beberapa penumpang dengan ramah menanyakan kabar beliau. Ternyata beliau yang kemudian hari saya tahu bekerja di percetakan Gramedia Palmerah pergi cuti mengunjungi anaknya di luar kota. Semua penumpang bernapas lega mengetahui hal itu. Saya pun turut lega setelah mencuri dengar jawaban beliau kepada seorang ibu yang menanyakan kabarnya.

Suatu waktu saya terpaksa membawa kedua anak saya ke tempat kerja saat mereka libur sekolah sedangkan asisten rumah paruh waktu kami, Bi Maning, tak datang sehingga tak ada yang menemani mereka di rumah. Setelah seharian menunggui saya bekerja mereka sangat kelelahan dalam perjalanan pulang. Saya duduk dilantai gerbong sambil memangku mereka berdua yang terlelap tidur. Seorang pria muda duduk di belakang saya, berkemeja rapih, membawa amplop coklat besar ukuran Folio, layaknya seorang pegawai. Siapa sangka bahwa ia seorang pencopet yang mencoba merogoh tas tangan saya yang tersampir kebelakang badan. Beberapa  penumpang tak jauh dari saya berteriak ke arah saya,

Neng, tasnya pindahin ke depan”.

Oow, saat saya menoleh ke belakang, pria tersebut salah tingkah, matanya pura-pura menatap ke atap kereta.

Terdengar lagi teriakan penumpang di sisi kanan saya ke arah pria muda tersebut,

“Stasiun depan lo kudu turun kalo kagak mau mati di gerbong ini”.

Pheeww  lemas jantung saya mengetahui hal tersebut kalau tidak diberitahu habis sudah isi tas saya meski hanya beberapa lembar uang ongkos saya untuk hari itu. Tak lupa saya ucapkan terimakasih pada penumpang yang memberi tahu saya.

 ***

“Good evening madam would you like anything from our welcome drink?” tanya seorang awak kabin sambil tersenyum kepada saya. Walau ramah tapi ia telah memecahkan lamunan saya di KRL 13 tahun silam.

 “Oh eeh ehmm,  yes please, what do you have?”, saya tergagap menjawabnya.

“We have fresh orange juice, lemon and mint, sparkling water, and vintage champagne”,  lanjutnya lagi.

Sebetulnya saya masih kenyang tapi saya jawab saja,

“Hmm, orange juice please”,  sekedar untuk menyegarkan badan saya.

Fresh orange juice  

Sementara menunggu penumpang kelas ekonomi masuk ke kabin  para penumpang kelas bisnis disuguhi minuman dan surat kabar. Suguhan kepada penumpang kelas bisnis berbeda dengan suguhan untuk penumpang kelas ekonomi. Piring dan gelas untuk penumpang kelas bisnis terbuat dari beling seperti layaknya suguhan resto hotel bintang lima lengkap dengan serbet makan sedangkan penumpang kelas ekonomi disuguhi makanan menggunakan piring dan gelas plastik atau aluminium sekali pakai. Makanan dan minuman penumpang kelas bisnis lebih banyak pilihannya dibandingkan untuk penumpang kelas ekonomi yang umumnya hanya dua pilihan.

kursi luas dan bisa dimiringkan seperti tempat tidur

Sambil menunggu minuman yang saya pesan, saya putar ke kiri katup pendingin ruangan yang terletak tepat di atas kepala saya. Tak terasa angin kencangnya menyembur kepala saya. Saya perhatikan penumpang kabin kelas bisnis yang hanya empat baris tidak penuh. Barisan kursi kanan kiri saya kosong. Hanya ada seorang wanita muda dengan seorang anak yang duduk di baris kursi paling depan. Wangi parfumnya meski lembut tapi sangat menyengat hingga ke hidung saya. Baris kursi di depan saya terdapat sepasang suami istri bule. Kemudian datang lagi awak kabin lain menawarkan surat kabar dan membagikan pakaian tidur untuk selama perjalanan. Tak lama datang lagi awak kabin sebelumnya mengantarkan minuman yang saya pesan. Saya teguk sedikit demi sedikit.

Kemudian terdengar pengumuman awak kabin bahwa pesawat siap lepas landas. Saya kenakan sabuk pengaman.  Saya ambil novel dari tas tangan lalu saya tarik lampu baca di samping kursi. Saat lepas landas selalu saya manfaatkan untuk membaca novel. Setelah pesawat mengudara saya ganti pakaian tidur yang tadi dibagikan agar pakaian saya tak lusuh. Kembali duduk ke kursi saya tekan tombol di samping kursi hingga kursi mencapai kemiringan seratus delapan puluh derajat.  Saya tutup seluruh badan dengan selimut yang telah disediakan. Saya tarik remote control  di samping kursi untuk memilih film di layar TV yang menempel di kursi depan. Saya tutupi seluruh badan dengan selimut lalu meluruskan kaki. Lumayaan, sembilan jam perjalanan ke tanah rantau  setelah dua hari di Jakarta khusus menonton Teater Koma membuat badan agak kaku. Lebih dari sekedar posisi weenaaakk….. hati saya pun ikut  pewe.

meluruskan kaki

posisi weenaak

Tak pernah saya mimpi atau berdoa agar bisa menikmati kursi senyaman ini dengan layanan ekslusif karena saya kira semua kursi di pesawat sama saja tegak lurus sembilan puluh derajat, paling-paling bisa dimundurkan sedikit. Ternyata Allah mengabulkan lebih dari yang saya pinta bahkan yang belum terucap sekalipun.

Hingga akhirnya Allah mengatur rizki kami, suami saya bisa merantau ke negeri orang hampir tujuh tahun lamanya. Perjalanan saya dari rantau ke tanah air pulang dan pergi mengharuskan kami menggunakan pesawat. Atas fasilitas tempat suami bekerja, saya dan anak-anak bisa menikmati kursi nyaman ini baik ke tanah air atau negara tujuan kami berlibur. Tak perlu membayar hingga puluhan juta tapi kami tak pernah bisa melupakan begitu saja posisi weenaak  saya di KRL Ekonomi Serpong.

Inna Ma’al ‘Usri Yusra : Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan (An Insyirah: 5-6)

Bussiness Menu

ASISTEN RUMAH

Standard

LUGU vs CANGGIH

Istilah pembantu rumah tangga kini mulai bergeser menjadi asisten rumah. Mereka memang layaknya seorang asisten, membantu pekerjaan rumah atasannya dalam hal ini majikannya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, ada pula yang sekaligus mengasuh anak. Keberadaan mereka tidak bisa kita sepelekan apalagi bagi ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. Kala saya belum bekerja, saya juga sangat membutuhkan mereka. Apalagi ketika saya melahirkan anak ke dua sementara kakaknya belum genap berusia 2 tahun. Pada saat itu pula saya pindah ke rumah kecil milik sendiri setelah beberapa lama tinggal di rumah orang tua saya.

Wadduuh, nggak kebayang deh punya 2 anak masih balita kalau tanpa asisten rumah. Bagaimana membantu si sulung misalnya membersihkan dirinya setelah BAB sementara adiknya menangis ingin menyusui. Belum lagi harus memasak untuk anak-anak lalu pakaian kotor yang menumpuk harus pula segera dicuci. Rasanya dunia mau hancurrrr…

Setelah mencari sana-sini siapa yang bisa membantu saya di rumah tapi belum juga ada yang cocok. Umumnya mereka tidak mau tidur bersama anak balita saya sementara rumah saya hanya memiliki 2 kamar, maklumlah rumah sangat mungil. Saya belum memiliki cukup dana untuk membangun kamar lagi, lah wong dari penghasilan suami saya sudah terkuras untuk membayar uang muka rumah ditambah cicilan setiap bulan.

Setelah bertahan tanpa asisten beberapa bulan lamanya akhirnya saya mendapati seorang ibu yang bisa membantu pekerjaan rumah saya. Dia tinggal tidak jauh dari kediaman saya kira-kira 2 kilometer. Dia penduduk asli di kawasan kediaman saya jadi tidak perlu tinggal bersama saya melainkan datang pagi hari kemudian pulang siang hari. Istilah di kalangan ibu-ibu adalah “pulang hari” untuk asisten rumah yang seperti ini. Saya sangat terbantu dengan kehadirannya sehingga dapat konsentrasi mengasuh dan mendidik anak di rumah. Saya hanya memasak saja kala anak-anak saya tidur pagi hari, sementara pekerjaan rumah lainnya ditangani olehnya.

Saya memanggilnya Bi Maning, perawakannya pendek, wajahnya khas penduduk Jakarta asli, logat bicaranya kental Betawi asli, cara jalannya sangat cepat. Perkiraan saya dia seusia dengan saya walau anaknya sudah SMP. Dia tidak tahu persis berapa umurnya karena tidak memiliki KTP. Ia pun tidak tahu bahwa setiap warga Indonesia yang telah dewasa, berusia 17 tahun, wajib memiliki kartu identitas.

Setelah beberapa bulan bekerja dengan saya, baru saya sadari bahwa dia tidak tahu nilai mata uang, yang mana uang seribu perak apalagi seratus ribu. Ketika saya minta dia membayarkan belanjaan saya pada tukang sayur keliling di depan rumah, ternyata dia tidak tahu berapa jumlah semua uang yang dikembalikan oleh si tukang sayur. Akhirnya saya ketahui pula bahwa dia juga buta huruf. Sejak itu setiap hari saya ajarkan padanya nilai mata uang walau masih saja kadang-kadang salah juga. Untuk urusan baca tulis saya belum sempat mengajarkannya. Buat saya saat itu bukanlah masalah asalkan dia rajin, datang setiap hari, dan jujur.

Masalah baru timbul ketika akhirnya anak-anak masuk sekolah kemudian saya bekerja sebagai guru. Dia tiba di rumah saat saya dan anak-anak sudah pergi ke sekolah. Akhirnya saya ajarkan dia membaca numerik lebih dulu daripada alpabet karena dia harus menelpon saya bila ada sesuatu yang penting setelah sebelumnya saya ajarkan menerima telepon. Meski akhirnya dia tidak pernah menelepon saya sekalipun. Saya ajarkan pula untuk menelpon ke warung langganan bila dia harus membeli tabung gas dan air mineral. Alhamdulillah berhasil dan tidak pernah salah karena setiap kali tabung gas yang habis telah berganti dengan yang baru sementara saya tidak di rumah. Semakin lama dia semakin terampil dalam pekerjaan rumah.

Untuk urusan baca tulis saya sediakan setengah jam setelah saya pulang mengajar sebelum dia kembali ke rumahnya. Saya tidak berharap banyak karena saya sadar dia sudah lelah dengan pekerjaanya. Saya masih beruntung bahwa dia tetap setia pada saya bila saya bandingkan dengan kisah teman-teman saya mengenai asisten rumah mereka yang umumnya sok pinter, tidak jujur, dan kebanyakan tidak setia pada majikannya. Bayangkan kalau Bi Maning tidak setia, haddooohh, pulang ngajar harus mengurus pekerjaan rumah kemudian membantu PR sekolah anak-anak. Rasanya saya tak punya tenaga sebesar itu.

Hingga 7 tahun lamanya Bi Maning tetap setia pada saya. Tahun itu dia hamil anak ke 5, pada saat usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh saya minta dia cuti sementara saya sedang menyiapkan kepindahan saya ke Qatar. Walau demikian saya masih memperhatikan kebutuhannya, itu sebabnya ketika dia memasuki bulan ke sembilan kandungannya saya antar ke rumah sakit kemudian menungguinya melahirkan.

~~~

Mengikuti tugas suami ke Qatar, saya dan anak-anak sepakat tidak menggunakan asisten rumah, toh, mereka sudah besar dan saya tidak bekerja. Walaupun perusahaan tempat suami bekerja memberi fasilitas tiket pesawat setengah harga normal, setahun sekali untuk asisten rumah. Saya memutuskan hanya menggunakan part time maid, istilah untuk asisten “pulang hari”.

5 tahun lalu, atas rekomendasi seorang teman, saya mendapatkan part time maid, seorang perempuan asal India berperawakan agak tinggi, kulit gelap, logat bicaranya khas penduduk negara asalnya yang kerap kali menggelengkan kepala saat bicara. Sujata namanya, dia datang dua kali dalam sepekan, hanya 2 jam setiap datang menyetrika dan membersihkan dapur. Pekerjaannya boleh dikatakan rapi dan bersih hingga ke sudut-sudut rumah.

Namun entah kenapa 2 tahun terakhir ini, dia selalu tergesa-gesa dalam bekerja. Sering kali saya dapati debu-debu di sudut rumah rumah tidak tersapu olehnya, bahkan beberapa kali dia tinggalkan ‘perlengkapan perangnya’ berupa lap dan botol pembersih kaca ditinggalkan begitu saja di ruang tamu. Agar tidak berkelanjutan selalu saya ingatkan dia agar tidak terulang lagi.

Satu hal lagi yang membuat saya heran akhir-akhir ini, dia selalu bekerja sambil menelpon tiada henti. Kalaupun berhenti hanya sesaat dia akan menelpon kembali temannya. Entah teman yang tadi dia telpon atau teman yang lain lagi. Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan karena dia menggunakan bahasa negerinya. Saya mulai kesal dengan kebiasaan barunya ini hingga pernah saya sindir bahwa dia sekarang ini layaknya bussiness woman karena banyak yang menelpon.

Pernah saya tanyakan berapa pulsa telepon yang dia bayar setiap bulan, wow, empat kali dari pulsa yang saya bayar. Alasannya karena dia sering menelpon anak semata wayangnya yang tinggal nun jauh di negerinya. Lalu saya beri saran agar dia mengurangi kebiasaan menelpon bila tidak terlalu penting. Sayang kan, uang yang dia dapat kalau akhirnya dia keluarkan hanya untuk pulsa. Belakangan dia mengganti fasilitas pembayaran teleponnya dengan produk budget control. Waah lebih pintar dia.

Usai mengepel, menyetrika, sambil menelpon

Kebiasaannya menelpon sambil bekerja tidak berkurang bahkan makin bertambah. Buat saya hal ini mengganggu efektifitasnya dalam bekerja. Dia selalu menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan leher kanannya sambil menyapu, mengepel, mencuci piring, dan menyetrika. Saya tegur dia, kalau dia bisa bekerja lebih cepat bila menggunakan kedua tangannya secara bebas tanpa hambatan. Eeh, ternyata dia tidak habis akal, dia ambil sebuah kabel panjang dari dalam tasnya, dia sambungkan bagian ujung kabel ke telepon genggamnya lalu bagian ujung lain ke telinganya, hands free….

What to do…what to do….