Monthly Archives: March 2011

ECONOMY CLASS FLY TO BUSSINESS CLASS

Standard


 

Stasiun Serpong

Selembar potongan kardus ukuran dua kali majalah telah saya lipat menjadi dua bagian. Tak boleh kotor bagian dalamnya karena akan digunakan untuk alas duduk di kereta. Kereta yang akan saya tumpangi dari stasiun Palmerah sudah penuh oleh penumpang dari stasiun Tanah Abang sehingga tak ada lagi kursi kosong di semua gerbong.  Kursi penumpang hanya tersedia di sepanjang sisi kiri dan kanan gerbong. Kira-kira perbandingannya hanya sepersepuluh yang akan mendapatkan kursi dalam satu gerbong.

Tiap-tiap penumpang punya tempat terenak menurut versi masing-masing. Saya masuk ke tengah gerbong lalu menggelar potongan kardus untuk dijadikan alas duduk di lantai gerbong. Lebih baik memilih cara ini, nggak pegel, sementara penumpang lain berdiri di sekitar saya. Lumayaaan, masih 7 stasiun yang akan saya lewati untuk tiba di stasiun tujuan, Serpong. Beberapa penumpang juga memilih cara seperti ini duduk melipat kaki di lantai gerbong kadang tanpa alas apapun. Beruntung kalau mendapatkan posisi di tiang yang terdapat di depan pintu gerbong sebagai penyangga pegangan tangan penumpang berdiri. Aah  saya duduk bersandar di tiang sambil melipat kaki. Bila penumpang tak begitu padat bisa meluruskan kaki.  Kalau sudah pewe,  posisi weenaak begini ayunan kereta membuat saya selalu mengantuk sambil terus berdoa agar cepat keluar dari himpitan ekonomi ini.

Selalu saya pilih gerbong terakhir  karena tidak banyak pedagang asongan dan pengamen yang hilir mudik. Udaranya pun lebih segar daripada gerbong lain karena pintu belakang gerbong yang biasanya menghubungkan dengan gerbong lain terbuka bebas sehingga lumayan banyak angin yang masuk ke dalamnya. Paling-paling hanya beberapa penumpang bergelantungan di pintu tersebut. Pernah juga saya masuk ke gerbong masinis tapi harus berdiri terus hingga tujuan plus  harus memberi ‘uang rokok’ untuk sang masinis.

Sebetulnya kereta bukan satu-satunya pilihan transportasi saya ke dan dari tempat kerja. Bus umum bisa jadi alternatif tetapi ternyata ongkosnya empat kali lipat tiket kereta karena harus tiga kali ganti bus jadi waktu yang ditempuhpun lebih lama. Jumlah penumpang bus pun tak kalah padatnya dengan kereta. Walau beberapa kali pernah juga kereta telat datang dari jadwal biasanya atau berhenti di sebuah stasiun lebih dari 1 jam tanpa pemberitahuan sebab dan kapan akan berakhir.

Jalur Kereta Jabodetabek

Setelah stasiun Palmerah kereta akan berhenti di stasiun Kebayoran Lama. Gerbong akan semakin padat lipatan kaki saya semakin rapat. Umumnya penumpang Kebayoran Lama  adalah pedagang sayur atau buah-buahan yang berjualan di pasar tak jauh dari stasiun.  Segala macam bau tak sedap campur baur di dalam gerbong. Bau keringat yang menempel di badan mereka, bau sayuran atau buah sisa dagangan mereka, bau asap rokok yang menempel di pakaian lusuh mereka. Mereka akan menggantungkan keranjang kayu pikul tempat menyimpan dagangan yang telah kosong ke pintu belakang gerbong. Kemudian mereka mengambil posisi duduk seperti saya bergabung dengan penumpang lain lalu bermain gaple. Entah siapa yang selalu membawa kartu permainan tersebut saya tak pernah tahu. Sambil melemparkan kartu gaple ke lantai gerbong mereka ngobrol ragam persoalan terkini.  Apa saja, pemerintahan, kriminalitas, selebritis, dan lain sebagainya. Lucunya kadang mereka mengomentari salah seorang dari mereka sendiri sambil tertawa-tawa.

Sesungguhnya saya tak mengerti secara pasti apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa Sunda logat Banten. Saya tahu lucu karena mereka semua tertawa lepas. Lepas…seperti tak ada beban hidup dalam tawa mereka. Kadang saya pun ikut tersenyum karena sedikit mengerti apa yang mereka tertawakan. Suasana keakraban sangat terasa di dalam gerbong. Meski saya tidak pernah tahu persis nama-nama mereka tapi kami seperti saling mengenal. Bagaimana tidak  lah wong  hampir setiap hari kami bertemu di gerbong ini. Sudah 2 tahun lebih, setiap hari Senin sampai dengan Jumat saya naik kereta pulang dari tempat kerja di Palmerah ke rumah di Serpong.

Pernah suatu kali seorang bapak tua, kira-kira usia setengah abad, penumpang asal Palmerah tak kelihatan di dalam gerbong ini hampir tiga pekan. Ketika akhirnya beliau muncul beberapa penumpang dengan ramah menanyakan kabar beliau. Ternyata beliau yang kemudian hari saya tahu bekerja di percetakan Gramedia Palmerah pergi cuti mengunjungi anaknya di luar kota. Semua penumpang bernapas lega mengetahui hal itu. Saya pun turut lega setelah mencuri dengar jawaban beliau kepada seorang ibu yang menanyakan kabarnya.

Suatu waktu saya terpaksa membawa kedua anak saya ke tempat kerja saat mereka libur sekolah sedangkan asisten rumah paruh waktu kami, Bi Maning, tak datang sehingga tak ada yang menemani mereka di rumah. Setelah seharian menunggui saya bekerja mereka sangat kelelahan dalam perjalanan pulang. Saya duduk dilantai gerbong sambil memangku mereka berdua yang terlelap tidur. Seorang pria muda duduk di belakang saya, berkemeja rapih, membawa amplop coklat besar ukuran Folio, layaknya seorang pegawai. Siapa sangka bahwa ia seorang pencopet yang mencoba merogoh tas tangan saya yang tersampir kebelakang badan. Beberapa  penumpang tak jauh dari saya berteriak ke arah saya,

Neng, tasnya pindahin ke depan”.

Oow, saat saya menoleh ke belakang, pria tersebut salah tingkah, matanya pura-pura menatap ke atap kereta.

Terdengar lagi teriakan penumpang di sisi kanan saya ke arah pria muda tersebut,

“Stasiun depan lo kudu turun kalo kagak mau mati di gerbong ini”.

Pheeww  lemas jantung saya mengetahui hal tersebut kalau tidak diberitahu habis sudah isi tas saya meski hanya beberapa lembar uang ongkos saya untuk hari itu. Tak lupa saya ucapkan terimakasih pada penumpang yang memberi tahu saya.

 ***

“Good evening madam would you like anything from our welcome drink?” tanya seorang awak kabin sambil tersenyum kepada saya. Walau ramah tapi ia telah memecahkan lamunan saya di KRL 13 tahun silam.

 “Oh eeh ehmm,  yes please, what do you have?”, saya tergagap menjawabnya.

“We have fresh orange juice, lemon and mint, sparkling water, and vintage champagne”,  lanjutnya lagi.

Sebetulnya saya masih kenyang tapi saya jawab saja,

“Hmm, orange juice please”,  sekedar untuk menyegarkan badan saya.

Fresh orange juice  

Sementara menunggu penumpang kelas ekonomi masuk ke kabin  para penumpang kelas bisnis disuguhi minuman dan surat kabar. Suguhan kepada penumpang kelas bisnis berbeda dengan suguhan untuk penumpang kelas ekonomi. Piring dan gelas untuk penumpang kelas bisnis terbuat dari beling seperti layaknya suguhan resto hotel bintang lima lengkap dengan serbet makan sedangkan penumpang kelas ekonomi disuguhi makanan menggunakan piring dan gelas plastik atau aluminium sekali pakai. Makanan dan minuman penumpang kelas bisnis lebih banyak pilihannya dibandingkan untuk penumpang kelas ekonomi yang umumnya hanya dua pilihan.

kursi luas dan bisa dimiringkan seperti tempat tidur

Sambil menunggu minuman yang saya pesan, saya putar ke kiri katup pendingin ruangan yang terletak tepat di atas kepala saya. Tak terasa angin kencangnya menyembur kepala saya. Saya perhatikan penumpang kabin kelas bisnis yang hanya empat baris tidak penuh. Barisan kursi kanan kiri saya kosong. Hanya ada seorang wanita muda dengan seorang anak yang duduk di baris kursi paling depan. Wangi parfumnya meski lembut tapi sangat menyengat hingga ke hidung saya. Baris kursi di depan saya terdapat sepasang suami istri bule. Kemudian datang lagi awak kabin lain menawarkan surat kabar dan membagikan pakaian tidur untuk selama perjalanan. Tak lama datang lagi awak kabin sebelumnya mengantarkan minuman yang saya pesan. Saya teguk sedikit demi sedikit.

Kemudian terdengar pengumuman awak kabin bahwa pesawat siap lepas landas. Saya kenakan sabuk pengaman.  Saya ambil novel dari tas tangan lalu saya tarik lampu baca di samping kursi. Saat lepas landas selalu saya manfaatkan untuk membaca novel. Setelah pesawat mengudara saya ganti pakaian tidur yang tadi dibagikan agar pakaian saya tak lusuh. Kembali duduk ke kursi saya tekan tombol di samping kursi hingga kursi mencapai kemiringan seratus delapan puluh derajat.  Saya tutup seluruh badan dengan selimut yang telah disediakan. Saya tarik remote control  di samping kursi untuk memilih film di layar TV yang menempel di kursi depan. Saya tutupi seluruh badan dengan selimut lalu meluruskan kaki. Lumayaan, sembilan jam perjalanan ke tanah rantau  setelah dua hari di Jakarta khusus menonton Teater Koma membuat badan agak kaku. Lebih dari sekedar posisi weenaaakk….. hati saya pun ikut  pewe.

meluruskan kaki

posisi weenaak

Tak pernah saya mimpi atau berdoa agar bisa menikmati kursi senyaman ini dengan layanan ekslusif karena saya kira semua kursi di pesawat sama saja tegak lurus sembilan puluh derajat, paling-paling bisa dimundurkan sedikit. Ternyata Allah mengabulkan lebih dari yang saya pinta bahkan yang belum terucap sekalipun.

Hingga akhirnya Allah mengatur rizki kami, suami saya bisa merantau ke negeri orang hampir tujuh tahun lamanya. Perjalanan saya dari rantau ke tanah air pulang dan pergi mengharuskan kami menggunakan pesawat. Atas fasilitas tempat suami bekerja, saya dan anak-anak bisa menikmati kursi nyaman ini baik ke tanah air atau negara tujuan kami berlibur. Tak perlu membayar hingga puluhan juta tapi kami tak pernah bisa melupakan begitu saja posisi weenaak  saya di KRL Ekonomi Serpong.

Inna Ma’al ‘Usri Yusra : Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan (An Insyirah: 5-6)

Bussiness Menu