Monthly Archives: April 2011

THE ROYAL WEDDING

Standard

Thought Of The Day

courtessy davegranlund

Tigapuluh tahun silam pernikahan orang tua Pangeran William membuat saya tak bergeming dari depan televisi yang dipancarkan stasiun TV satu-satunya milik pemerintah. Saya masih gadis kecil usia sekolah dasar tapi saya masih ingat jauh-jauh hari sebelum pernikahan megah tersebut, demam terhadap calon ratu tersebut sudah menggema. Potongan rambutnya menjadi trend saat itu, foto ibunya, Lady Diana sang calon ratu terpampang di setiap kaca salon.

Model cincin tunangan Lady Di – Charles, bentuk oval batu safir biru dikelilingi berlian, menjadi model cincin masa itu. Disebutnya pun cincin Lady Di, satu set dengan liontin dan giwangnya. Perangko bergambar pasangan tersebut menjadi target para kolektor termasuk saya. Rasanya saya sebagai gadis kecil saat itu bermimpi ingin seperti Lady Di, seorang guru TK dipersunting calon raja. Lebih-lebih pengaruh dongeng-dongeng masa kecil, Cinderella, Putri Salju, Bawang Merah – Bawang Putih menambah mimpi itu seakan bisa nyata.

Pernikahan yang disebut-sebut termegah di abad itu, hari ini menjadi terulang kembali di rekaman kepala setiap orang saat menonton siaran langsung The Royal Wedding of Duke dan Duchess of Cambridge. Hasilnya adalah membanding-bandingkan antara pernikahan Prince Charles dan Princess of Wales dengan Duke and Duchess of Cambridge. Mulai dari wajah, popularitas di kalangan rakyatnya hingga yang pasti dibandingkan oleh para wanita adalah busana pengantin wanita. Akhirnya yang ada di benak kepala kita para penonton frustasi yang hanya diundang melihat dari TV adalah sebuah pertanyaan “Akankah pernikahan ini berakhir seperti pernikahan orang tua mereka?” yang kandas di usia 14 tahun pernikahan.

Lookalikes Lady Di

Buat saya tak peduli karena saya tak kenal mereka demikian pula sebaliknya. Saya pun tak peduli kontroversi megahnya pernikahan mereka ditengah krisis ekonomi yang melanda Eropa bahkan dunia. Buat saya pernikahan mereka wajar-wajar saja untuk ukuran kerajaan.

Entah kenapa pikiran saya jadi kemana-mana, jadi teringat pada pesta-pesta pernikahan sahabat, kerabat dan akhirnya artis. Heuuhh, kalo ingat pernikahan artis-artis ibu kota membuat geleng-geleng kepala. Belum 3 bulan pernikahan sudah mengunjungi Pengadilan Agama. Padahal megahnya pesta pernikahan mereka masih terekam di benak para tamu dan para wartawan. Bahkan ada yang pesta jauh ke seberang pulau menelan biaya milyaran alih-alih cuma seumur hidup toh akhirnya kandas di usia 1 tahun pernikahan.

Saya memang tak peduli uang yang dikeluarkan oleh para pelaku pernikahan pasti sesuai dengan kocek mereka tapi entah kenapa benak saya selalu gemes koq ya mereka nggak mikir ada hal yang lebih penting dari sebuah pesta pernikahan. Adalah esensi pernikahan itu sendiri lebih penting daripada pestanya. Mempertahankan pernikahan lebih berharga ketimbang pestanya. Aaah tapi itu kan kata saya, siapa yang peduli….

The Royal Wedding

Seorang kerabat merayakan pernikahan megah di salah sebuah gedung pertemuan di pusat kota akhirnya kandas setelah lahir anak pertama mereka setahun kemudian. Kemudian masing-masing menikah lagi untuk kedua kalinya yang hanya dihadiri keluarga tanpa undangan luas. Hingga kini mereka masing-masing bertahan dengan pernikahan keduanya hampir 10 tahun.

Ada juga seorang kerabat yang pejabat merayakan pesta pernikahan anaknya yang masih kuliah hingga bulan madu ke Singapura tapi siapa sangka bahwa si anak hidupnya kacau tak punya pekerjaan hingga si ayah tak menjabat lagi tapi masih untung pernikahan itu tetap bertahan.

Dalam Islam mengadakan resepsi pernikahan adalah keharusan setelah dilangsungkannya ijab kabul sebagai pemberitahuan kepada umum bahwa mereka sudah menikah untuk menghindarkan fitnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw yang ditujukan kepada Abdurrahman bin ’Auf r.a., ”Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing”. Soal megah atau tidak sebetulnya relatif toh buktinya mereka yang saya katakan megah bisa membayar baju pengantin, sewa gedung, kursi pelaminan, hidangan untuk 1000 atau lebih undangan. Belum lagi rias pengantin, undangan, seragam panitia. MashaAllah jadi banyak banget komponen biaya yang harus dikeluarkan bukan hanya ‘seekor kambing’ lagi.

Sebelum pesta berlangsung beberapa kali rapat keluarga diselenggarakan. Membicarakan segala persiapan ini itu. Seragam panitia pun bermacam-macam, untuk keluarga mempelai wanita dari pihak bapak akan berbeda dengan seragam keluarga mempelai pria dari pihak bapak. Belum lagi seragam panitia untuk sahabat-sahabat mempelai wanita. Siapa saja yang akan menjadi penerima tamu di pernikahan dan resepsi akan berbeda orangnya. Alasannya karena sekali seumur hidup so it must be a thoughtfull party.

Mungkin ada produk Bank atau KTA (Kredit Tanpa Agunan) untuk biaya pernikahan tapi apakah ada biaya untuk kelangsungan pernikahan agar bertahan hingga akhir hayat. Mungkin pula orangtuanya sudah menabung untuk sebuah pesta pernikahan anak mereka. Ada juga yang meminta calon pengantin menunda pernikahan mereka setahun bahkan 2 tahun demi untuk mengumpulkan biaya pernikahan.

Bila akhirnya pernikahan tersebut kandas di usia awal pernikahan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih dari itu. Betapa kecewa orang tua mereka setelah membujuk pasangan tersebut. Jalan damai cara kekeluargaan tak bisa lagi ditempuh. Betapa sia-sia nya waktu dan biaya yang telah dikeluarkan mempersiapkan the thoughtfull party.

Apakah ada yang mempersiapkan agar para mempelai bisa mempertahankan pernikahan mereka. Ada nggak yang mau mengeluarkan biaya untuk itu. Kembali meluruskan niat awal pernikahan yang katanya SAMARA. Ada nggak biaya untuk mewarnai kembali warna pernikahan yang mulai luntur agar kembali seindah pelangi seperti di awal pernikahan.

Jadi teringat akan pesta pernikahan saya sendiri 17 tahun lalu. Sederhana buat saya ijab kabul di rumah sederhana orang tua saya, keesokannya walimah di sebuah mesjid kecil. Seiring perjalanan hidup saya lupa pernah mimpi untuk sebuah kemegahan pesta pernikahan ala Cinderella.

Saya justru merasakan kemegahan pernikahan sekarang ini. Ketika akhirnya kami selalu punya waktu shalat berjamaah berdua hingga hadir anak-anak kami, halaqoh setiap usai shalat, memeriksa hapalan Quran mereka, mengajarkan kehidupan pada anak-anak yang mulai beranjak dewasa. Bahwa suami saya punya cukup waktu menemani anak-anak belajar, makan bareng di warung kaki lima, nonton bareng ke bioskop yang belum tentu dimiliki oleh semua keluarga.

Kemegahan pernikahan saya adalah saya merawat cinta kasih saya pada belahan jiwa saya, merasakan betapa besar cintanya pada saya dan anak-anak melalui kerja keras, waktu dan pikirannya….

Advertisements

ANNIVERSARY CUP CAKE

Standard

Bila bertemu dengan kenalan-kenalan baru di kota kecil ini pastilah dari mereka akan bertanya di perusahaan mana suami saya bekerja. Umumnya para pendatang di kota ini bekerja di perusahaan minyak. Nah kalau sudah ada yang bertanya seperti ini,

“Suami kerja di oil company ya mbak?”, tanya kenalan baru saya.

“Ooh bukan, suami saya supir”, jawab saya sembari senyum. Walau kadang beberapa kali ada yang   nggak ngeh, dikiranya benar-benar supir kemudian saya harus menjelaskan dengan eksplisit :). Kalau yang ngeh pasti akan komentar,

The Pilot

“Aah bisa aja si mbak ini, supir burung besi kaan?”, ia pun sembari senyum memberi komentar atas jawaban saya.

“Supir bis malam antar negara”, jawab saya lagi masih sembari senyum.

“Dulu mbak pramugari ya?”, pertanyaan lanjutan yang standard.

I was a teacher”, jawab saya mantap. Barulah saya bercerita panjang lebar, bla..bla..bla…  kalau kenalan baru tersebut bertanya lebih lanjut koq bisa-bisanya seorang guru ketemu pilot.

The Teacher

Saya sudah jumpa dengan si pilot justru sejak ia sebelum jadi pilot tepatnya kami sudah satu sekolah sejak SD tetapi kami akrab sejak SMP. Hubungan kami pun berlanjut hingga kami sama-sama kuliah kemudian maju ke pelaminan. Setelah punya anak satu barulah ia sekolah pilot.  Heeuuhh, cappee deeh ceritanya…. ;)  then here we are….. 17 years together….

                                 THE PILOT MEETS THE TEACHER

The Pilot Meets The Teacher


photo taken by:  dhia

cup cake by:  y u s y s c a k e

SWEET SEVENTEEN

Standard

Dear suamiku,

Menyusuri jalan mulus

Menyebrangi lautan tenang

Menjadi lebih indah karena kulewati bersamamu…

Diikuti langkah-langkah kecil sebagai amanah Ilahi..

Kerikil tajam dapat kutapaki

Badaipun aku terjang

Karena genggaman erat tanganmu

Tak pernah kulupa saat kau pinta diriku

Dari ayahku

17 tahun silam 9 April 1994

Terimakasih telah memilihku

Meski banyak pilihan untukmu :)

Terimakasih telah menjadi imam bagiku

Terimakasih atas kerja kerasmu untuk kami

Menjadi ayah terbaik bagi anak-anakku

Maaf bila getaran cinta tak seperti dulu lagi

Rindu tak begitu menggebu

Perhatian telah tersita

Mungkin karena kesibukanku di dapur

Mengurus ini itu di dalam rumah

Walau begitu,

Semua ini sangat indah

Sangat manis


-love: Ibu-


***

Thaif 9 April 2011

Ya Allah jauhkan kami dari cinta yang salah

Cinta yang menjauhkan kami dari surgaMu

Ya Rahman jadikan anak keturunan kami selalu menegakkan shalat

Mampu bersyukur atas nikmatMu

Walau sekecil apapun

Ya Allah himpun kami di FirdausMu

Bersama RasulMu, para sahabat, dan hamba2 terbaikMu

-Masjidil Haram 2011- Read the rest of this entry