Tag Archives: Daarut Tauhid

Siswa Qatar Mondok Di Daarut Tauhid – Bandung Selama Ramadan

Standard

Libur bagi siswa sekolah adalah hal yang sangat dinanti-nanti,  tidak melakukan kegiatan belajar sama sekali. Libur sekolah di Indonesia umumnya berlangsung  selama dua hingga tiga pekan cukup bagi siswa untuk istirahat dari kegiatan belajar di sekolah. Orang tua akan mengisi libur anak dengan kegiatan menyenangkan.  Nah bagaimana bila libur sekolah berlangsung lebih dari dua bulan? Sedangkan dua pekan saja membuat para orangtua kebingungan untuk mengisi waktu libur mereka apalagi dua bulan !!!

Libur sekolah di Eropa dan Amerika berlangsung lebih dari dua bulan untuk musim panas. Termasuk sekolah-sekolah dengan kurikulum Eropa dan Amerika yang ada di luar wilayah tersebut. Itu sebabnya banyak kegiatan  Summer Camp  di Eropa dan Amerika untuk mengisi libur musim panas. Di Timur Tengah banyak sekali sekolah-sekolah berbasis kurikulum Inggris dan Amerika yang mengikuti libur sekolah negara asalnya. Apalagi musim panas di Timur Tengah bisa mencapai angka 50 derajat celcius !!!  Bayangkan kalau tidak libur bagaimana tubuh harus menyerap panas matahari yang sangat menyengat setiap hari. Maka tak heran saat musim panas bulan Juli-September kota-kota di Timur Tengah sepi dari siswa-siswa sekolah dan para ibu yang berlibur ke negara asal mereka.

Demikian pula dengan warga Indonesia di Qatar yang umumnya anak-anak mereka menuntut ilmu di sekolah internasional berbasis kurikulum Inggris dan Amerika libur musim panas berlangsung selama dua setengah bulan. Orang tua harus kreatif dalam mengisi libur sekolah agar anak mereka tidak bosan atau hanya menatap layar komputer yang terhubung dengan internet. Untuk libur di kampung halaman banyak sekali pilihan untuk mengisi kegiatan anak-anak selain pergi ke tempat hiburan atau ada yang mengikut sertakan anak-anak dalam les pelajaran atau bergabung dengan klub olah raga.

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Tahun ini diprakarsai oleh Tentang Qatar beberapa orang tua berinisiatif mengisi libur sekolah anak mereka dengan menimba ilmu di pesantren Daarut Tauhid ( DT ) milik KH Abdullah Gymnastiar di Bandung. Kegiatan ini telah berlangsung selama tiga pekan sejak hari ke dua Ramadan 22 juli hingga 12 Agustus 2012 yang lalu. Seluruh santri berjumlah 17 siswa putra lalu pada satu pekan terakhir bertambah 2 siswa putri. Usia mereka berkisar dari 7 hingga 15 tahun. Berharap liburan kali ini mempunyai nilai lebih dengan diisi hal-hal bermanfaat tanpa mengurangi nilai kesenangan. Konsep yang ditawarkan DT diharapkan dapat memberi pengalaman unik yang berharga dan memfasilitasi proses perkembangan santri. Kegiatannya selain dilakukan dalam ruangan untuk mentoring juga dilakukan di luar ruang, alam terbuka agar peserta tidak jenuh.

Mentoring ala DT dengan konsep Manajemen Qolbu ( MQ ) yang banyak menggunakan istilah sebagai kata kunci menjadi mudah diingat oleh santri. Terbukti saat berkomunikasi atau bersenda gurau sesama santri seringkali saling mengingatkan dengan istilah-istilah SMOS ( Suka Melihat Orang Susah / Susah Melihat Orang Senang ), Terapi Penyakit Qolbu TENGIL ( Takabur Egois Norak Galak Iri Lalai ), Menjadi Remaja Unggul dengan 3A (Aku aman;  Aku menyenangkan;  Aku ), dan Menjadi Pribadi Simpatik dengan 5S ( Salam  Sapa Senyum  Sopan  Santun ).

Mentoring, tausiyah, tadarus, tahfiz harian yang sangat padat tidak membuat santri jenuh karena selalu diselingi dengan  ice breaking  dan istirahat siang.  Selain pemberian materi ada juga  kegiatan luar ruang yang menyenangkan seperti olah raga atau  fun games  yang membutuhkan kerja sama kelompok sehingga santri seakan-akan bermain padahal mereka sedang diajarkan kerjasama kelompok.

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Selain itu setiap akhir pekan santri melakukan i’tikaf   di pesantren lain agar melihat juga ragam kehidupan  dan berinteraksi dengan warga lain. Asal tahu saja mereka menuntut ilmu di sekolah Internasional  yang berisi murid-murid dari berbagai bangsa – multi cultural – dan berbagai macam agama tetapi berstrata sosial yang sama maka sangat perlu buat mereka berinteraksi dengan ragam sosial yang berkelas-kelas di tanah air sehingga  mereka peka terhadap lingkungan sekitar.

Kegiatan luar ruang selain  outbound  juga mengadakan kunjungan sosial ke salah satu  pesantren Pondok Asuhan yatim piatu dan dhuafa membuat mereka berbaur karena melihat dan berinteraksi langsung dengan para santrinya. Santri bermalam di pondok tersebut melakukan kegiatan tadarus, olah raga, sahur dan buka puasa bersama dengan makanan seadanya yang sama porsi dan macamnya bagi semua penghuni pondok. Tidak ada yang lebih banyak atau mendapat lebih sedikit jatahnya, semua sama. Mereka juga menyaksikan pesantren yang  mandiri pangan dengan berkebun dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di lingkungan pondok. InshaAllah kunjungan ini sangat membekas di hati mereka.

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

 

 

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

 

Santri juga melakukan kunjungan wisata sejarah ke Museum Konperensi Asia-Afrika, Museum Geologi, dan Goa Belanda yang ada di kawasan Bandung. Untuk wisata seni mereka mengunjungi Saung Udjo menikmati kesenian Jawa Barat sambil belajar bermain angklung serta mengunjungi industri kerajinan batik untuk melihat proses pembuatan batik tulis dan cap sekaligus membuat sendiri sapu tangan batik cap karya masing-masing.

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Usai  mondok  di DT diharapkan santri lebih meningkatkan ibadah mereka selain ibadah wajib juga melaksanakan ibadah sunnah karena selama mondok mereka teratur melaksanakan  salat sunat rawatib, dhuha, zikir, dan tadarus tiap subuh. Gavin dan Ravi peserta kakak adik yang berayahkan  kebangsaan Amerika dan ibu WNI sangat senang dengan kebersamaan selama  mondok  di DT.  Ariq, 14 tahun sangat  enjoy  dengan kegiatan ini.

Kegiatan ini juga menjadikan latihan berbahasa Indonesia semua santri karena mereka sehari-hari berbahasa Inggris di sekolah dan pergaulan. Berdasarkan komentar beberapa orang tua melihat perubahan yang baik terhadap anak-anaknya setelah  mondok  di DT. Semua santri berharap bila acara serupa diadakan lagi tahun depan. Seorang santri,  Arif 15 tahun,  sempat berseloroh , “Seandainya para pejabat diikut sertakan dalam kegiatan MQ selama tiga pekan maka InshaAllah tidak akan korupsi.” Ia merasa Manajemen Qolbu selama 3 pekan sangat efektif menggembleng santri