Monthly Archives: January 2010

SUPER MOM

Standard

oleh Nana Fadjar

Tadi pagi ketika pengajian ibu-ibu berlangsung di rumah saya ada seorang ibu dengan anak balitanya yang baru hadir pertama kali dalam Majlis Taklim ini. Sebelum acara berlangsung beliau sempat berbincang dengan saya yang sedang sibuk sendiri di dapur menyiapkan hidangan untuk usai pengajian nanti.

“Sudah lama tinggal di Qatar mbak?” mulainya.

Selalu saya jawab pertanyaan seperti ini dengan senyum “Hmm… baru 5 tahunan”.

Agak kaget mendengar jawaban saya, ia menyahut, “Waaah 5 tahun mah lama atuh mbak. Anaknya berapa?”.

“Tiga  yang bungsu lahir di sini 4 tahun lalu sementara dua kakaknya sudah besar” jawab saya santai.

Nggak punya pembantu mbak? Terus anak-anak yang antar sekolah mbak sendiri?” ia ingin lebih tahu tentang saya.

Nggak laah tapi saya punya part time maid yang datang 2 kali sepekan. Perdatangnya cukup 2 jam setrika baju dan beresin dapur. Kalau sekolah ya saya antar sendiri,” jawab saya.

Wuihkoq betah ya 5 tahun nggak punya pembantu punya anak 3. Saya baru 2 bulan aja udah nggak betah bawaannya mau pulang aja deh ke Jakarta. Repot banget megang anak 1.5 tahun nggak punya pembantu. Untung kakaknya umur 4 tahun sudah saya masukkan ke Kindergarten. Mana saya belum bisa nyetir  jadi kemana-mana harus telpon taksi. Ambil SIM di sini katanya susah ya mbak? Nggak kayak di Jakarta tinggal nembak aja,” jawabannya seperti kesal pada diri sendiri.

Kalau sudah ada yang kesal dengan situasi seperti ini selalu saya jawab dengan motivasi “Santai aja lagi mbak. Kalo kita sering ikut kegiatan seperti ini ntar juga lama-lama betah looh. Saya aja baru dapat SIM sini setelah 3 kali ujian. Itupun yang terakhir kali waktu saya hamil 6 bulan.”

Akhirnya perbincangan kami terhenti karena ustaz sudah hadir. Pertanyaan-pertanyaan seputar ini seringkali dilontarkan oleh ibu-ibu yang baru beberapa bulan ikut suami bekerja di Qatar. Dalam hati saya ia akan lebih terkaget-kaget lagi kalau tahu saya mengikuti kelas bahasa Arab setiap 2 kali dalam sepekan. Tidak hanya saya tapi ibu-ibu lain yang hadir di Majlis Taklim itu juga punya kegiatan yang sama persis dengan saya. Nyaris setiap harinya diisi dengan kegiatan manfaat baik itu olah raga ataupun menuntut ilmu.

Tidak ada yang mengeluh, semua itu pilihan apakah kita mau mengisi hari-hari kita di rumah atau di luar rumah sementara anak-anak kita di sekolah. Apalagi saya memiliki suami yang seringkali bertugas hingga berhari-hari membuat saya harus melakukan pekerjaan rumah seorang diri.

Sebetulnya apakah kita seorang diri mengurus semua urusan tetek bengek rumah tangga? Buat saya tidak karena ada anak-anak yang bisa kita minta bantuannya. Lagipula bukankah anak-anak kita jauh lebih mandiri daripada anak-anak yang dibantu oleh asisten rumah. Sejak pagi hari anak-anak sudah mandi dan berpakaian sendiri sementara saya menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mereka. Pertama kali saya tinggal di Doha anak sulung saya masih kelas 4 SD dan adiknya kelas 3 SD. Pakaian yang sudah disetrika oleh part time maid  kami akan mereka ambil dari laundry room untuk kemudian mereka simpan sendiri ke lemari masing-masing. Pakaian kotorpun akan mereka masukkan ke mesin cuci bila melihat saya belum sempat melakukkannya. Mereka akan menyimpan piring-piring kotor bekas makan kami ke mesin cuci piring usai waktu makan berikut lauk pauk akan mereka simpan di dapur.

Suami sayapun tidak segan membantu pekerjaan rumah bila sedang libur dari pekerjaannya. Kami akan menyantap sarapan pagi nasi goreng buatan suami yang membuat ketagihan anak-anak kami. Apalagi ketika saya baru melahirkan anak bungsu kami 4 tahun silam, ia rela menyedot debu-debu di sudut rumah yang tidak sempat saya sentuh karena kesibukan saya mengurus bayi. Tentu dibutuhkan pengertian yang sangat besar antara kita dengan pasangan kita bahkan dengan anak-anak kita.

Bayangkan kalau anak-anak tidak diberi pengertian, wuiihhh, usai masak lalu menghidangkan di meja lalu membersihkan perangkat makan sementara anak-anak hanya tinggal duduk kemudian menyantap makanan setelah itu pergi ke kamar masing-masing. Oooh nooo, saya bukan babu….

Dari sebuah buku saku yang pernah saya baca di toko buku Jarir kalau tidak salah judulnya Super Mom, lupa pengarang dan penerbitnya, dituliskan bahwa seorang super mom bukanlah mereka yang dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tetapi adalah mereka yang mampu berbagi pekerjaannya dengan orang lain. Tidak ada salahnya bila kita memanggil pekerja paruh waktu ketika kita merasakan diri kita kurang sehat agar pekerjaan terselesaikan dan kitapun tetap bugar. Super mom bisa menyiapkan masakan yang praktis tanpa kehilangan waktu untuk dirinya sendiri misalnya untuk membaca buku kesukaannya. Bukanlah seorang super mom bila akhirnya tidak sempat merawat diri dan penampilannya hingga nampak kusut wajahnya karena sudah habis waktunya di dapur karena masak dan membersihkan rumah seorang diri. Apalagi bila tidak ada waktu untuk berolah raga.

Nah untuk urusan masak bukan masalah sulit buat saya. Sejak berhenti bekerja lalu ikut suami bekerja ke Qatar saya jadi hobi mencoba resep-resep baru. Apalagi ketika masih hamil belum tersita waktu saya untuk mengurus bayi, memasak merupakan pekerjaan saya setiap hari. Ketika kembali ke rumah setelah melahirkan anak bungsu saya melalui C section sayapun tetap masak. Lah wong ibu menyusui pasti lapar terus dong. Hingga akhirnya bayi saya mulai merangkak dan berjalan saya agak kerepotan dalam hal masak. Tidak boleh lengah sedikitpun meskipun si bayi sedang tidur. Saya pilih menu-menu praktis untuk sehari-hari. Sayapun terbantu oleh beberapa teman yang bersedia melayani jasa catering. Memang akhirnya harus mengeluarkan uang lebih dari biasanya tetapi dibandingkan keselamatan bayi saya tak adalah artinya. Sampai sekarang si bungsu sudah sekolah saya masih menggunakan jasa catering di hari saat saya mengikuti kursus bahasa. Sisanya saya akan masak sendiri hingga di akhir pekan.

Lalu untuk antar jemput sekolah saya berbagi dengan seorang sahabat saya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah saya. Suatu kebetulan pula ketiga anak-anak kami berusia sama jadi merekapun berada di jenjang sekolah yang sama. Anak bungsu saya yang masih di KG akan keluar sekolah pukul 12.30 sementara anak sulung dan anak ke dua saya usai sekolah pukul 14.00 bila ada school activity. Bayangkan kalau saya tidak punya sahabat untuk berbagi tenaga mengantar dan menjemput sekolah, saya seperti setrikaan doong. Usai kursus bahasa Arab pukul 12.15 saya akan menjemput anak bungsu saya dan anak sahabat saya yang sama-sama di KG. Sahabat saya akan menjemput anaknya dan anak-anak-anak saya pada pukul 14.00. Selain menghemat tenaga, menghemat waktu dan juga menghemat bahan bakar.

Pandai mengatur waktu dan tenaga menjadikan kita super mom yang cerdas bukan super mom yang habis waktu dan tenaganya hingga nampak lusuh. Untuk para moms yang baru hijrah ke negeri orang, syukuri dan nikmati urusan rumah tangga tanpa didampingi asisten rumah. Bukankah suami menjadi lebih sayang dan perhatian pada kita….

ANAK GAUL

Standard

oleh Nana Fadjar

Tadi sore saya dan anak-anak berkesempatan menghadiri Pesantren Kilat Remaja yang diadakan oleh KAIFA Doha di Club House Muaither Compound, Ar Rayyan area. Sebetulnya acara berlangsung sejak kemarin sore tapi karena kami baru kembali dari Indonesia maka kami datang sore ini. Kebetulan acara sesi terakhir akan berlangsung, Talk Show: Kamu Vs Ortu. Acara tersebut dipandu oleh pembicara utama didampingi 4 orang tua, masing-masing 2 bapak dan 2 ibu. Sebagai wakil dari remaja dipilih masing-masing 1 orang remaja putra dan putri. Pada kesempatan ini Alhamdulillaah saya dipercaya sebagai pembicara mewakili seorang ibu yang memiliki anak remaja.

Sebagai pembuka pembicara utama dalam hal ini ibu Fajriati M Badrudin, S.Psi menyampaikan pengalamannya ketika bekerja di Crisis Centre RSCM Jakarta. Beliau pernah menangani seorang remaja yang dibawa oleh ibunya ke pusat krisis tersebut. Remaja putrid itu ber usia 13 tahun kabur dari rumah bersama pacarnya. Ketika ditanya kepada anak tersebut mengapa kabur dari rumah, jawabannya tidak asing lagi karena dilarang berpacaran oleh orang tuanya. Tahukah remaja itu alasan mengapa ia dilarang berpacaran oleh ibunya? Ternyata ia tahu alasannya karena sang pacar yang berusia 20 tahun adalah seorang pengangguran yang selalu nongkrong di warung dekat rumahnya. Tentu saja ibunya khawatir akan masa depan anaknya yang masih usia sekolah. Tugas putrinya saat itu adalah belajar bukan berpacaran. Itulah sebabnya sang ibu melarang putrinya berpacaran apalagi dengan seorang pengangguran.


Contoh kasus lain yang disampaikan ibu Fajri adalah seorang remaja putra usia 14 tahun yang ditanganinya di pusat rehabilitasi korban narkoba. Remaja tersebut menguraikan kisahnya mengapa sampai akhirnya ia berkenalan dengan obat-obatan terlarang. Alasannya karena ayahnya sangat keras dalam hal mendidiknya hingga seringkali ia dipukul bila ia salah melakukan suatu pekerjaan. Sementara sang ibu selalu membelanya walau dirinya salah agar ia tidak dipukul oleh ayahnya. Akhirnya ia kehilangan kepercayaan diri hingga terjebak oleh kawan-kawannya yang menawari obat-obatan terlarang.

Analisa saya bahwa remaja-remaja di tanah air kita sangat mudah terjerumus pada kedua kasus tersebut. Antara lain karena di luar rumah anak-anak bisa bertemu dengan siapa saja, selain di sekolah yang tentu teman belajarnya, mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kendaraan umum atau bahkan di warung dekat rumah yang umumnya dijadikan tempat nongkrong para pengangguran atau pengedar narkoba. Bila kita tidak dekat dengan anak-anak remaja kita pastilah akan sulit mengetahui apa saja kegiatannnya setelah pulang sekolah, dengan siapa saja ia berteman, hingga akhirnya anak-anak kita terjebak pada masalah yang tentunya tidak kita harapkan.

~~~

Bagaimanakah dengan situasi remaja-remaja kita di Qatar ini? Jauh sekali dengan situasi di tanah air. Kemanapun mereka pergi, baik sekolah atau jalan-jalan ke pusat pertokoan hampir selalu diantar dan dijemput oleh orang tuanya karena minimnya fasilitas kendaraan umum. Siapa saja teman-temannya hampir semua kita kenal dan kita tahu siapa orangtua mereka. Dapat dikatakan mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Katakanlah pengangguran dan pengedar narkoba hampir tidak kita temukan di negara ini.

Bila tidak ada kegiatan di luar sekolah anak-anak remaja kita akan tinggal di dalam rumah duduk mendekam di hadapan komputer. Mereka akan chatting dengan teman-temannya atau sekedar melihat teman-temannya di situs jejaring ssosial yang sedang trend. Siapakah teman-teman chatting mereka dan dimanakah teman-temannya itu berada? Bisa jadi bukan hanya teman sekolahnya, bukan pula teman di Qatar, bukan pula teman-teman di tanah air. Bisa jadi pula teman-temannya yang berada di negara-negara lain, baik tua maupun muda.

Pernah suatu kali saya dapati di komputer anak remaja saya, foto-foto temannya yang terdapat di situs jejaring sosial membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Foto sepasang remaja kira-kira berusia 14 tahun bergandeng tangan dengan teman lawan jenis. Foto berikutnya lebih mendebarkan lagi, mereka tiduran berdua di atas rumput. Dengan rasa ingin tahu yang lebih besar saya buka lagi foto-foto lainnya, ada sepasang anak bergendongan, merekapun berlawanan jenis. Ketika saya tanyakan pada anak saya siapakah mereka, anak siapakah mereka, jawabannya cukup mengejutkan. Mereka adalah remaja-remaja Indonesia yang tinggal di Qatar. Di lain kesempatan saya pernah mendapati kata-kata yang dilontarkan di situs jejaring sosial dalam percakapan anak remaja saya dengan teman-temannya tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan, apalagi syariat Islam. Sekali lagi alasannya karena bercanda.

Batas-batas pergaulan antar lawan jenis hampir hilang di dalam diri mereka. Mereka menganggapnya hal itu sudah biasa toh tidak ada nafsu di antara mereka. Foto itu hanya buat gaya-gayaan saja alasannya. Bergendongan kan hanya bercanda siapa yang paling kuat menggendong temannya. Dapat kita maklumi karena umumnya mereka sekolah di International School yang minim sekali pendidikan Islaminya. Kita sebagai orang tua tidak boleh lengah dalam membekali mereka pendidikan akhlaq yang memang wajib diberikan dari rumah bukan dari sekolah. Himbauan yang sangat klise tapi kadang kita lengah karena situasi kesibukan yang ada di sini.

Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka tulis atau foto-foto yang mereka tampilkan di komputer dalam jaringan internet dapat dilihat siapa saja dimana saja. Buat saya jalur internet yang mereka gunakan hampir sama dengan jalan raya yang dilalui oleh remaja-remaja di tanah air. Pakaian apa yang mereka gunakan dapat dilihat khalayak ramai melalui situs jejaring sosial walau mereka tidak keluar rumah. Apa yang mereka katakan dapat didengar pula oleh siapa saja walau mereka duduk manis di dalam kamarnya.

Sekali lagi himbauan yang sangat klise bagi para ibu di Qatar, mari sama-sama kita turun ke ‘jalan raya’ disela-sela kesibukan kita untuk memantau anak-anak remaja kita. Memberi bekal akhlak dalam etika pergaulan mereka di jalur internet. Saya yakin para ibu sudah tahu caranya. Marilah kita bertukar pengalaman dan informasi dalam membina pergaulan remaja-remaja kita.

pergaulan remaja

Halaqoh Keluarga