Monthly Archives: December 2009

TITIPAN ANAK

Standard

Oleh Nana Fadjar

Read the rest of this entry

Advertisements

HUJAN SETAHUN SEKALI

Standard

Subhanallaah sudah 3 hari hujan menyirami Doha. Bagaimana tidak senang dan bersyukur karena rahmat Allah yang satu ini sungguh jarang datang ke negeri ini. Mungkin hanya setahun sekali di saat musim dingin. Berdasarkan prakiraan cuaca, akan berlangsung selama 4 hari.

Teringat hujan pertama kali yang aku rasakan di Qatar pada Desember 2004. Agak bingung juga, sebagai pendatang baru di tanah Arab, koq bisa turun hujan sederas ini. Ketika itu aku sedang berada di dalam taksi saat hujan semakin deras. Pengemudi taksi -seorang Pakistani- menyalakan radio yang menyiarkan berita dalam bahasa Arab. Sang pengemudi menjelaskan dalam bahasa Inggris -agak kurang fasih nampaknya- bahwa terjadi gempa di Indonesia. Aku tidak begitu terkejut karena memang sudah biasa di tanah airku terjadi gempa-gempa kecil. Jadi aku anggap saja berita biasa. Tidak lama kemudian telepon genggamku berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Astaghfirullah… terkejut membaca isi pesan dari seorang teman untuk menonton CNN bahwa terjadi gempa besar di Aceh.

Setelah tiba di rumah langsung kunyalakan TV, sungguh hancur hatiku melihat berita-berita yang menggambarkan kota Aceh tersapu air laut hingga porak poranda.

~~~~

Di Qatar, hujan merupakan peristiwa dalam setahun yang dapat dihitung dengan jari. Pernah suatu kali ketika sedang di kelas bahasa Arab, hujan turun rintik-rintik, seketika itu juga guruku yang berkebangsaan Qatar lari keluar kelas sambil menari-nari di bawah rintik hujan. Anak sulungku juga bercerita demikian bahwa saat hujan turun ketika pelajaran berlangsung, siswi-siswi asal Qatar berlarian keluar kelas seraya tertawa gembira. Anak bungsuku pun cerita hal yang sama bahwa dia dan teman-temannya dibiarkan berlari keluar kelas untuk menikmati guyuran hujan yang hanya sebentar. Tulisan teman-teman di Qatar pada situs jejaring sosial pun hampir sama: menikmati hujan di negeri orang…

Saking jarangnya hujan turun mereka asyik berbasah-basahan

Sementara hujan merupakan hal biasa di tanah airku bahkan seringkali menjadi bencana banjir. Teman-temanku di tanah air akan menulis statusnya di situs jejaring sosial dengan keluhan bahwa hujan membuat macet lalu lintas, aktifitas jadi terhambat karena hujan dan sederet keluhan lain yang disebabkan oleh hujan.

Rahmat Allah swt dalam bentuk yang sama dapat diterima berbeda-beda sikap dan rasa oleh makhlukNya tergantung pada siapa yang menerimanya. Walau demikian tentu Allah swt Maha Tahu atas segala rahmat yang Dia anugerahkan bagi hamba-hambaNya.

POMG

Standard

oleh Nana Fadjar

Ada yang masih ingat tidak kepanjangan dari singkatan ini. Organisasi ini sudah ada sejak saya masih duduk di bangku SD 30 tahun silam. Semua sekolah milik pemerintah alias sekolah negeri memiliki organisasi ini. Entah apa kegiatannya saya tidak pernah tahu sampai sekarang tapi yang saya ingat selalu ada pertemuan yang dilakukan setiap menjelang awal dan akhir tahun ajaran. Ayah saya sering kali hadir namun kuingat pula tidak semua orang tua hadir pada pertemuan tersebut. Kata ayah memang sekolah lebih dulu menanyakan kesediaan para orang tua murid untuk menjadi pengurus organisasi tersebut.

Setelah memiliki anak usia sekolah dasar, kebetulan anak-anak saya sekolah di sekolah Islam swasta tempat saya mengajar, ada juga bentuk organisasi seperti POMG yang diberi nama Jamiyyah.

Pengurusnya dipilih 2 orang tua siswa sebagai perwakilan dari tiap kelas. Hampir di tiap kegiatan yang diselenggarakan sekolah, mereka para pengurus Jamiyyah akan dilibatkan. Misalkan ada kompetisi Calistung antar sekolah maka guru dan siswa yang dipilih ikut serta dalam kompetisi itu akan konsentrasi penuh berlatih agar dapat memenangkan kompetisi tersebut. Sementara para pengurus Jamiyyah akan menyiapkan konsumsi untuk guru dan peserta. Bahkan kalau kendaraan sekolah tidak dapat dipinjam maka pengurus jamiyyah akan sukarela menyediakan transportasi pribadi miliknya untuk mengantar lalu menjemput guru dan peserta ke lokasi kompetisi. Buat kami para guru keberadaan pengurus Jamiyyah sangat menguntungkan. Boleh dibilang mereka termasuk dalam tim sukses kegiatan sekolah.

Tadi sore pukul 18.00 harus menjemput anak lelaki saya di sekolah yang sedang mengikuti kompetisi sepak bola antar sekolah-sekolah International di Qatar. Kebetulan kompetisi berlangsung di sekolah anak saya jadi bisa melihat dia bertanding karena kebetulan pertandingan belum usai saat saya tiba di sekolah. Kalau pertandingan berlangsung di sekolah lain maka sekolah akan menyediakan kendaraan dari sekolah ke lokasi pertandinagan. Jadi kami orang tua siswa hanya menjemput di sekolah. Di barisan kursi penonton hanya ada dua orang ibu yang duduk sementara yang lainnya adalah para siswa dari sekolah lain yang menunggu giliran timnya bertanding. Tidak lama kemudian seorang dari mereka beranjak dari kursinya setelah anaknya menghampiri kemudian keluar dari barisan kursi penonton kembali ke rumah mereka.

Ketika masih di tanah air bila ada pertandingan antar sekolah seperti ini maka kursi penonton akan dipenuhi orang tua siswa peserta pertandingan. Para ibu akan siap memberi dukungan penyemangat bila anak mereka sedang bertanding di lapangan. Bila anak mereka belum bertanding mereka akan sibuk dengan menyodorkan makanan dan minuman bahkan sibuk mengelapkan handuk ke badan anak mereka yang berpeluh keringat. Bukan hanya itu mereka juga akan membuatkan kostum seragam untuk tim sekolah anak mereka beberapa hari sebelum jadwal pertandingan. Para ibu yang notabene pengurus Jamiyyah juga akan mengenakan baju seragam. Kalau dalam 1 tahun ajaran ada kegiatan sebanyak 8 kali maka seragam mereka pun akan sebanyak 8 potong !!!

Yang saya lihat pada kompetisi hari ini, para pemain hanya mengenakan kaos seragam olah raga yang selalu mereka kenakan di setiap pelajaran olah raga. Tidak pernah ada kostum ekstra untuk setiap pertandingan olah raga. Hanya saja sekolah memberi rompi tipis yang bertuliskan nama sekolah. Menurut anakku yang hampir setiap bulan mengikuti pertandingan olah raga, rompi itu selalu dipinjamkan kepada siswa baik itu pada lomba atlit, pertandingan sepak bola atau bola basket. Rompi tersebut tidak pernah diberikan siswa untuk dibawa pulang jadi hanya dikenakan pada saat bertanding. Guru akan mengambil kembali rompi tersebut usai pertandingan. Tidak ada persiapan khusus yang menyita waktu, tenaga dan dana bagi guru dan orang tua siswa. Tidak ada campur tangan orang tua siswa sama sekali dalam kegiatan sekolah apapun baik lomba debat, kompetisi Science, olah raga atau bazaar sekolah.