THE ROYAL WEDDING

Standard

Thought Of The Day

courtessy davegranlund

Tigapuluh tahun silam pernikahan orang tua Pangeran William membuat saya tak bergeming dari depan televisi yang dipancarkan stasiun TV satu-satunya milik pemerintah. Saya masih gadis kecil usia sekolah dasar tapi saya masih ingat jauh-jauh hari sebelum pernikahan megah tersebut, demam terhadap calon ratu tersebut sudah menggema. Potongan rambutnya menjadi trend saat itu, foto ibunya, Lady Diana sang calon ratu terpampang di setiap kaca salon.

Model cincin tunangan Lady Di – Charles, bentuk oval batu safir biru dikelilingi berlian, menjadi model cincin masa itu. Disebutnya pun cincin Lady Di, satu set dengan liontin dan giwangnya. Perangko bergambar pasangan tersebut menjadi target para kolektor termasuk saya. Rasanya saya sebagai gadis kecil saat itu bermimpi ingin seperti Lady Di, seorang guru TK dipersunting calon raja. Lebih-lebih pengaruh dongeng-dongeng masa kecil, Cinderella, Putri Salju, Bawang Merah – Bawang Putih menambah mimpi itu seakan bisa nyata.

Pernikahan yang disebut-sebut termegah di abad itu, hari ini menjadi terulang kembali di rekaman kepala setiap orang saat menonton siaran langsung The Royal Wedding of Duke dan Duchess of Cambridge. Hasilnya adalah membanding-bandingkan antara pernikahan Prince Charles dan Princess of Wales dengan Duke and Duchess of Cambridge. Mulai dari wajah, popularitas di kalangan rakyatnya hingga yang pasti dibandingkan oleh para wanita adalah busana pengantin wanita. Akhirnya yang ada di benak kepala kita para penonton frustasi yang hanya diundang melihat dari TV adalah sebuah pertanyaan “Akankah pernikahan ini berakhir seperti pernikahan orang tua mereka?” yang kandas di usia 14 tahun pernikahan.

Lookalikes Lady Di

Buat saya tak peduli karena saya tak kenal mereka demikian pula sebaliknya. Saya pun tak peduli kontroversi megahnya pernikahan mereka ditengah krisis ekonomi yang melanda Eropa bahkan dunia. Buat saya pernikahan mereka wajar-wajar saja untuk ukuran kerajaan.

Entah kenapa pikiran saya jadi kemana-mana, jadi teringat pada pesta-pesta pernikahan sahabat, kerabat dan akhirnya artis. Heuuhh, kalo ingat pernikahan artis-artis ibu kota membuat geleng-geleng kepala. Belum 3 bulan pernikahan sudah mengunjungi Pengadilan Agama. Padahal megahnya pesta pernikahan mereka masih terekam di benak para tamu dan para wartawan. Bahkan ada yang pesta jauh ke seberang pulau menelan biaya milyaran alih-alih cuma seumur hidup toh akhirnya kandas di usia 1 tahun pernikahan.

Saya memang tak peduli uang yang dikeluarkan oleh para pelaku pernikahan pasti sesuai dengan kocek mereka tapi entah kenapa benak saya selalu gemes koq ya mereka nggak mikir ada hal yang lebih penting dari sebuah pesta pernikahan. Adalah esensi pernikahan itu sendiri lebih penting daripada pestanya. Mempertahankan pernikahan lebih berharga ketimbang pestanya. Aaah tapi itu kan kata saya, siapa yang peduli….

The Royal Wedding

Seorang kerabat merayakan pernikahan megah di salah sebuah gedung pertemuan di pusat kota akhirnya kandas setelah lahir anak pertama mereka setahun kemudian. Kemudian masing-masing menikah lagi untuk kedua kalinya yang hanya dihadiri keluarga tanpa undangan luas. Hingga kini mereka masing-masing bertahan dengan pernikahan keduanya hampir 10 tahun.

Ada juga seorang kerabat yang pejabat merayakan pesta pernikahan anaknya yang masih kuliah hingga bulan madu ke Singapura tapi siapa sangka bahwa si anak hidupnya kacau tak punya pekerjaan hingga si ayah tak menjabat lagi tapi masih untung pernikahan itu tetap bertahan.

Dalam Islam mengadakan resepsi pernikahan adalah keharusan setelah dilangsungkannya ijab kabul sebagai pemberitahuan kepada umum bahwa mereka sudah menikah untuk menghindarkan fitnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw yang ditujukan kepada Abdurrahman bin ’Auf r.a., ”Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing”. Soal megah atau tidak sebetulnya relatif toh buktinya mereka yang saya katakan megah bisa membayar baju pengantin, sewa gedung, kursi pelaminan, hidangan untuk 1000 atau lebih undangan. Belum lagi rias pengantin, undangan, seragam panitia. MashaAllah jadi banyak banget komponen biaya yang harus dikeluarkan bukan hanya ‘seekor kambing’ lagi.

Sebelum pesta berlangsung beberapa kali rapat keluarga diselenggarakan. Membicarakan segala persiapan ini itu. Seragam panitia pun bermacam-macam, untuk keluarga mempelai wanita dari pihak bapak akan berbeda dengan seragam keluarga mempelai pria dari pihak bapak. Belum lagi seragam panitia untuk sahabat-sahabat mempelai wanita. Siapa saja yang akan menjadi penerima tamu di pernikahan dan resepsi akan berbeda orangnya. Alasannya karena sekali seumur hidup so it must be a thoughtfull party.

Mungkin ada produk Bank atau KTA (Kredit Tanpa Agunan) untuk biaya pernikahan tapi apakah ada biaya untuk kelangsungan pernikahan agar bertahan hingga akhir hayat. Mungkin pula orangtuanya sudah menabung untuk sebuah pesta pernikahan anak mereka. Ada juga yang meminta calon pengantin menunda pernikahan mereka setahun bahkan 2 tahun demi untuk mengumpulkan biaya pernikahan.

Bila akhirnya pernikahan tersebut kandas di usia awal pernikahan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih dari itu. Betapa kecewa orang tua mereka setelah membujuk pasangan tersebut. Jalan damai cara kekeluargaan tak bisa lagi ditempuh. Betapa sia-sia nya waktu dan biaya yang telah dikeluarkan mempersiapkan the thoughtfull party.

Apakah ada yang mempersiapkan agar para mempelai bisa mempertahankan pernikahan mereka. Ada nggak yang mau mengeluarkan biaya untuk itu. Kembali meluruskan niat awal pernikahan yang katanya SAMARA. Ada nggak biaya untuk mewarnai kembali warna pernikahan yang mulai luntur agar kembali seindah pelangi seperti di awal pernikahan.

Jadi teringat akan pesta pernikahan saya sendiri 17 tahun lalu. Sederhana buat saya ijab kabul di rumah sederhana orang tua saya, keesokannya walimah di sebuah mesjid kecil. Seiring perjalanan hidup saya lupa pernah mimpi untuk sebuah kemegahan pesta pernikahan ala Cinderella.

Saya justru merasakan kemegahan pernikahan sekarang ini. Ketika akhirnya kami selalu punya waktu shalat berjamaah berdua hingga hadir anak-anak kami, halaqoh setiap usai shalat, memeriksa hapalan Quran mereka, mengajarkan kehidupan pada anak-anak yang mulai beranjak dewasa. Bahwa suami saya punya cukup waktu menemani anak-anak belajar, makan bareng di warung kaki lima, nonton bareng ke bioskop yang belum tentu dimiliki oleh semua keluarga.

Kemegahan pernikahan saya adalah saya merawat cinta kasih saya pada belahan jiwa saya, merasakan betapa besar cintanya pada saya dan anak-anak melalui kerja keras, waktu dan pikirannya….

ANNIVERSARY CUP CAKE

Standard

Bila bertemu dengan kenalan-kenalan baru di kota kecil ini pastilah dari mereka akan bertanya di perusahaan mana suami saya bekerja. Umumnya para pendatang di kota ini bekerja di perusahaan minyak. Nah kalau sudah ada yang bertanya seperti ini,

“Suami kerja di oil company ya mbak?”, tanya kenalan baru saya.

“Ooh bukan, suami saya supir”, jawab saya sembari senyum. Walau kadang beberapa kali ada yang   nggak ngeh, dikiranya benar-benar supir kemudian saya harus menjelaskan dengan eksplisit :). Kalau yang ngeh pasti akan komentar,

The Pilot

“Aah bisa aja si mbak ini, supir burung besi kaan?”, ia pun sembari senyum memberi komentar atas jawaban saya.

“Supir bis malam antar negara”, jawab saya lagi masih sembari senyum.

“Dulu mbak pramugari ya?”, pertanyaan lanjutan yang standard.

I was a teacher”, jawab saya mantap. Barulah saya bercerita panjang lebar, bla..bla..bla…  kalau kenalan baru tersebut bertanya lebih lanjut koq bisa-bisanya seorang guru ketemu pilot.

The Teacher

Saya sudah jumpa dengan si pilot justru sejak ia sebelum jadi pilot tepatnya kami sudah satu sekolah sejak SD tetapi kami akrab sejak SMP. Hubungan kami pun berlanjut hingga kami sama-sama kuliah kemudian maju ke pelaminan. Setelah punya anak satu barulah ia sekolah pilot.  Heeuuhh, cappee deeh ceritanya…. ;)  then here we are….. 17 years together….

                                 THE PILOT MEETS THE TEACHER

The Pilot Meets The Teacher


photo taken by:  dhia

cup cake by:  y u s y s c a k e

SWEET SEVENTEEN

Standard

Dear suamiku,

Menyusuri jalan mulus

Menyebrangi lautan tenang

Menjadi lebih indah karena kulewati bersamamu…

Diikuti langkah-langkah kecil sebagai amanah Ilahi..

Kerikil tajam dapat kutapaki

Badaipun aku terjang

Karena genggaman erat tanganmu

Tak pernah kulupa saat kau pinta diriku

Dari ayahku

17 tahun silam 9 April 1994

Terimakasih telah memilihku

Meski banyak pilihan untukmu :)

Terimakasih telah menjadi imam bagiku

Terimakasih atas kerja kerasmu untuk kami

Menjadi ayah terbaik bagi anak-anakku

Maaf bila getaran cinta tak seperti dulu lagi

Rindu tak begitu menggebu

Perhatian telah tersita

Mungkin karena kesibukanku di dapur

Mengurus ini itu di dalam rumah

Walau begitu,

Semua ini sangat indah

Sangat manis


-love: Ibu-


***

Thaif 9 April 2011

Ya Allah jauhkan kami dari cinta yang salah

Cinta yang menjauhkan kami dari surgaMu

Ya Rahman jadikan anak keturunan kami selalu menegakkan shalat

Mampu bersyukur atas nikmatMu

Walau sekecil apapun

Ya Allah himpun kami di FirdausMu

Bersama RasulMu, para sahabat, dan hamba2 terbaikMu

-Masjidil Haram 2011- Read the rest of this entry

ECONOMY CLASS FLY TO BUSSINESS CLASS

Standard


 

Stasiun Serpong

Selembar potongan kardus ukuran dua kali majalah telah saya lipat menjadi dua bagian. Tak boleh kotor bagian dalamnya karena akan digunakan untuk alas duduk di kereta. Kereta yang akan saya tumpangi dari stasiun Palmerah sudah penuh oleh penumpang dari stasiun Tanah Abang sehingga tak ada lagi kursi kosong di semua gerbong.  Kursi penumpang hanya tersedia di sepanjang sisi kiri dan kanan gerbong. Kira-kira perbandingannya hanya sepersepuluh yang akan mendapatkan kursi dalam satu gerbong.

Tiap-tiap penumpang punya tempat terenak menurut versi masing-masing. Saya masuk ke tengah gerbong lalu menggelar potongan kardus untuk dijadikan alas duduk di lantai gerbong. Lebih baik memilih cara ini, nggak pegel, sementara penumpang lain berdiri di sekitar saya. Lumayaaan, masih 7 stasiun yang akan saya lewati untuk tiba di stasiun tujuan, Serpong. Beberapa penumpang juga memilih cara seperti ini duduk melipat kaki di lantai gerbong kadang tanpa alas apapun. Beruntung kalau mendapatkan posisi di tiang yang terdapat di depan pintu gerbong sebagai penyangga pegangan tangan penumpang berdiri. Aah  saya duduk bersandar di tiang sambil melipat kaki. Bila penumpang tak begitu padat bisa meluruskan kaki.  Kalau sudah pewe,  posisi weenaak begini ayunan kereta membuat saya selalu mengantuk sambil terus berdoa agar cepat keluar dari himpitan ekonomi ini.

Selalu saya pilih gerbong terakhir  karena tidak banyak pedagang asongan dan pengamen yang hilir mudik. Udaranya pun lebih segar daripada gerbong lain karena pintu belakang gerbong yang biasanya menghubungkan dengan gerbong lain terbuka bebas sehingga lumayan banyak angin yang masuk ke dalamnya. Paling-paling hanya beberapa penumpang bergelantungan di pintu tersebut. Pernah juga saya masuk ke gerbong masinis tapi harus berdiri terus hingga tujuan plus  harus memberi ‘uang rokok’ untuk sang masinis.

Sebetulnya kereta bukan satu-satunya pilihan transportasi saya ke dan dari tempat kerja. Bus umum bisa jadi alternatif tetapi ternyata ongkosnya empat kali lipat tiket kereta karena harus tiga kali ganti bus jadi waktu yang ditempuhpun lebih lama. Jumlah penumpang bus pun tak kalah padatnya dengan kereta. Walau beberapa kali pernah juga kereta telat datang dari jadwal biasanya atau berhenti di sebuah stasiun lebih dari 1 jam tanpa pemberitahuan sebab dan kapan akan berakhir.

Jalur Kereta Jabodetabek

Setelah stasiun Palmerah kereta akan berhenti di stasiun Kebayoran Lama. Gerbong akan semakin padat lipatan kaki saya semakin rapat. Umumnya penumpang Kebayoran Lama  adalah pedagang sayur atau buah-buahan yang berjualan di pasar tak jauh dari stasiun.  Segala macam bau tak sedap campur baur di dalam gerbong. Bau keringat yang menempel di badan mereka, bau sayuran atau buah sisa dagangan mereka, bau asap rokok yang menempel di pakaian lusuh mereka. Mereka akan menggantungkan keranjang kayu pikul tempat menyimpan dagangan yang telah kosong ke pintu belakang gerbong. Kemudian mereka mengambil posisi duduk seperti saya bergabung dengan penumpang lain lalu bermain gaple. Entah siapa yang selalu membawa kartu permainan tersebut saya tak pernah tahu. Sambil melemparkan kartu gaple ke lantai gerbong mereka ngobrol ragam persoalan terkini.  Apa saja, pemerintahan, kriminalitas, selebritis, dan lain sebagainya. Lucunya kadang mereka mengomentari salah seorang dari mereka sendiri sambil tertawa-tawa.

Sesungguhnya saya tak mengerti secara pasti apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa Sunda logat Banten. Saya tahu lucu karena mereka semua tertawa lepas. Lepas…seperti tak ada beban hidup dalam tawa mereka. Kadang saya pun ikut tersenyum karena sedikit mengerti apa yang mereka tertawakan. Suasana keakraban sangat terasa di dalam gerbong. Meski saya tidak pernah tahu persis nama-nama mereka tapi kami seperti saling mengenal. Bagaimana tidak  lah wong  hampir setiap hari kami bertemu di gerbong ini. Sudah 2 tahun lebih, setiap hari Senin sampai dengan Jumat saya naik kereta pulang dari tempat kerja di Palmerah ke rumah di Serpong.

Pernah suatu kali seorang bapak tua, kira-kira usia setengah abad, penumpang asal Palmerah tak kelihatan di dalam gerbong ini hampir tiga pekan. Ketika akhirnya beliau muncul beberapa penumpang dengan ramah menanyakan kabar beliau. Ternyata beliau yang kemudian hari saya tahu bekerja di percetakan Gramedia Palmerah pergi cuti mengunjungi anaknya di luar kota. Semua penumpang bernapas lega mengetahui hal itu. Saya pun turut lega setelah mencuri dengar jawaban beliau kepada seorang ibu yang menanyakan kabarnya.

Suatu waktu saya terpaksa membawa kedua anak saya ke tempat kerja saat mereka libur sekolah sedangkan asisten rumah paruh waktu kami, Bi Maning, tak datang sehingga tak ada yang menemani mereka di rumah. Setelah seharian menunggui saya bekerja mereka sangat kelelahan dalam perjalanan pulang. Saya duduk dilantai gerbong sambil memangku mereka berdua yang terlelap tidur. Seorang pria muda duduk di belakang saya, berkemeja rapih, membawa amplop coklat besar ukuran Folio, layaknya seorang pegawai. Siapa sangka bahwa ia seorang pencopet yang mencoba merogoh tas tangan saya yang tersampir kebelakang badan. Beberapa  penumpang tak jauh dari saya berteriak ke arah saya,

Neng, tasnya pindahin ke depan”.

Oow, saat saya menoleh ke belakang, pria tersebut salah tingkah, matanya pura-pura menatap ke atap kereta.

Terdengar lagi teriakan penumpang di sisi kanan saya ke arah pria muda tersebut,

“Stasiun depan lo kudu turun kalo kagak mau mati di gerbong ini”.

Pheeww  lemas jantung saya mengetahui hal tersebut kalau tidak diberitahu habis sudah isi tas saya meski hanya beberapa lembar uang ongkos saya untuk hari itu. Tak lupa saya ucapkan terimakasih pada penumpang yang memberi tahu saya.

 ***

“Good evening madam would you like anything from our welcome drink?” tanya seorang awak kabin sambil tersenyum kepada saya. Walau ramah tapi ia telah memecahkan lamunan saya di KRL 13 tahun silam.

 “Oh eeh ehmm,  yes please, what do you have?”, saya tergagap menjawabnya.

“We have fresh orange juice, lemon and mint, sparkling water, and vintage champagne”,  lanjutnya lagi.

Sebetulnya saya masih kenyang tapi saya jawab saja,

“Hmm, orange juice please”,  sekedar untuk menyegarkan badan saya.

Fresh orange juice  

Sementara menunggu penumpang kelas ekonomi masuk ke kabin  para penumpang kelas bisnis disuguhi minuman dan surat kabar. Suguhan kepada penumpang kelas bisnis berbeda dengan suguhan untuk penumpang kelas ekonomi. Piring dan gelas untuk penumpang kelas bisnis terbuat dari beling seperti layaknya suguhan resto hotel bintang lima lengkap dengan serbet makan sedangkan penumpang kelas ekonomi disuguhi makanan menggunakan piring dan gelas plastik atau aluminium sekali pakai. Makanan dan minuman penumpang kelas bisnis lebih banyak pilihannya dibandingkan untuk penumpang kelas ekonomi yang umumnya hanya dua pilihan.

kursi luas dan bisa dimiringkan seperti tempat tidur

Sambil menunggu minuman yang saya pesan, saya putar ke kiri katup pendingin ruangan yang terletak tepat di atas kepala saya. Tak terasa angin kencangnya menyembur kepala saya. Saya perhatikan penumpang kabin kelas bisnis yang hanya empat baris tidak penuh. Barisan kursi kanan kiri saya kosong. Hanya ada seorang wanita muda dengan seorang anak yang duduk di baris kursi paling depan. Wangi parfumnya meski lembut tapi sangat menyengat hingga ke hidung saya. Baris kursi di depan saya terdapat sepasang suami istri bule. Kemudian datang lagi awak kabin lain menawarkan surat kabar dan membagikan pakaian tidur untuk selama perjalanan. Tak lama datang lagi awak kabin sebelumnya mengantarkan minuman yang saya pesan. Saya teguk sedikit demi sedikit.

Kemudian terdengar pengumuman awak kabin bahwa pesawat siap lepas landas. Saya kenakan sabuk pengaman.  Saya ambil novel dari tas tangan lalu saya tarik lampu baca di samping kursi. Saat lepas landas selalu saya manfaatkan untuk membaca novel. Setelah pesawat mengudara saya ganti pakaian tidur yang tadi dibagikan agar pakaian saya tak lusuh. Kembali duduk ke kursi saya tekan tombol di samping kursi hingga kursi mencapai kemiringan seratus delapan puluh derajat.  Saya tutup seluruh badan dengan selimut yang telah disediakan. Saya tarik remote control  di samping kursi untuk memilih film di layar TV yang menempel di kursi depan. Saya tutupi seluruh badan dengan selimut lalu meluruskan kaki. Lumayaan, sembilan jam perjalanan ke tanah rantau  setelah dua hari di Jakarta khusus menonton Teater Koma membuat badan agak kaku. Lebih dari sekedar posisi weenaaakk….. hati saya pun ikut  pewe.

meluruskan kaki

posisi weenaak

Tak pernah saya mimpi atau berdoa agar bisa menikmati kursi senyaman ini dengan layanan ekslusif karena saya kira semua kursi di pesawat sama saja tegak lurus sembilan puluh derajat, paling-paling bisa dimundurkan sedikit. Ternyata Allah mengabulkan lebih dari yang saya pinta bahkan yang belum terucap sekalipun.

Hingga akhirnya Allah mengatur rizki kami, suami saya bisa merantau ke negeri orang hampir tujuh tahun lamanya. Perjalanan saya dari rantau ke tanah air pulang dan pergi mengharuskan kami menggunakan pesawat. Atas fasilitas tempat suami bekerja, saya dan anak-anak bisa menikmati kursi nyaman ini baik ke tanah air atau negara tujuan kami berlibur. Tak perlu membayar hingga puluhan juta tapi kami tak pernah bisa melupakan begitu saja posisi weenaak  saya di KRL Ekonomi Serpong.

Inna Ma’al ‘Usri Yusra : Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan (An Insyirah: 5-6)

Bussiness Menu

ASISTEN RUMAH

Standard

LUGU vs CANGGIH

Istilah pembantu rumah tangga kini mulai bergeser menjadi asisten rumah. Mereka memang layaknya seorang asisten, membantu pekerjaan rumah atasannya dalam hal ini majikannya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, ada pula yang sekaligus mengasuh anak. Keberadaan mereka tidak bisa kita sepelekan apalagi bagi ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. Kala saya belum bekerja, saya juga sangat membutuhkan mereka. Apalagi ketika saya melahirkan anak ke dua sementara kakaknya belum genap berusia 2 tahun. Pada saat itu pula saya pindah ke rumah kecil milik sendiri setelah beberapa lama tinggal di rumah orang tua saya.

Wadduuh, nggak kebayang deh punya 2 anak masih balita kalau tanpa asisten rumah. Bagaimana membantu si sulung misalnya membersihkan dirinya setelah BAB sementara adiknya menangis ingin menyusui. Belum lagi harus memasak untuk anak-anak lalu pakaian kotor yang menumpuk harus pula segera dicuci. Rasanya dunia mau hancurrrr…

Setelah mencari sana-sini siapa yang bisa membantu saya di rumah tapi belum juga ada yang cocok. Umumnya mereka tidak mau tidur bersama anak balita saya sementara rumah saya hanya memiliki 2 kamar, maklumlah rumah sangat mungil. Saya belum memiliki cukup dana untuk membangun kamar lagi, lah wong dari penghasilan suami saya sudah terkuras untuk membayar uang muka rumah ditambah cicilan setiap bulan.

Setelah bertahan tanpa asisten beberapa bulan lamanya akhirnya saya mendapati seorang ibu yang bisa membantu pekerjaan rumah saya. Dia tinggal tidak jauh dari kediaman saya kira-kira 2 kilometer. Dia penduduk asli di kawasan kediaman saya jadi tidak perlu tinggal bersama saya melainkan datang pagi hari kemudian pulang siang hari. Istilah di kalangan ibu-ibu adalah “pulang hari” untuk asisten rumah yang seperti ini. Saya sangat terbantu dengan kehadirannya sehingga dapat konsentrasi mengasuh dan mendidik anak di rumah. Saya hanya memasak saja kala anak-anak saya tidur pagi hari, sementara pekerjaan rumah lainnya ditangani olehnya.

Saya memanggilnya Bi Maning, perawakannya pendek, wajahnya khas penduduk Jakarta asli, logat bicaranya kental Betawi asli, cara jalannya sangat cepat. Perkiraan saya dia seusia dengan saya walau anaknya sudah SMP. Dia tidak tahu persis berapa umurnya karena tidak memiliki KTP. Ia pun tidak tahu bahwa setiap warga Indonesia yang telah dewasa, berusia 17 tahun, wajib memiliki kartu identitas.

Setelah beberapa bulan bekerja dengan saya, baru saya sadari bahwa dia tidak tahu nilai mata uang, yang mana uang seribu perak apalagi seratus ribu. Ketika saya minta dia membayarkan belanjaan saya pada tukang sayur keliling di depan rumah, ternyata dia tidak tahu berapa jumlah semua uang yang dikembalikan oleh si tukang sayur. Akhirnya saya ketahui pula bahwa dia juga buta huruf. Sejak itu setiap hari saya ajarkan padanya nilai mata uang walau masih saja kadang-kadang salah juga. Untuk urusan baca tulis saya belum sempat mengajarkannya. Buat saya saat itu bukanlah masalah asalkan dia rajin, datang setiap hari, dan jujur.

Masalah baru timbul ketika akhirnya anak-anak masuk sekolah kemudian saya bekerja sebagai guru. Dia tiba di rumah saat saya dan anak-anak sudah pergi ke sekolah. Akhirnya saya ajarkan dia membaca numerik lebih dulu daripada alpabet karena dia harus menelpon saya bila ada sesuatu yang penting setelah sebelumnya saya ajarkan menerima telepon. Meski akhirnya dia tidak pernah menelepon saya sekalipun. Saya ajarkan pula untuk menelpon ke warung langganan bila dia harus membeli tabung gas dan air mineral. Alhamdulillah berhasil dan tidak pernah salah karena setiap kali tabung gas yang habis telah berganti dengan yang baru sementara saya tidak di rumah. Semakin lama dia semakin terampil dalam pekerjaan rumah.

Untuk urusan baca tulis saya sediakan setengah jam setelah saya pulang mengajar sebelum dia kembali ke rumahnya. Saya tidak berharap banyak karena saya sadar dia sudah lelah dengan pekerjaanya. Saya masih beruntung bahwa dia tetap setia pada saya bila saya bandingkan dengan kisah teman-teman saya mengenai asisten rumah mereka yang umumnya sok pinter, tidak jujur, dan kebanyakan tidak setia pada majikannya. Bayangkan kalau Bi Maning tidak setia, haddooohh, pulang ngajar harus mengurus pekerjaan rumah kemudian membantu PR sekolah anak-anak. Rasanya saya tak punya tenaga sebesar itu.

Hingga 7 tahun lamanya Bi Maning tetap setia pada saya. Tahun itu dia hamil anak ke 5, pada saat usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh saya minta dia cuti sementara saya sedang menyiapkan kepindahan saya ke Qatar. Walau demikian saya masih memperhatikan kebutuhannya, itu sebabnya ketika dia memasuki bulan ke sembilan kandungannya saya antar ke rumah sakit kemudian menungguinya melahirkan.

~~~

Mengikuti tugas suami ke Qatar, saya dan anak-anak sepakat tidak menggunakan asisten rumah, toh, mereka sudah besar dan saya tidak bekerja. Walaupun perusahaan tempat suami bekerja memberi fasilitas tiket pesawat setengah harga normal, setahun sekali untuk asisten rumah. Saya memutuskan hanya menggunakan part time maid, istilah untuk asisten “pulang hari”.

5 tahun lalu, atas rekomendasi seorang teman, saya mendapatkan part time maid, seorang perempuan asal India berperawakan agak tinggi, kulit gelap, logat bicaranya khas penduduk negara asalnya yang kerap kali menggelengkan kepala saat bicara. Sujata namanya, dia datang dua kali dalam sepekan, hanya 2 jam setiap datang menyetrika dan membersihkan dapur. Pekerjaannya boleh dikatakan rapi dan bersih hingga ke sudut-sudut rumah.

Namun entah kenapa 2 tahun terakhir ini, dia selalu tergesa-gesa dalam bekerja. Sering kali saya dapati debu-debu di sudut rumah rumah tidak tersapu olehnya, bahkan beberapa kali dia tinggalkan ‘perlengkapan perangnya’ berupa lap dan botol pembersih kaca ditinggalkan begitu saja di ruang tamu. Agar tidak berkelanjutan selalu saya ingatkan dia agar tidak terulang lagi.

Satu hal lagi yang membuat saya heran akhir-akhir ini, dia selalu bekerja sambil menelpon tiada henti. Kalaupun berhenti hanya sesaat dia akan menelpon kembali temannya. Entah teman yang tadi dia telpon atau teman yang lain lagi. Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan karena dia menggunakan bahasa negerinya. Saya mulai kesal dengan kebiasaan barunya ini hingga pernah saya sindir bahwa dia sekarang ini layaknya bussiness woman karena banyak yang menelpon.

Pernah saya tanyakan berapa pulsa telepon yang dia bayar setiap bulan, wow, empat kali dari pulsa yang saya bayar. Alasannya karena dia sering menelpon anak semata wayangnya yang tinggal nun jauh di negerinya. Lalu saya beri saran agar dia mengurangi kebiasaan menelpon bila tidak terlalu penting. Sayang kan, uang yang dia dapat kalau akhirnya dia keluarkan hanya untuk pulsa. Belakangan dia mengganti fasilitas pembayaran teleponnya dengan produk budget control. Waah lebih pintar dia.

Usai mengepel, menyetrika, sambil menelpon

Kebiasaannya menelpon sambil bekerja tidak berkurang bahkan makin bertambah. Buat saya hal ini mengganggu efektifitasnya dalam bekerja. Dia selalu menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan leher kanannya sambil menyapu, mengepel, mencuci piring, dan menyetrika. Saya tegur dia, kalau dia bisa bekerja lebih cepat bila menggunakan kedua tangannya secara bebas tanpa hambatan. Eeh, ternyata dia tidak habis akal, dia ambil sebuah kabel panjang dari dalam tasnya, dia sambungkan bagian ujung kabel ke telepon genggamnya lalu bagian ujung lain ke telinganya, hands free….

What to do…what to do….


KELAS IMPIAN SEORANG GURU

Standard

Hujan yang turun sejak tadi pagi tidak membuat saya urung pergi ke sekolah tempat saya bekerja lapangan. Angkot yang membawa saya ke sekolah berjalan pelan walau penumpang penuh karena barisan mobil di depannya pun berjalan perlahan. Saya basuh jendela angkot yang mulai buram karena embun agar saya bisa melihat ke jalan dengan jelas. Lalu saya minta sopir angkot untuk berhenti,

“Bang, depan berhenti ya”.

Sambil beranjak turun dari angkot saya berikan pada sopir uang kertas yang sudah saya siapkan sejak naik angkot tadi. Lalu dengan cepat saya berlari setelah membuka payung lipat ke arah sekolah yang berjarak 100 meter dari jalan raya. Genangan air di jalan membuat sepatu dan bagian bawah rok saya basah. Akhirnya saya tiba di tempat tujuan saya. Hampir 1 bulan saya rutin datang ke sekolah ini setiap 3 kali sepekan mengajar bidang studi Bahasa Indonesia kelas 3 SMP. Hal ini saya lakukan untuk menyelesaikan laporan akhir studi Program AKTA IV yang saya ikuti di IKIP Jakarta (sekarang menjadi UNJ).

Saya langsung menuju ruang guru yang ada di bagian kiri depan bangunan sekolah itu. Hanya ada seorang guru, Pak Ginanjar, yang sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Saya sapa dia

“Siang Pak”.

Beliau mengangguk sambil tersenyum, “ Koq hujan-hujan begini tetap datang bu?”.

Dengan bingung saya balas bertanya lagi, “Loh memangnya kenapa Pak?”.

Sambil senyum lagi ia menjawab, “ Biasanya sih guru-guru nggak datang bu karena murid-murid juga nggak banyak yang datang. Tadi kelas 1 dan 2 digabung lalu diisi pelajaran agama Islam oleh Pak Azrul”.

“Hmm… nggak apalah Pak, rencananya saya memberi latihan soal hari ini” ujar saya.

Tak lama kemudian datang Nazarudin yang juga kerja praktek lapangan di sekolah ini. Dia juga sedang mengambil studi AKTA IV di IKIP Jakarta bersama saya. Dia yang mengajak saya untuk kerja lapangan di sekolah ini bersama dengan seorang teman lagi namanya Burhan. Saya yakin Burhan sudah hadir di sekolah ini karena saya tahu jadwal beliau 2 jam pelajaran sebelum waktu saya mengajar.

10 menit kemudian bel ganti pelajaran dibunyikan oleh Pak Ginanjar yang piket hari ini. Dengan cepat saya berjalan ke arah ruang kelas 3. Dari jendela tak berkaca saya lihat Pak Burhan masih berada di dalam kelas. Dia berjalan keluar kelas sambil berujar, “Bu Nana, yang hadir nggak sampe 50 persen”.

“Oh iya Pak, tadi Pak Ginanjar sudah kasih tahu, makasih” jawab saya.

Saat saya masuk kelas, 2 siswa pria pamit untuk ke kamar kecil tetapi tidak saya ijinkan. Saya tahu itu adalah siasat mereka untuk keluar kelas lalu tidak masuk kembali. Memang mudah untuk keluar dari gedung sekolah yang berbentuk huruf U ini karena tidak dikelilingi pagar. Bagian belakang dan sisi kanan sekolah adalah daerah pemukiman penduduk asli kota Jakarta. Sementara bagian sisi kiri sekolah terdapat kebun pisang milik seorang tuan tanah di kawasan tersebut. Kamar kecil yang dimiliki sekolah ini terdapat dibagian belakang bangunan. Itu sebabnya siswa yang pamit ke kamar kecil akan kabur ke arah pemukiman penduduk kemudian tidak akan kembali ke kelas hingga jam sekolah usai. Umumnya mereka yang cabut ( baca: bolos sekolah ) adalah siswa pria.

Hari pertama saya mengajar di sekolah ini agak bingung juga oleh situasi demikian. Berdasarkan cerita Nazarudin yang penduduk asli kawasan sekolah ini hal itu sudah biasa terjadi setiap hari. Akhirnya saya pahami betul bahwa sekolah ini hanyalah tempat anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri manapun karena nilai mereka yang rendah. Kasihan mereka, guru-guru di sekolah ini menyebutnya sebagai anak-anak buangan. Orang tua mereka pun tidak mampu membayar mahal pada sekolah-sekolah swasta lain yang bergengsi. Mereka hanya anak-anak sopir angkot, buruh-buruh pabrik, bahkan ada anak seorang tukang gali sumur pompa.

Saya buka kelas dengan sapaan selamat siang. Kemudian saya menggeser kursi guru yang terletak di sudut ruangan ke arah pintu masuk karena saya lihat tetesan air hujan di dekat meja guru. Tetesan itu sudah membuat genangan air di atas ubin yang kusam dimana kotoran yang menempel di atasnya sulit dibersihkan. Lalu saya minta siswa-siswa yang duduk di bagian belakang untuk pindah ke kursi bagian depan namun mereka menolak dengan alasan banyak tetesan air di bagian depan kelas. Sayapun mengerti. Baru saya ingat kala masuk ruang guru tadi ada 2 ember diletakkan di dalamnya. Satu buah tepat di pintu masuk ruang guru dan satu lagi di tengah ruangan.

Sementara saya perhatikan di ruang kelas 3, Masya Allah, ada 9 titik tetesan air dari genteng yang tidak dilapisi atap. Tidak satupun ember diletakkan di ruangan ini. Nampaknya sekolah tidak memiliki cukup ember untuk menampung tetesan-tetesan air yang ada di seluruh bangunan gedung sekolah ini. Lagi pula membeli ember sebanyak itu bukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Cuaca mendung membuat kelas yang gelap menjadi semakin gelap. Jendela yang mengelilingi ruang kelaspun sangat buram. Tidak ada lampu yang menggantung di kelas ini. Kalaupun ada saya khawatir akan terjadi arus pendek akibat hujan yang menetes melalui genteng.

Saya absen satu persatu siswa kelas 3 tapi hanya 18 yang hadir dari 52 siswa yang tertera di buku absen. Umumnya yang hadir adalah siswa perempuan. Situasi seperti ini membatalkan rencana saya hari ini memberi latihan soal pada mereka. Latihan soal itu untuk melihat sejauh mana mereka memahami materi ajar yang telah saya berikan selama kurang lebih satu bulan ini. Tidak mungkin pula saya beri lagi materi baru kalau siswa yang hadir kurang dari 50 persen. Lebih-lebih lagi papan tulis berwarna hitam yang akan saya tulisi dengan kapur tidak akan nampak jelas bagi siswa yang duduk di bagian belakang kecuali saya menulisnya dengan huruf besar-besar.

Akhirnya saya isi kelas dengan cerita-cerita yang memberi motivasi bagi siswa agar mereka tidak malas sekolah. Saya minta mereka membayangkan orang tua mereka yang bekerja berpeluh keringat demi bisa menyekolahkan mereka dan berharap kehidupan mereka jauh lebih baik daripada saat ini. 1 jam pelajaran terakhir saya minta mereka menulis harapan-harapan yang mereka inginkan dari sekolah ini. Sambil menunggu mereka menyelesaikan tugas tersebut saya duduk termenung. Memimpikan sebuah kelas yang cantik, jendela yang lebar nan bersih berikut tirai yang manis, lantai yang bersih, berpenerangan yang cukup, mesin pendingin ruangan, lengkap dengan alat bantu ajar terkini…….

SMP Dharma Bhakti kelas 3, Cipondoh, Tangerang – 1999 –

~~~~~

Hari ini sengaja saya berangkat 15 menit lebih awal dari biasanya. Saya hentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobby gedung. Saya berjalan masuk ke lift lalu menekan tombol angka 3. Gedung ini terdiri dari 6 lantai. Tempat yang saya tuju adalah ruang kelas Tsa Putri yang terdapat di lantai 3. Setibanya di ruang kelas belum ada satu siswi pun yang datang. Saya buka tirai jendela agar ruangan mendapatkan cahaya matahari jadi tak perlu menyalakan lampu. Kemudian saya nyalakan mesin pendingin ruangan. Sebelum kelas dimulai saya siapkan layar komputer yang terdapat di sudut ruangan kelas. Saya masukkan kepingan CD ke dalam disc drive hingga waktunya saat menonton nanti semua sudah siap.

Pekan lalu saya berjanji pada siswi-siswi untuk menayangkan Film “ Maryam binti Imran”. Kebetulan materi yang saya siapkan bulan ini adalah Ulul Azmi sedangkan hari ini akan saya kisahkan tentang Nabi Isa alaihissalam. Kelas selalu saya mulai dengan memeriksa bacaan Iqra’/Quran semua siswi dilanjutkan menyimak hapalan-hapalan juz amma mereka. Siswi yang belum mendapat giliran akan mengulang hapalan mereka sambil menungggu giliran.

Tepat pukul 08.30 datang 3 orang siswi masuk kelas seraya berucap, “Assalaamu’alaikum, Bu”.

“Wa’alaikumsalaam warahmatullaahi”, jawab saya.

Saya persilahkan mereka duduk di baris terdepan dari 3 baris kursi yang ada. Masing-masing baris terdapat 10 kursi lipat yang memiliki meja di atasnya. Seyogyanya kelas dimulai pukul 08.30 tapi karena baru 3 orang dari 25 siswi yang terdaftar di kelas saya maka saya tunda hingga 10 menit kemudian. Tak lama datang lagi 5 orang siswi lalu saya buka kelas dengan berdoa. Saya didampingi seorang guru lagi mulai memeriksa bacaan Quran masing-masing siswi. Tepat pukul 09.00, 17 siswi sudah hadir memenuhi kelas. Jumlah siswi dikelas saya memang paling sedikit dibandingkan kelas-kelas lain. Jadi tak perlu memakan waktu memeriksa bacaan mereka.

Kegiatan ini sudah saya jalani sejak Maret 2005 bersama beberapa teman dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Quran KAIFA bagi anak-anak Indonesia yang berada di Doha, Qatar. Sungguh merupakan tantangan buat kami yang tinggal di negara Islam tetapi karena umumnya anak-anak kami belajar di sekolah Internasional maka pelajaran Islam bukanlah yang utama. Untuk mengisi kekurangan tersebut maka bermulalah kegiatan ini. Awalnya kami mulai di sebuah komplek perumahan di Al Sadd area dengan jumlah siswa kurang dari 50 orang, usia 4 hingga 13 tahun.

Bertambahnya siswa setahun kemudian menyebabkan kami pindah ke KBRI Doha. Jumlah siswa yang mencapai 200 orang pada tahun 2007 tidak tertampung lagi di KBRI. Beberapa pendiri mencari upaya mengatasi masalah tempat di mana kami bisa menampung siswa sebanyak itu tanpa membayar sewa gedung. Akhirnya atas kebaikan pihak QICC (Qatar Islamic Culture Centre) kami mendapat 10 ruang kelas untuk menampung kurang lebih 400 siswa yang terdaftar tanpa membayar sewa gedung sepeserpun.

Usai mendapat giliran semua siswi saya minta mengingat apa yang telah saya berikan pekan lalu tentang Ulul Azmi. Lalu mulailah saya bercerita tentang Nabi Isa alaihissalaam hingga akhirnya tenggorokan saya terasa mulai kering saya lanjutkan dengan memutar film. Acara menonton di kelas adalah kegiatan yang selalu ditunggu oleh siswi-siswi saya yang berjenjang usia 8 hingga 10 tahun. Buat saya cara ini sedikit meringankan tugas saya, tidak perlu mengeluarkan suara terlalu banyak untuk menyampaikan kisah-kisah Nabi dan para sahabatnya. Baru setelah itu saya tambahkan beberapa hal dilanjutkan dengan tanya jawab.

Jam menunjukkan pukul 11.00 saatnya kelas ditutup dengan doa. Setelah semua siswi keluar kelas, saya keluarkan kepingan CD dari disc drive lalu saya matikan komputer. Sebelum meninggalkan kelas tak lupa saya matikan mesin pendingin ruangan….

Gedung Fanar, kelas Tsa Putri, Doha, Qatar – Desember 2009 –

SUPER MOM

Standard

oleh Nana Fadjar

Tadi pagi ketika pengajian ibu-ibu berlangsung di rumah saya ada seorang ibu dengan anak balitanya yang baru hadir pertama kali dalam Majlis Taklim ini. Sebelum acara berlangsung beliau sempat berbincang dengan saya yang sedang sibuk sendiri di dapur menyiapkan hidangan untuk usai pengajian nanti.

“Sudah lama tinggal di Qatar mbak?” mulainya.

Selalu saya jawab pertanyaan seperti ini dengan senyum “Hmm… baru 5 tahunan”.

Agak kaget mendengar jawaban saya, ia menyahut, “Waaah 5 tahun mah lama atuh mbak. Anaknya berapa?”.

“Tiga  yang bungsu lahir di sini 4 tahun lalu sementara dua kakaknya sudah besar” jawab saya santai.

Nggak punya pembantu mbak? Terus anak-anak yang antar sekolah mbak sendiri?” ia ingin lebih tahu tentang saya.

Nggak laah tapi saya punya part time maid yang datang 2 kali sepekan. Perdatangnya cukup 2 jam setrika baju dan beresin dapur. Kalau sekolah ya saya antar sendiri,” jawab saya.

Wuihkoq betah ya 5 tahun nggak punya pembantu punya anak 3. Saya baru 2 bulan aja udah nggak betah bawaannya mau pulang aja deh ke Jakarta. Repot banget megang anak 1.5 tahun nggak punya pembantu. Untung kakaknya umur 4 tahun sudah saya masukkan ke Kindergarten. Mana saya belum bisa nyetir  jadi kemana-mana harus telpon taksi. Ambil SIM di sini katanya susah ya mbak? Nggak kayak di Jakarta tinggal nembak aja,” jawabannya seperti kesal pada diri sendiri.

Kalau sudah ada yang kesal dengan situasi seperti ini selalu saya jawab dengan motivasi “Santai aja lagi mbak. Kalo kita sering ikut kegiatan seperti ini ntar juga lama-lama betah looh. Saya aja baru dapat SIM sini setelah 3 kali ujian. Itupun yang terakhir kali waktu saya hamil 6 bulan.”

Akhirnya perbincangan kami terhenti karena ustaz sudah hadir. Pertanyaan-pertanyaan seputar ini seringkali dilontarkan oleh ibu-ibu yang baru beberapa bulan ikut suami bekerja di Qatar. Dalam hati saya ia akan lebih terkaget-kaget lagi kalau tahu saya mengikuti kelas bahasa Arab setiap 2 kali dalam sepekan. Tidak hanya saya tapi ibu-ibu lain yang hadir di Majlis Taklim itu juga punya kegiatan yang sama persis dengan saya. Nyaris setiap harinya diisi dengan kegiatan manfaat baik itu olah raga ataupun menuntut ilmu.

Tidak ada yang mengeluh, semua itu pilihan apakah kita mau mengisi hari-hari kita di rumah atau di luar rumah sementara anak-anak kita di sekolah. Apalagi saya memiliki suami yang seringkali bertugas hingga berhari-hari membuat saya harus melakukan pekerjaan rumah seorang diri.

Sebetulnya apakah kita seorang diri mengurus semua urusan tetek bengek rumah tangga? Buat saya tidak karena ada anak-anak yang bisa kita minta bantuannya. Lagipula bukankah anak-anak kita jauh lebih mandiri daripada anak-anak yang dibantu oleh asisten rumah. Sejak pagi hari anak-anak sudah mandi dan berpakaian sendiri sementara saya menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mereka. Pertama kali saya tinggal di Doha anak sulung saya masih kelas 4 SD dan adiknya kelas 3 SD. Pakaian yang sudah disetrika oleh part time maid  kami akan mereka ambil dari laundry room untuk kemudian mereka simpan sendiri ke lemari masing-masing. Pakaian kotorpun akan mereka masukkan ke mesin cuci bila melihat saya belum sempat melakukkannya. Mereka akan menyimpan piring-piring kotor bekas makan kami ke mesin cuci piring usai waktu makan berikut lauk pauk akan mereka simpan di dapur.

Suami sayapun tidak segan membantu pekerjaan rumah bila sedang libur dari pekerjaannya. Kami akan menyantap sarapan pagi nasi goreng buatan suami yang membuat ketagihan anak-anak kami. Apalagi ketika saya baru melahirkan anak bungsu kami 4 tahun silam, ia rela menyedot debu-debu di sudut rumah yang tidak sempat saya sentuh karena kesibukan saya mengurus bayi. Tentu dibutuhkan pengertian yang sangat besar antara kita dengan pasangan kita bahkan dengan anak-anak kita.

Bayangkan kalau anak-anak tidak diberi pengertian, wuiihhh, usai masak lalu menghidangkan di meja lalu membersihkan perangkat makan sementara anak-anak hanya tinggal duduk kemudian menyantap makanan setelah itu pergi ke kamar masing-masing. Oooh nooo, saya bukan babu….

Dari sebuah buku saku yang pernah saya baca di toko buku Jarir kalau tidak salah judulnya Super Mom, lupa pengarang dan penerbitnya, dituliskan bahwa seorang super mom bukanlah mereka yang dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri tetapi adalah mereka yang mampu berbagi pekerjaannya dengan orang lain. Tidak ada salahnya bila kita memanggil pekerja paruh waktu ketika kita merasakan diri kita kurang sehat agar pekerjaan terselesaikan dan kitapun tetap bugar. Super mom bisa menyiapkan masakan yang praktis tanpa kehilangan waktu untuk dirinya sendiri misalnya untuk membaca buku kesukaannya. Bukanlah seorang super mom bila akhirnya tidak sempat merawat diri dan penampilannya hingga nampak kusut wajahnya karena sudah habis waktunya di dapur karena masak dan membersihkan rumah seorang diri. Apalagi bila tidak ada waktu untuk berolah raga.

Nah untuk urusan masak bukan masalah sulit buat saya. Sejak berhenti bekerja lalu ikut suami bekerja ke Qatar saya jadi hobi mencoba resep-resep baru. Apalagi ketika masih hamil belum tersita waktu saya untuk mengurus bayi, memasak merupakan pekerjaan saya setiap hari. Ketika kembali ke rumah setelah melahirkan anak bungsu saya melalui C section sayapun tetap masak. Lah wong ibu menyusui pasti lapar terus dong. Hingga akhirnya bayi saya mulai merangkak dan berjalan saya agak kerepotan dalam hal masak. Tidak boleh lengah sedikitpun meskipun si bayi sedang tidur. Saya pilih menu-menu praktis untuk sehari-hari. Sayapun terbantu oleh beberapa teman yang bersedia melayani jasa catering. Memang akhirnya harus mengeluarkan uang lebih dari biasanya tetapi dibandingkan keselamatan bayi saya tak adalah artinya. Sampai sekarang si bungsu sudah sekolah saya masih menggunakan jasa catering di hari saat saya mengikuti kursus bahasa. Sisanya saya akan masak sendiri hingga di akhir pekan.

Lalu untuk antar jemput sekolah saya berbagi dengan seorang sahabat saya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah saya. Suatu kebetulan pula ketiga anak-anak kami berusia sama jadi merekapun berada di jenjang sekolah yang sama. Anak bungsu saya yang masih di KG akan keluar sekolah pukul 12.30 sementara anak sulung dan anak ke dua saya usai sekolah pukul 14.00 bila ada school activity. Bayangkan kalau saya tidak punya sahabat untuk berbagi tenaga mengantar dan menjemput sekolah, saya seperti setrikaan doong. Usai kursus bahasa Arab pukul 12.15 saya akan menjemput anak bungsu saya dan anak sahabat saya yang sama-sama di KG. Sahabat saya akan menjemput anaknya dan anak-anak-anak saya pada pukul 14.00. Selain menghemat tenaga, menghemat waktu dan juga menghemat bahan bakar.

Pandai mengatur waktu dan tenaga menjadikan kita super mom yang cerdas bukan super mom yang habis waktu dan tenaganya hingga nampak lusuh. Untuk para moms yang baru hijrah ke negeri orang, syukuri dan nikmati urusan rumah tangga tanpa didampingi asisten rumah. Bukankah suami menjadi lebih sayang dan perhatian pada kita….