Monthly Archives: March 2012

Pasien Kecilku di Rumah

Standard

Saat pergantian musim seperti sekarang ini sangat rentan dengan mewabahnya berbagai macam penyakit. Baik itu flu atau batuk. Tidak pandang usia menyerang dewasa atau anak-anak. Bila kondisi fisik kita menurun sangat mudah terserang penyakit. Minggu lalu badai pasir sempat menyerang kota kami, si bungsu Mishaal langsung terkena batuk dan flu. Batuk hanya sehari selesai tapi flu terus hingga 5 hari. Akhir pekan karena terlalu banyak kegiatan akhirnya suhu badannya meninggi. Keesokan harinya suhu badan langsung menurun diikuti bintik-bintik merah seluruh badan. Setelah mengunjungi dokter dinyatakan positif terkena cacar air.

Langkah pertama langsung isolasi dari kedua kakaknya.  Lanjut googling   informasi  do and don’t  terhadap penyakit menular ini. Saya komunikasikan dengan Mishaal bahwa penyakit ini menular jadi tidak boleh mendekati bahkan masuk  kamar kedua kakaknya. Itu sebabnya tidak boleh masuk sekolah hingga 2 minggu mendatang. Tidak boleh pula menggaruk luka berair di tubuhnya karena menyebabkan bekas berlubang di kulit seumur hidup.

Alhasil kontak langsung hanya dengan saya sebagai ibunya yang mengurusi makan, obat dan penanganan luka cacarnya. Keesokan harinya, hari ke-2, ia bangun agak siang setelah saya pulang mengantar kedua kakaknya ke sekolah. Wajahnya kelihatan agak sedih tetapi langsung gembira saat melihat saya tiba di rumah.

“Bu, Kakak dan Abang kemana?”, tanyanya.

“Sudah berangkat sekolah”, jawab saya.

“Kalau bapak kemana?”, tanyanya lagi.

“Berangkat terbang tadi subuh saat Mishaal masih tidur”, jawab saya lagi.

“Memangnya kenapa?  Tadi subuh bapak ke kamar Mishaal koq tapi sengaja nggak bangunin  supaya Mishaal cukup istirahat”, jawaban untuk menenangkan dirinya.

“Kakak dan Abang lihat Bapak berangkat?“.

“Iya lihat”.

“Aku dicium Bapak nggak?” tanyanya sambil senyum-senyum.  

Aaah, hati saya trenyuh tetapi dengan senyum pula saya jawab,

“Bapak  nggak cium Mishaal seperti biasa supaya  tidak tertular. Nanti kalau sudah sembuh pasti dicium lagi. Nah kalau Bapak sakit nanti  nggak  bisa kerja”.

“Hmmm”,  wajahnya tersenyum lega dengan jawaban saya.

Saya tambahkan lagi, “Walau nggak  cium Mishaal, Bapak tetap sayang koq ke Mishaal. Usai sholat tadi didoakan supaya cepat sembuh, nggak rewel, nggak gatal-gatal. Mishaal juga banyak-banyak berdoa ya saat sakit seperti ini. InshaAllah mudah dikabulkan doa-doa orang yang sakit”.

Masih dengan wajah senyum ingin tahu, “Bu, kenapa Ibu mau dekat-dekat aku?”.

Pertanyaan kali ini lebih mengharukan buat saya.

Sambil mengolesi obat ke luka cacarnya, saya jawab, “Laaah kalau Ibu nggak  mau dekat Mishaal siapa yang mengolesi  salep ke seluruh badanmu? Siapa yang bawakan makanan ke kamar? Mishaal mau mandi sendiri kalau seluruh badan seperti ini? Atau mau si bibik Srilanka kita yang ngurusi  Mishaal?”.

Pertanyaan singkatnya saya balas balik dengan rentetan pertanyaan. Ia menjawab hanya dengan gelengan kepala.

Isi kepala saya masih penuh dengan penjelasan tambahan, “Lagipula semua ibu pasti melakukan ini ke semua anaknya. Ibu yang bekerja di kantor langsung minta ijin ke bos nya supaya bisa di rumah ngurusi   anaknya yang sakit”. Selesai jawaban saya bersamaan dengan selesai mengolesi salep ke seluruh badannya.

Masha Allah, langsung hilang rasa lelah, padahal tadinya badan saya mulai terasa gatal-gatal juga, kali ini sih sugesti :))

Puas rasanya bisa mengurus sendiri anak yang sedang sakit.

“Setelah makan Mishaal lanjutkan baca buku ya”, saran saya untuk mengisi waktunya di rumah.

“Tapi aku mau main monopoli”, jawabnya santai.

“Oke deh main sendiri ya”, jawab saya santai juga.

“Mana bisa Bu monopoli main sendirian”, jawabnya sedih.

Waduh benar juga. Saya coba nego,” Tapi coba saja main sendiri, Mishaal bisa jadi 3 orang termasuk bankir ”.

“Ya susah Bu, aku main dengan siapa lagi kalau bukan dengan ibu. Yang lain nggak   ada yang mau dekat aku”, air matanya mulai menetes.

 

Haddeeuuhh, ibu mana yang tega kalau anaknya mulai begini.  Akhirnya tutup mata deh melihat pekerjaan rumah menumpuk di depan mata.

Semoga cepat sembuh ya sayang…..

Advertisements