Monthly Archives: February 2010

ASISTEN RUMAH

Standard

LUGU vs CANGGIH

Istilah pembantu rumah tangga kini mulai bergeser menjadi asisten rumah. Mereka memang layaknya seorang asisten, membantu pekerjaan rumah atasannya dalam hal ini majikannya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, ada pula yang sekaligus mengasuh anak. Keberadaan mereka tidak bisa kita sepelekan apalagi bagi ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. Kala saya belum bekerja, saya juga sangat membutuhkan mereka. Apalagi ketika saya melahirkan anak ke dua sementara kakaknya belum genap berusia 2 tahun. Pada saat itu pula saya pindah ke rumah kecil milik sendiri setelah beberapa lama tinggal di rumah orang tua saya.

Wadduuh, nggak kebayang deh punya 2 anak masih balita kalau tanpa asisten rumah. Bagaimana membantu si sulung misalnya membersihkan dirinya setelah BAB sementara adiknya menangis ingin menyusui. Belum lagi harus memasak untuk anak-anak lalu pakaian kotor yang menumpuk harus pula segera dicuci. Rasanya dunia mau hancurrrr…

Setelah mencari sana-sini siapa yang bisa membantu saya di rumah tapi belum juga ada yang cocok. Umumnya mereka tidak mau tidur bersama anak balita saya sementara rumah saya hanya memiliki 2 kamar, maklumlah rumah sangat mungil. Saya belum memiliki cukup dana untuk membangun kamar lagi, lah wong dari penghasilan suami saya sudah terkuras untuk membayar uang muka rumah ditambah cicilan setiap bulan.

Setelah bertahan tanpa asisten beberapa bulan lamanya akhirnya saya mendapati seorang ibu yang bisa membantu pekerjaan rumah saya. Dia tinggal tidak jauh dari kediaman saya kira-kira 2 kilometer. Dia penduduk asli di kawasan kediaman saya jadi tidak perlu tinggal bersama saya melainkan datang pagi hari kemudian pulang siang hari. Istilah di kalangan ibu-ibu adalah “pulang hari” untuk asisten rumah yang seperti ini. Saya sangat terbantu dengan kehadirannya sehingga dapat konsentrasi mengasuh dan mendidik anak di rumah. Saya hanya memasak saja kala anak-anak saya tidur pagi hari, sementara pekerjaan rumah lainnya ditangani olehnya.

Saya memanggilnya Bi Maning, perawakannya pendek, wajahnya khas penduduk Jakarta asli, logat bicaranya kental Betawi asli, cara jalannya sangat cepat. Perkiraan saya dia seusia dengan saya walau anaknya sudah SMP. Dia tidak tahu persis berapa umurnya karena tidak memiliki KTP. Ia pun tidak tahu bahwa setiap warga Indonesia yang telah dewasa, berusia 17 tahun, wajib memiliki kartu identitas.

Setelah beberapa bulan bekerja dengan saya, baru saya sadari bahwa dia tidak tahu nilai mata uang, yang mana uang seribu perak apalagi seratus ribu. Ketika saya minta dia membayarkan belanjaan saya pada tukang sayur keliling di depan rumah, ternyata dia tidak tahu berapa jumlah semua uang yang dikembalikan oleh si tukang sayur. Akhirnya saya ketahui pula bahwa dia juga buta huruf. Sejak itu setiap hari saya ajarkan padanya nilai mata uang walau masih saja kadang-kadang salah juga. Untuk urusan baca tulis saya belum sempat mengajarkannya. Buat saya saat itu bukanlah masalah asalkan dia rajin, datang setiap hari, dan jujur.

Masalah baru timbul ketika akhirnya anak-anak masuk sekolah kemudian saya bekerja sebagai guru. Dia tiba di rumah saat saya dan anak-anak sudah pergi ke sekolah. Akhirnya saya ajarkan dia membaca numerik lebih dulu daripada alpabet karena dia harus menelpon saya bila ada sesuatu yang penting setelah sebelumnya saya ajarkan menerima telepon. Meski akhirnya dia tidak pernah menelepon saya sekalipun. Saya ajarkan pula untuk menelpon ke warung langganan bila dia harus membeli tabung gas dan air mineral. Alhamdulillah berhasil dan tidak pernah salah karena setiap kali tabung gas yang habis telah berganti dengan yang baru sementara saya tidak di rumah. Semakin lama dia semakin terampil dalam pekerjaan rumah.

Untuk urusan baca tulis saya sediakan setengah jam setelah saya pulang mengajar sebelum dia kembali ke rumahnya. Saya tidak berharap banyak karena saya sadar dia sudah lelah dengan pekerjaanya. Saya masih beruntung bahwa dia tetap setia pada saya bila saya bandingkan dengan kisah teman-teman saya mengenai asisten rumah mereka yang umumnya sok pinter, tidak jujur, dan kebanyakan tidak setia pada majikannya. Bayangkan kalau Bi Maning tidak setia, haddooohh, pulang ngajar harus mengurus pekerjaan rumah kemudian membantu PR sekolah anak-anak. Rasanya saya tak punya tenaga sebesar itu.

Hingga 7 tahun lamanya Bi Maning tetap setia pada saya. Tahun itu dia hamil anak ke 5, pada saat usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh saya minta dia cuti sementara saya sedang menyiapkan kepindahan saya ke Qatar. Walau demikian saya masih memperhatikan kebutuhannya, itu sebabnya ketika dia memasuki bulan ke sembilan kandungannya saya antar ke rumah sakit kemudian menungguinya melahirkan.

~~~

Mengikuti tugas suami ke Qatar, saya dan anak-anak sepakat tidak menggunakan asisten rumah, toh, mereka sudah besar dan saya tidak bekerja. Walaupun perusahaan tempat suami bekerja memberi fasilitas tiket pesawat setengah harga normal, setahun sekali untuk asisten rumah. Saya memutuskan hanya menggunakan part time maid, istilah untuk asisten “pulang hari”.

5 tahun lalu, atas rekomendasi seorang teman, saya mendapatkan part time maid, seorang perempuan asal India berperawakan agak tinggi, kulit gelap, logat bicaranya khas penduduk negara asalnya yang kerap kali menggelengkan kepala saat bicara. Sujata namanya, dia datang dua kali dalam sepekan, hanya 2 jam setiap datang menyetrika dan membersihkan dapur. Pekerjaannya boleh dikatakan rapi dan bersih hingga ke sudut-sudut rumah.

Namun entah kenapa 2 tahun terakhir ini, dia selalu tergesa-gesa dalam bekerja. Sering kali saya dapati debu-debu di sudut rumah rumah tidak tersapu olehnya, bahkan beberapa kali dia tinggalkan ‘perlengkapan perangnya’ berupa lap dan botol pembersih kaca ditinggalkan begitu saja di ruang tamu. Agar tidak berkelanjutan selalu saya ingatkan dia agar tidak terulang lagi.

Satu hal lagi yang membuat saya heran akhir-akhir ini, dia selalu bekerja sambil menelpon tiada henti. Kalaupun berhenti hanya sesaat dia akan menelpon kembali temannya. Entah teman yang tadi dia telpon atau teman yang lain lagi. Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan karena dia menggunakan bahasa negerinya. Saya mulai kesal dengan kebiasaan barunya ini hingga pernah saya sindir bahwa dia sekarang ini layaknya bussiness woman karena banyak yang menelpon.

Pernah saya tanyakan berapa pulsa telepon yang dia bayar setiap bulan, wow, empat kali dari pulsa yang saya bayar. Alasannya karena dia sering menelpon anak semata wayangnya yang tinggal nun jauh di negerinya. Lalu saya beri saran agar dia mengurangi kebiasaan menelpon bila tidak terlalu penting. Sayang kan, uang yang dia dapat kalau akhirnya dia keluarkan hanya untuk pulsa. Belakangan dia mengganti fasilitas pembayaran teleponnya dengan produk budget control. Waah lebih pintar dia.

Usai mengepel, menyetrika, sambil menelpon

Kebiasaannya menelpon sambil bekerja tidak berkurang bahkan makin bertambah. Buat saya hal ini mengganggu efektifitasnya dalam bekerja. Dia selalu menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan leher kanannya sambil menyapu, mengepel, mencuci piring, dan menyetrika. Saya tegur dia, kalau dia bisa bekerja lebih cepat bila menggunakan kedua tangannya secara bebas tanpa hambatan. Eeh, ternyata dia tidak habis akal, dia ambil sebuah kabel panjang dari dalam tasnya, dia sambungkan bagian ujung kabel ke telepon genggamnya lalu bagian ujung lain ke telinganya, hands free….

What to do…what to do….


Advertisements

KELAS IMPIAN SEORANG GURU

Standard

Hujan yang turun sejak tadi pagi tidak membuat saya urung pergi ke sekolah tempat saya bekerja lapangan. Angkot yang membawa saya ke sekolah berjalan pelan walau penumpang penuh karena barisan mobil di depannya pun berjalan perlahan. Saya basuh jendela angkot yang mulai buram karena embun agar saya bisa melihat ke jalan dengan jelas. Lalu saya minta sopir angkot untuk berhenti,

“Bang, depan berhenti ya”.

Sambil beranjak turun dari angkot saya berikan pada sopir uang kertas yang sudah saya siapkan sejak naik angkot tadi. Lalu dengan cepat saya berlari setelah membuka payung lipat ke arah sekolah yang berjarak 100 meter dari jalan raya. Genangan air di jalan membuat sepatu dan bagian bawah rok saya basah. Akhirnya saya tiba di tempat tujuan saya. Hampir 1 bulan saya rutin datang ke sekolah ini setiap 3 kali sepekan mengajar bidang studi Bahasa Indonesia kelas 3 SMP. Hal ini saya lakukan untuk menyelesaikan laporan akhir studi Program AKTA IV yang saya ikuti di IKIP Jakarta (sekarang menjadi UNJ).

Saya langsung menuju ruang guru yang ada di bagian kiri depan bangunan sekolah itu. Hanya ada seorang guru, Pak Ginanjar, yang sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Saya sapa dia

“Siang Pak”.

Beliau mengangguk sambil tersenyum, “ Koq hujan-hujan begini tetap datang bu?”.

Dengan bingung saya balas bertanya lagi, “Loh memangnya kenapa Pak?”.

Sambil senyum lagi ia menjawab, “ Biasanya sih guru-guru nggak datang bu karena murid-murid juga nggak banyak yang datang. Tadi kelas 1 dan 2 digabung lalu diisi pelajaran agama Islam oleh Pak Azrul”.

“Hmm… nggak apalah Pak, rencananya saya memberi latihan soal hari ini” ujar saya.

Tak lama kemudian datang Nazarudin yang juga kerja praktek lapangan di sekolah ini. Dia juga sedang mengambil studi AKTA IV di IKIP Jakarta bersama saya. Dia yang mengajak saya untuk kerja lapangan di sekolah ini bersama dengan seorang teman lagi namanya Burhan. Saya yakin Burhan sudah hadir di sekolah ini karena saya tahu jadwal beliau 2 jam pelajaran sebelum waktu saya mengajar.

10 menit kemudian bel ganti pelajaran dibunyikan oleh Pak Ginanjar yang piket hari ini. Dengan cepat saya berjalan ke arah ruang kelas 3. Dari jendela tak berkaca saya lihat Pak Burhan masih berada di dalam kelas. Dia berjalan keluar kelas sambil berujar, “Bu Nana, yang hadir nggak sampe 50 persen”.

“Oh iya Pak, tadi Pak Ginanjar sudah kasih tahu, makasih” jawab saya.

Saat saya masuk kelas, 2 siswa pria pamit untuk ke kamar kecil tetapi tidak saya ijinkan. Saya tahu itu adalah siasat mereka untuk keluar kelas lalu tidak masuk kembali. Memang mudah untuk keluar dari gedung sekolah yang berbentuk huruf U ini karena tidak dikelilingi pagar. Bagian belakang dan sisi kanan sekolah adalah daerah pemukiman penduduk asli kota Jakarta. Sementara bagian sisi kiri sekolah terdapat kebun pisang milik seorang tuan tanah di kawasan tersebut. Kamar kecil yang dimiliki sekolah ini terdapat dibagian belakang bangunan. Itu sebabnya siswa yang pamit ke kamar kecil akan kabur ke arah pemukiman penduduk kemudian tidak akan kembali ke kelas hingga jam sekolah usai. Umumnya mereka yang cabut ( baca: bolos sekolah ) adalah siswa pria.

Hari pertama saya mengajar di sekolah ini agak bingung juga oleh situasi demikian. Berdasarkan cerita Nazarudin yang penduduk asli kawasan sekolah ini hal itu sudah biasa terjadi setiap hari. Akhirnya saya pahami betul bahwa sekolah ini hanyalah tempat anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri manapun karena nilai mereka yang rendah. Kasihan mereka, guru-guru di sekolah ini menyebutnya sebagai anak-anak buangan. Orang tua mereka pun tidak mampu membayar mahal pada sekolah-sekolah swasta lain yang bergengsi. Mereka hanya anak-anak sopir angkot, buruh-buruh pabrik, bahkan ada anak seorang tukang gali sumur pompa.

Saya buka kelas dengan sapaan selamat siang. Kemudian saya menggeser kursi guru yang terletak di sudut ruangan ke arah pintu masuk karena saya lihat tetesan air hujan di dekat meja guru. Tetesan itu sudah membuat genangan air di atas ubin yang kusam dimana kotoran yang menempel di atasnya sulit dibersihkan. Lalu saya minta siswa-siswa yang duduk di bagian belakang untuk pindah ke kursi bagian depan namun mereka menolak dengan alasan banyak tetesan air di bagian depan kelas. Sayapun mengerti. Baru saya ingat kala masuk ruang guru tadi ada 2 ember diletakkan di dalamnya. Satu buah tepat di pintu masuk ruang guru dan satu lagi di tengah ruangan.

Sementara saya perhatikan di ruang kelas 3, Masya Allah, ada 9 titik tetesan air dari genteng yang tidak dilapisi atap. Tidak satupun ember diletakkan di ruangan ini. Nampaknya sekolah tidak memiliki cukup ember untuk menampung tetesan-tetesan air yang ada di seluruh bangunan gedung sekolah ini. Lagi pula membeli ember sebanyak itu bukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Cuaca mendung membuat kelas yang gelap menjadi semakin gelap. Jendela yang mengelilingi ruang kelaspun sangat buram. Tidak ada lampu yang menggantung di kelas ini. Kalaupun ada saya khawatir akan terjadi arus pendek akibat hujan yang menetes melalui genteng.

Saya absen satu persatu siswa kelas 3 tapi hanya 18 yang hadir dari 52 siswa yang tertera di buku absen. Umumnya yang hadir adalah siswa perempuan. Situasi seperti ini membatalkan rencana saya hari ini memberi latihan soal pada mereka. Latihan soal itu untuk melihat sejauh mana mereka memahami materi ajar yang telah saya berikan selama kurang lebih satu bulan ini. Tidak mungkin pula saya beri lagi materi baru kalau siswa yang hadir kurang dari 50 persen. Lebih-lebih lagi papan tulis berwarna hitam yang akan saya tulisi dengan kapur tidak akan nampak jelas bagi siswa yang duduk di bagian belakang kecuali saya menulisnya dengan huruf besar-besar.

Akhirnya saya isi kelas dengan cerita-cerita yang memberi motivasi bagi siswa agar mereka tidak malas sekolah. Saya minta mereka membayangkan orang tua mereka yang bekerja berpeluh keringat demi bisa menyekolahkan mereka dan berharap kehidupan mereka jauh lebih baik daripada saat ini. 1 jam pelajaran terakhir saya minta mereka menulis harapan-harapan yang mereka inginkan dari sekolah ini. Sambil menunggu mereka menyelesaikan tugas tersebut saya duduk termenung. Memimpikan sebuah kelas yang cantik, jendela yang lebar nan bersih berikut tirai yang manis, lantai yang bersih, berpenerangan yang cukup, mesin pendingin ruangan, lengkap dengan alat bantu ajar terkini…….

SMP Dharma Bhakti kelas 3, Cipondoh, Tangerang – 1999 –

~~~~~

Hari ini sengaja saya berangkat 15 menit lebih awal dari biasanya. Saya hentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobby gedung. Saya berjalan masuk ke lift lalu menekan tombol angka 3. Gedung ini terdiri dari 6 lantai. Tempat yang saya tuju adalah ruang kelas Tsa Putri yang terdapat di lantai 3. Setibanya di ruang kelas belum ada satu siswi pun yang datang. Saya buka tirai jendela agar ruangan mendapatkan cahaya matahari jadi tak perlu menyalakan lampu. Kemudian saya nyalakan mesin pendingin ruangan. Sebelum kelas dimulai saya siapkan layar komputer yang terdapat di sudut ruangan kelas. Saya masukkan kepingan CD ke dalam disc drive hingga waktunya saat menonton nanti semua sudah siap.

Pekan lalu saya berjanji pada siswi-siswi untuk menayangkan Film “ Maryam binti Imran”. Kebetulan materi yang saya siapkan bulan ini adalah Ulul Azmi sedangkan hari ini akan saya kisahkan tentang Nabi Isa alaihissalam. Kelas selalu saya mulai dengan memeriksa bacaan Iqra’/Quran semua siswi dilanjutkan menyimak hapalan-hapalan juz amma mereka. Siswi yang belum mendapat giliran akan mengulang hapalan mereka sambil menungggu giliran.

Tepat pukul 08.30 datang 3 orang siswi masuk kelas seraya berucap, “Assalaamu’alaikum, Bu”.

“Wa’alaikumsalaam warahmatullaahi”, jawab saya.

Saya persilahkan mereka duduk di baris terdepan dari 3 baris kursi yang ada. Masing-masing baris terdapat 10 kursi lipat yang memiliki meja di atasnya. Seyogyanya kelas dimulai pukul 08.30 tapi karena baru 3 orang dari 25 siswi yang terdaftar di kelas saya maka saya tunda hingga 10 menit kemudian. Tak lama datang lagi 5 orang siswi lalu saya buka kelas dengan berdoa. Saya didampingi seorang guru lagi mulai memeriksa bacaan Quran masing-masing siswi. Tepat pukul 09.00, 17 siswi sudah hadir memenuhi kelas. Jumlah siswi dikelas saya memang paling sedikit dibandingkan kelas-kelas lain. Jadi tak perlu memakan waktu memeriksa bacaan mereka.

Kegiatan ini sudah saya jalani sejak Maret 2005 bersama beberapa teman dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Quran KAIFA bagi anak-anak Indonesia yang berada di Doha, Qatar. Sungguh merupakan tantangan buat kami yang tinggal di negara Islam tetapi karena umumnya anak-anak kami belajar di sekolah Internasional maka pelajaran Islam bukanlah yang utama. Untuk mengisi kekurangan tersebut maka bermulalah kegiatan ini. Awalnya kami mulai di sebuah komplek perumahan di Al Sadd area dengan jumlah siswa kurang dari 50 orang, usia 4 hingga 13 tahun.

Bertambahnya siswa setahun kemudian menyebabkan kami pindah ke KBRI Doha. Jumlah siswa yang mencapai 200 orang pada tahun 2007 tidak tertampung lagi di KBRI. Beberapa pendiri mencari upaya mengatasi masalah tempat di mana kami bisa menampung siswa sebanyak itu tanpa membayar sewa gedung. Akhirnya atas kebaikan pihak QICC (Qatar Islamic Culture Centre) kami mendapat 10 ruang kelas untuk menampung kurang lebih 400 siswa yang terdaftar tanpa membayar sewa gedung sepeserpun.

Usai mendapat giliran semua siswi saya minta mengingat apa yang telah saya berikan pekan lalu tentang Ulul Azmi. Lalu mulailah saya bercerita tentang Nabi Isa alaihissalaam hingga akhirnya tenggorokan saya terasa mulai kering saya lanjutkan dengan memutar film. Acara menonton di kelas adalah kegiatan yang selalu ditunggu oleh siswi-siswi saya yang berjenjang usia 8 hingga 10 tahun. Buat saya cara ini sedikit meringankan tugas saya, tidak perlu mengeluarkan suara terlalu banyak untuk menyampaikan kisah-kisah Nabi dan para sahabatnya. Baru setelah itu saya tambahkan beberapa hal dilanjutkan dengan tanya jawab.

Jam menunjukkan pukul 11.00 saatnya kelas ditutup dengan doa. Setelah semua siswi keluar kelas, saya keluarkan kepingan CD dari disc drive lalu saya matikan komputer. Sebelum meninggalkan kelas tak lupa saya matikan mesin pendingin ruangan….

Gedung Fanar, kelas Tsa Putri, Doha, Qatar – Desember 2009 –