Category Archives: pendidikan

Siswa Qatar Mondok Di Daarut Tauhid – Bandung Selama Ramadan

Standard

Libur bagi siswa sekolah adalah hal yang sangat dinanti-nanti,  tidak melakukan kegiatan belajar sama sekali. Libur sekolah di Indonesia umumnya berlangsung  selama dua hingga tiga pekan cukup bagi siswa untuk istirahat dari kegiatan belajar di sekolah. Orang tua akan mengisi libur anak dengan kegiatan menyenangkan.  Nah bagaimana bila libur sekolah berlangsung lebih dari dua bulan? Sedangkan dua pekan saja membuat para orangtua kebingungan untuk mengisi waktu libur mereka apalagi dua bulan !!!

Libur sekolah di Eropa dan Amerika berlangsung lebih dari dua bulan untuk musim panas. Termasuk sekolah-sekolah dengan kurikulum Eropa dan Amerika yang ada di luar wilayah tersebut. Itu sebabnya banyak kegiatan  Summer Camp  di Eropa dan Amerika untuk mengisi libur musim panas. Di Timur Tengah banyak sekali sekolah-sekolah berbasis kurikulum Inggris dan Amerika yang mengikuti libur sekolah negara asalnya. Apalagi musim panas di Timur Tengah bisa mencapai angka 50 derajat celcius !!!  Bayangkan kalau tidak libur bagaimana tubuh harus menyerap panas matahari yang sangat menyengat setiap hari. Maka tak heran saat musim panas bulan Juli-September kota-kota di Timur Tengah sepi dari siswa-siswa sekolah dan para ibu yang berlibur ke negara asal mereka.

Demikian pula dengan warga Indonesia di Qatar yang umumnya anak-anak mereka menuntut ilmu di sekolah internasional berbasis kurikulum Inggris dan Amerika libur musim panas berlangsung selama dua setengah bulan. Orang tua harus kreatif dalam mengisi libur sekolah agar anak mereka tidak bosan atau hanya menatap layar komputer yang terhubung dengan internet. Untuk libur di kampung halaman banyak sekali pilihan untuk mengisi kegiatan anak-anak selain pergi ke tempat hiburan atau ada yang mengikut sertakan anak-anak dalam les pelajaran atau bergabung dengan klub olah raga.

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Santri bersama KH Abdullah Gymnastiar/foto: WidArt Fotografi

Tahun ini diprakarsai oleh Tentang Qatar beberapa orang tua berinisiatif mengisi libur sekolah anak mereka dengan menimba ilmu di pesantren Daarut Tauhid ( DT ) milik KH Abdullah Gymnastiar di Bandung. Kegiatan ini telah berlangsung selama tiga pekan sejak hari ke dua Ramadan 22 juli hingga 12 Agustus 2012 yang lalu. Seluruh santri berjumlah 17 siswa putra lalu pada satu pekan terakhir bertambah 2 siswa putri. Usia mereka berkisar dari 7 hingga 15 tahun. Berharap liburan kali ini mempunyai nilai lebih dengan diisi hal-hal bermanfaat tanpa mengurangi nilai kesenangan. Konsep yang ditawarkan DT diharapkan dapat memberi pengalaman unik yang berharga dan memfasilitasi proses perkembangan santri. Kegiatannya selain dilakukan dalam ruangan untuk mentoring juga dilakukan di luar ruang, alam terbuka agar peserta tidak jenuh.

Mentoring ala DT dengan konsep Manajemen Qolbu ( MQ ) yang banyak menggunakan istilah sebagai kata kunci menjadi mudah diingat oleh santri. Terbukti saat berkomunikasi atau bersenda gurau sesama santri seringkali saling mengingatkan dengan istilah-istilah SMOS ( Suka Melihat Orang Susah / Susah Melihat Orang Senang ), Terapi Penyakit Qolbu TENGIL ( Takabur Egois Norak Galak Iri Lalai ), Menjadi Remaja Unggul dengan 3A (Aku aman;  Aku menyenangkan;  Aku ), dan Menjadi Pribadi Simpatik dengan 5S ( Salam  Sapa Senyum  Sopan  Santun ).

Mentoring, tausiyah, tadarus, tahfiz harian yang sangat padat tidak membuat santri jenuh karena selalu diselingi dengan  ice breaking  dan istirahat siang.  Selain pemberian materi ada juga  kegiatan luar ruang yang menyenangkan seperti olah raga atau  fun games  yang membutuhkan kerja sama kelompok sehingga santri seakan-akan bermain padahal mereka sedang diajarkan kerjasama kelompok.

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Selain itu setiap akhir pekan santri melakukan i’tikaf   di pesantren lain agar melihat juga ragam kehidupan  dan berinteraksi dengan warga lain. Asal tahu saja mereka menuntut ilmu di sekolah Internasional  yang berisi murid-murid dari berbagai bangsa – multi cultural – dan berbagai macam agama tetapi berstrata sosial yang sama maka sangat perlu buat mereka berinteraksi dengan ragam sosial yang berkelas-kelas di tanah air sehingga  mereka peka terhadap lingkungan sekitar.

Kegiatan luar ruang selain  outbound  juga mengadakan kunjungan sosial ke salah satu  pesantren Pondok Asuhan yatim piatu dan dhuafa membuat mereka berbaur karena melihat dan berinteraksi langsung dengan para santrinya. Santri bermalam di pondok tersebut melakukan kegiatan tadarus, olah raga, sahur dan buka puasa bersama dengan makanan seadanya yang sama porsi dan macamnya bagi semua penghuni pondok. Tidak ada yang lebih banyak atau mendapat lebih sedikit jatahnya, semua sama. Mereka juga menyaksikan pesantren yang  mandiri pangan dengan berkebun dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di lingkungan pondok. InshaAllah kunjungan ini sangat membekas di hati mereka.

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Latihan keseimbangan/ foto: WidArt Fotografi

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Membaca Al Quran /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

Berkebun di PA Yatim Piatu /Foto: WidArt Photography

 

 

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Pondok Asuhan Yatim Piatu /foto: WidArt Fotografi

 

Santri juga melakukan kunjungan wisata sejarah ke Museum Konperensi Asia-Afrika, Museum Geologi, dan Goa Belanda yang ada di kawasan Bandung. Untuk wisata seni mereka mengunjungi Saung Udjo menikmati kesenian Jawa Barat sambil belajar bermain angklung serta mengunjungi industri kerajinan batik untuk melihat proses pembuatan batik tulis dan cap sekaligus membuat sendiri sapu tangan batik cap karya masing-masing.

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Kunjungan Museum Konferensi Asia Afrika/foto: WidArt Fotografi

Usai  mondok  di DT diharapkan santri lebih meningkatkan ibadah mereka selain ibadah wajib juga melaksanakan ibadah sunnah karena selama mondok mereka teratur melaksanakan  salat sunat rawatib, dhuha, zikir, dan tadarus tiap subuh. Gavin dan Ravi peserta kakak adik yang berayahkan  kebangsaan Amerika dan ibu WNI sangat senang dengan kebersamaan selama  mondok  di DT.  Ariq, 14 tahun sangat  enjoy  dengan kegiatan ini.

Kegiatan ini juga menjadikan latihan berbahasa Indonesia semua santri karena mereka sehari-hari berbahasa Inggris di sekolah dan pergaulan. Berdasarkan komentar beberapa orang tua melihat perubahan yang baik terhadap anak-anaknya setelah  mondok  di DT. Semua santri berharap bila acara serupa diadakan lagi tahun depan. Seorang santri,  Arif 15 tahun,  sempat berseloroh , “Seandainya para pejabat diikut sertakan dalam kegiatan MQ selama tiga pekan maka InshaAllah tidak akan korupsi.” Ia merasa Manajemen Qolbu selama 3 pekan sangat efektif menggembleng santri

RUMAH ADALAH SEKOLAH PERTAMA BAGI ANAK

Standard

Suhu hari ini sudah mencapai 40 derajat celcius tapi tak membuat saya lelah bila menatap wajah anak-anak saya usai sekolah. Walaupun setiap hari saya antar dan jemput mereka dari dan ke sekolah. Udara bulan Mei mulai meningkat panas di kota ini pertanda memasuki musim panas. Perjalanan dari dan ke sekolah selalu saya gunakan untuk berbagi cerita dengan anak-anak membuat hati ini terasa sejuk. Topik pembicaraan pekan ini masih berkisar pernikahan The Royal Wedding. Informasi banyak sekali saya dapatkan dari anak saya mengenai pernikahan tersebut. Tak lupa saya selipkan pesan bahwa makna pernikahan lebih dari sebuah pesta megah. Contoh yang nyata seperti pernikahan orang tua Pangeran William yang berakhir tragis.

Selalu juga saya tanyakan apa yang mereka pelajari hari ini di kelas. Meski lelah usai sekolah mereka akan bercerita apa yang mereka dapat hari ini. Terakhir akan saya tanyakan apakah bekal sekolah mereka habis hari ini. Pertanyaan yang amat saya tunggu dari mereka akhirnyapun akan keluar,  “Ibu Masak apa hari ini?”.

Anak bungsu saya, Mishaal, yang belum genap berusia 6 tahun bercerita bahwa tadi dia diminta gurunya, Miss Ramsey, ke stock room -tempat menyimpan alat-alat pendukung belajar mengajar seperti spidol, kertas dan lain sebagainya-  mengambil beberapa alat keperluan untuk kelasnya. Menurutnya selalu  dia dan seorang temannya, Mimi, yang diminta ke stock room.

“Kenapa sih bu, aku terus yang disuruh ke stock room ? Aku lagi… aku lagi”, tanyanya dengan heran.

Saya jelaskan itu pertanda dia dipercaya mampu menjalankan tugas tersebut. Ruangan stock room terpisah dengan bangunan  kelasnya.  Belum tentu semua anak bisa mengerjakan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Saya sampaikan pula bahwa abangnya, Jihad, ketika masih sekolah dasar juga selalu mendapat kepercayaan tugas tersebut dari gurunya.

Malam hari usai makan malam di rumah  anak-anak mengerjakan tugas sekolah di ruang belajar kami. Saya dampingi Mishaal menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara pelajaran untuk kedua anak remaja saya yang usia sekolah lanjut dengan bantuan internet dan buku-buku sekolah. Semua jadi mudah terselesaikan. Saya hanya mengingatkan agar tidak menjelajah kemana-mana di internet. Berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas agar lebih cepat tidur. Tidur yang cukup akan membuat mereka fresh  di sekolah.

Keesokan paginya sambil menyiapkan sarapan dan bekal untuk sekolah lagi-lagi saya ingatkan anak-anak agar tidak lupa membawa semua perlengkapan sekolah agar tidak ada yang tertinggal di ruang belajar. Saat mengantar anak-anak sekolah tak henti-hentinya mulut ini ‘berkicau’ agar mereka memperhatikan guru, lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tambahan lagi pesan saat break time agar selesaikan lebih dulu bekal sekolah mereka lalu bermain dengan teman. Nyaris begitu setiap hari. Saya pun yakin setiap ibu melakukan hal yang sama seperti saya ingin anak-anaknya siap menimba ilmu di sekolah.

Teringat pada siswa-siswi saya saat masih mengajar di sekolah swasta di kawasan Tangerang,  they were really wonderful. Siswa-siswi saya telah hadir di kelas dengan persiapan yang matang. Lebih-lebih  anak-anak yang berprestasi bagi saya mereka adalah hasil didikan orangtua mereka dengan dukungan  segala macam fasilitas yang mereka miliki. Sementara saya sebagai gurunya kadang belum siap betul untuk memberi materi dengan segala alasan tetek bengek harurusan rumah tangga.

Pernah suatu kali saat memasuki ruang kelas untuk mengajar saya lupa membawa buku catatan saya. Seorang siswi menawarkan mengambilkannya untuk saya dari ruang guru sebelum saya pinta. Orang tuanya lah yang membuat siswi tersebut peka, siap membantu, tidak hanya kepada guru saya yakin demikian juga kepada orang lain.

Peran orangtua mereka terhadap prestasi mereka lebih besar ketimbang saya sebagai gurunya. Bahwa mereka adalah anak-anak yang menghargai  guru-guru mereka adalah hasil didikan orang tua mereka. Bahwa mereka adalah anak-anak yang berprestasi juga hasil dorongan semangat orangtua mereka. Mereka masih memiliki sopan santun atau tidak adalah hasil ajaran orangtua mereka.  Mereka mengerjakan atau tidak tugas-tugas dari sekolah adalah atas pantauan orang tua mereka.

Yang mengambil peran sangat besar dalam hal ini adalah ibu mereka. Akan sangat berbeda hasilnya bila ibu mereka tidak peduli, cuek  dengan pendidikan mereka apalagi akhlak mereka. Walau ibu mereka bekerja di luar rumah tetap saja peranannya sangat besar terhadap mereka. Apalagi bila ibu mereka di rumah sepatutnyalah yang sangat memperhatikan akhlak dan perkembangan perilaku mereka. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama mereka.

Guru mereka bisa berganti-ganti sejak TK hingga mereka kuliah tetapi apakah mereka bisa berganti-ganti orang tua? Itu sebabnya bila saat pertemuan orang tua murid, kami para guru akan saling berkomentar,

“Pantas anaknya pintar dan sopan ternyata ibunya juga seperti itu, ramah”.

Kami para guru pun tidak akan heran kalau mendapat komplain dari seorang ibu tentang anaknya yang kerap kali membolos, ujian mendapat nilai di bawah rata-rata, mengajinya terbata-bata, hapalan Qurannya ah-eh-ah-uh,  ujung-ujungnya yang disalahkan adalah pihak sekolah atau guru bidang studi bersangkutan tidak kompeten, nggak becus, tidak bisa mengatur siswa-siswinya. Kami pun hanya mesem-mesem saja,

“Hmm, pantas anaknya begitu”, nggak jadi deh diskusi mencari ujung permasalahan kenapa  anak mereka seperti itu.

Alhamdulillaah pada suatu kesempatan  menghadiri parents meeting  anak saya yang masih duduk di primary  berjumpa dengan guru Al-Quran sekaligus Bahasa Arab yang berujar saat menutup pertemuan dengan saya,

“I am sure that your son comes from a good background education. He could answer and explain about the lesson that I teach in class”. Wow melayang…

Pola asuh ibu mempengaruhi sikap perilaku anak sehari-hari terhadap teman, guru, pembantu di rumah, bahkan masyarakat sekitar. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri; jika dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri; jika dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan arti hidup dalam kehidupan.

Bila ibunya selalu menyalahkan orang lain bagaimana dengan anaknya? Bila ibunya selalu introspeksi diri begitu pula dengan anaknya tanpa menafikan peran ayah dalam mendidik anak.

Catatan Hardiknas

KELAS IMPIAN SEORANG GURU

Standard

Hujan yang turun sejak tadi pagi tidak membuat saya urung pergi ke sekolah tempat saya bekerja lapangan. Angkot yang membawa saya ke sekolah berjalan pelan walau penumpang penuh karena barisan mobil di depannya pun berjalan perlahan. Saya basuh jendela angkot yang mulai buram karena embun agar saya bisa melihat ke jalan dengan jelas. Lalu saya minta sopir angkot untuk berhenti,

“Bang, depan berhenti ya”.

Sambil beranjak turun dari angkot saya berikan pada sopir uang kertas yang sudah saya siapkan sejak naik angkot tadi. Lalu dengan cepat saya berlari setelah membuka payung lipat ke arah sekolah yang berjarak 100 meter dari jalan raya. Genangan air di jalan membuat sepatu dan bagian bawah rok saya basah. Akhirnya saya tiba di tempat tujuan saya. Hampir 1 bulan saya rutin datang ke sekolah ini setiap 3 kali sepekan mengajar bidang studi Bahasa Indonesia kelas 3 SMP. Hal ini saya lakukan untuk menyelesaikan laporan akhir studi Program AKTA IV yang saya ikuti di IKIP Jakarta (sekarang menjadi UNJ).

Saya langsung menuju ruang guru yang ada di bagian kiri depan bangunan sekolah itu. Hanya ada seorang guru, Pak Ginanjar, yang sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Saya sapa dia

“Siang Pak”.

Beliau mengangguk sambil tersenyum, “ Koq hujan-hujan begini tetap datang bu?”.

Dengan bingung saya balas bertanya lagi, “Loh memangnya kenapa Pak?”.

Sambil senyum lagi ia menjawab, “ Biasanya sih guru-guru nggak datang bu karena murid-murid juga nggak banyak yang datang. Tadi kelas 1 dan 2 digabung lalu diisi pelajaran agama Islam oleh Pak Azrul”.

“Hmm… nggak apalah Pak, rencananya saya memberi latihan soal hari ini” ujar saya.

Tak lama kemudian datang Nazarudin yang juga kerja praktek lapangan di sekolah ini. Dia juga sedang mengambil studi AKTA IV di IKIP Jakarta bersama saya. Dia yang mengajak saya untuk kerja lapangan di sekolah ini bersama dengan seorang teman lagi namanya Burhan. Saya yakin Burhan sudah hadir di sekolah ini karena saya tahu jadwal beliau 2 jam pelajaran sebelum waktu saya mengajar.

10 menit kemudian bel ganti pelajaran dibunyikan oleh Pak Ginanjar yang piket hari ini. Dengan cepat saya berjalan ke arah ruang kelas 3. Dari jendela tak berkaca saya lihat Pak Burhan masih berada di dalam kelas. Dia berjalan keluar kelas sambil berujar, “Bu Nana, yang hadir nggak sampe 50 persen”.

“Oh iya Pak, tadi Pak Ginanjar sudah kasih tahu, makasih” jawab saya.

Saat saya masuk kelas, 2 siswa pria pamit untuk ke kamar kecil tetapi tidak saya ijinkan. Saya tahu itu adalah siasat mereka untuk keluar kelas lalu tidak masuk kembali. Memang mudah untuk keluar dari gedung sekolah yang berbentuk huruf U ini karena tidak dikelilingi pagar. Bagian belakang dan sisi kanan sekolah adalah daerah pemukiman penduduk asli kota Jakarta. Sementara bagian sisi kiri sekolah terdapat kebun pisang milik seorang tuan tanah di kawasan tersebut. Kamar kecil yang dimiliki sekolah ini terdapat dibagian belakang bangunan. Itu sebabnya siswa yang pamit ke kamar kecil akan kabur ke arah pemukiman penduduk kemudian tidak akan kembali ke kelas hingga jam sekolah usai. Umumnya mereka yang cabut ( baca: bolos sekolah ) adalah siswa pria.

Hari pertama saya mengajar di sekolah ini agak bingung juga oleh situasi demikian. Berdasarkan cerita Nazarudin yang penduduk asli kawasan sekolah ini hal itu sudah biasa terjadi setiap hari. Akhirnya saya pahami betul bahwa sekolah ini hanyalah tempat anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri manapun karena nilai mereka yang rendah. Kasihan mereka, guru-guru di sekolah ini menyebutnya sebagai anak-anak buangan. Orang tua mereka pun tidak mampu membayar mahal pada sekolah-sekolah swasta lain yang bergengsi. Mereka hanya anak-anak sopir angkot, buruh-buruh pabrik, bahkan ada anak seorang tukang gali sumur pompa.

Saya buka kelas dengan sapaan selamat siang. Kemudian saya menggeser kursi guru yang terletak di sudut ruangan ke arah pintu masuk karena saya lihat tetesan air hujan di dekat meja guru. Tetesan itu sudah membuat genangan air di atas ubin yang kusam dimana kotoran yang menempel di atasnya sulit dibersihkan. Lalu saya minta siswa-siswa yang duduk di bagian belakang untuk pindah ke kursi bagian depan namun mereka menolak dengan alasan banyak tetesan air di bagian depan kelas. Sayapun mengerti. Baru saya ingat kala masuk ruang guru tadi ada 2 ember diletakkan di dalamnya. Satu buah tepat di pintu masuk ruang guru dan satu lagi di tengah ruangan.

Sementara saya perhatikan di ruang kelas 3, Masya Allah, ada 9 titik tetesan air dari genteng yang tidak dilapisi atap. Tidak satupun ember diletakkan di ruangan ini. Nampaknya sekolah tidak memiliki cukup ember untuk menampung tetesan-tetesan air yang ada di seluruh bangunan gedung sekolah ini. Lagi pula membeli ember sebanyak itu bukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Cuaca mendung membuat kelas yang gelap menjadi semakin gelap. Jendela yang mengelilingi ruang kelaspun sangat buram. Tidak ada lampu yang menggantung di kelas ini. Kalaupun ada saya khawatir akan terjadi arus pendek akibat hujan yang menetes melalui genteng.

Saya absen satu persatu siswa kelas 3 tapi hanya 18 yang hadir dari 52 siswa yang tertera di buku absen. Umumnya yang hadir adalah siswa perempuan. Situasi seperti ini membatalkan rencana saya hari ini memberi latihan soal pada mereka. Latihan soal itu untuk melihat sejauh mana mereka memahami materi ajar yang telah saya berikan selama kurang lebih satu bulan ini. Tidak mungkin pula saya beri lagi materi baru kalau siswa yang hadir kurang dari 50 persen. Lebih-lebih lagi papan tulis berwarna hitam yang akan saya tulisi dengan kapur tidak akan nampak jelas bagi siswa yang duduk di bagian belakang kecuali saya menulisnya dengan huruf besar-besar.

Akhirnya saya isi kelas dengan cerita-cerita yang memberi motivasi bagi siswa agar mereka tidak malas sekolah. Saya minta mereka membayangkan orang tua mereka yang bekerja berpeluh keringat demi bisa menyekolahkan mereka dan berharap kehidupan mereka jauh lebih baik daripada saat ini. 1 jam pelajaran terakhir saya minta mereka menulis harapan-harapan yang mereka inginkan dari sekolah ini. Sambil menunggu mereka menyelesaikan tugas tersebut saya duduk termenung. Memimpikan sebuah kelas yang cantik, jendela yang lebar nan bersih berikut tirai yang manis, lantai yang bersih, berpenerangan yang cukup, mesin pendingin ruangan, lengkap dengan alat bantu ajar terkini…….

SMP Dharma Bhakti kelas 3, Cipondoh, Tangerang – 1999 –

~~~~~

Hari ini sengaja saya berangkat 15 menit lebih awal dari biasanya. Saya hentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobby gedung. Saya berjalan masuk ke lift lalu menekan tombol angka 3. Gedung ini terdiri dari 6 lantai. Tempat yang saya tuju adalah ruang kelas Tsa Putri yang terdapat di lantai 3. Setibanya di ruang kelas belum ada satu siswi pun yang datang. Saya buka tirai jendela agar ruangan mendapatkan cahaya matahari jadi tak perlu menyalakan lampu. Kemudian saya nyalakan mesin pendingin ruangan. Sebelum kelas dimulai saya siapkan layar komputer yang terdapat di sudut ruangan kelas. Saya masukkan kepingan CD ke dalam disc drive hingga waktunya saat menonton nanti semua sudah siap.

Pekan lalu saya berjanji pada siswi-siswi untuk menayangkan Film “ Maryam binti Imran”. Kebetulan materi yang saya siapkan bulan ini adalah Ulul Azmi sedangkan hari ini akan saya kisahkan tentang Nabi Isa alaihissalam. Kelas selalu saya mulai dengan memeriksa bacaan Iqra’/Quran semua siswi dilanjutkan menyimak hapalan-hapalan juz amma mereka. Siswi yang belum mendapat giliran akan mengulang hapalan mereka sambil menungggu giliran.

Tepat pukul 08.30 datang 3 orang siswi masuk kelas seraya berucap, “Assalaamu’alaikum, Bu”.

“Wa’alaikumsalaam warahmatullaahi”, jawab saya.

Saya persilahkan mereka duduk di baris terdepan dari 3 baris kursi yang ada. Masing-masing baris terdapat 10 kursi lipat yang memiliki meja di atasnya. Seyogyanya kelas dimulai pukul 08.30 tapi karena baru 3 orang dari 25 siswi yang terdaftar di kelas saya maka saya tunda hingga 10 menit kemudian. Tak lama datang lagi 5 orang siswi lalu saya buka kelas dengan berdoa. Saya didampingi seorang guru lagi mulai memeriksa bacaan Quran masing-masing siswi. Tepat pukul 09.00, 17 siswi sudah hadir memenuhi kelas. Jumlah siswi dikelas saya memang paling sedikit dibandingkan kelas-kelas lain. Jadi tak perlu memakan waktu memeriksa bacaan mereka.

Kegiatan ini sudah saya jalani sejak Maret 2005 bersama beberapa teman dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Quran KAIFA bagi anak-anak Indonesia yang berada di Doha, Qatar. Sungguh merupakan tantangan buat kami yang tinggal di negara Islam tetapi karena umumnya anak-anak kami belajar di sekolah Internasional maka pelajaran Islam bukanlah yang utama. Untuk mengisi kekurangan tersebut maka bermulalah kegiatan ini. Awalnya kami mulai di sebuah komplek perumahan di Al Sadd area dengan jumlah siswa kurang dari 50 orang, usia 4 hingga 13 tahun.

Bertambahnya siswa setahun kemudian menyebabkan kami pindah ke KBRI Doha. Jumlah siswa yang mencapai 200 orang pada tahun 2007 tidak tertampung lagi di KBRI. Beberapa pendiri mencari upaya mengatasi masalah tempat di mana kami bisa menampung siswa sebanyak itu tanpa membayar sewa gedung. Akhirnya atas kebaikan pihak QICC (Qatar Islamic Culture Centre) kami mendapat 10 ruang kelas untuk menampung kurang lebih 400 siswa yang terdaftar tanpa membayar sewa gedung sepeserpun.

Usai mendapat giliran semua siswi saya minta mengingat apa yang telah saya berikan pekan lalu tentang Ulul Azmi. Lalu mulailah saya bercerita tentang Nabi Isa alaihissalaam hingga akhirnya tenggorokan saya terasa mulai kering saya lanjutkan dengan memutar film. Acara menonton di kelas adalah kegiatan yang selalu ditunggu oleh siswi-siswi saya yang berjenjang usia 8 hingga 10 tahun. Buat saya cara ini sedikit meringankan tugas saya, tidak perlu mengeluarkan suara terlalu banyak untuk menyampaikan kisah-kisah Nabi dan para sahabatnya. Baru setelah itu saya tambahkan beberapa hal dilanjutkan dengan tanya jawab.

Jam menunjukkan pukul 11.00 saatnya kelas ditutup dengan doa. Setelah semua siswi keluar kelas, saya keluarkan kepingan CD dari disc drive lalu saya matikan komputer. Sebelum meninggalkan kelas tak lupa saya matikan mesin pendingin ruangan….

Gedung Fanar, kelas Tsa Putri, Doha, Qatar – Desember 2009 –

ANAK GAUL

Standard

oleh Nana Fadjar

Tadi sore saya dan anak-anak berkesempatan menghadiri Pesantren Kilat Remaja yang diadakan oleh KAIFA Doha di Club House Muaither Compound, Ar Rayyan area. Sebetulnya acara berlangsung sejak kemarin sore tapi karena kami baru kembali dari Indonesia maka kami datang sore ini. Kebetulan acara sesi terakhir akan berlangsung, Talk Show: Kamu Vs Ortu. Acara tersebut dipandu oleh pembicara utama didampingi 4 orang tua, masing-masing 2 bapak dan 2 ibu. Sebagai wakil dari remaja dipilih masing-masing 1 orang remaja putra dan putri. Pada kesempatan ini Alhamdulillaah saya dipercaya sebagai pembicara mewakili seorang ibu yang memiliki anak remaja.

Sebagai pembuka pembicara utama dalam hal ini ibu Fajriati M Badrudin, S.Psi menyampaikan pengalamannya ketika bekerja di Crisis Centre RSCM Jakarta. Beliau pernah menangani seorang remaja yang dibawa oleh ibunya ke pusat krisis tersebut. Remaja putrid itu ber usia 13 tahun kabur dari rumah bersama pacarnya. Ketika ditanya kepada anak tersebut mengapa kabur dari rumah, jawabannya tidak asing lagi karena dilarang berpacaran oleh orang tuanya. Tahukah remaja itu alasan mengapa ia dilarang berpacaran oleh ibunya? Ternyata ia tahu alasannya karena sang pacar yang berusia 20 tahun adalah seorang pengangguran yang selalu nongkrong di warung dekat rumahnya. Tentu saja ibunya khawatir akan masa depan anaknya yang masih usia sekolah. Tugas putrinya saat itu adalah belajar bukan berpacaran. Itulah sebabnya sang ibu melarang putrinya berpacaran apalagi dengan seorang pengangguran.


Contoh kasus lain yang disampaikan ibu Fajri adalah seorang remaja putra usia 14 tahun yang ditanganinya di pusat rehabilitasi korban narkoba. Remaja tersebut menguraikan kisahnya mengapa sampai akhirnya ia berkenalan dengan obat-obatan terlarang. Alasannya karena ayahnya sangat keras dalam hal mendidiknya hingga seringkali ia dipukul bila ia salah melakukan suatu pekerjaan. Sementara sang ibu selalu membelanya walau dirinya salah agar ia tidak dipukul oleh ayahnya. Akhirnya ia kehilangan kepercayaan diri hingga terjebak oleh kawan-kawannya yang menawari obat-obatan terlarang.

Analisa saya bahwa remaja-remaja di tanah air kita sangat mudah terjerumus pada kedua kasus tersebut. Antara lain karena di luar rumah anak-anak bisa bertemu dengan siapa saja, selain di sekolah yang tentu teman belajarnya, mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kendaraan umum atau bahkan di warung dekat rumah yang umumnya dijadikan tempat nongkrong para pengangguran atau pengedar narkoba. Bila kita tidak dekat dengan anak-anak remaja kita pastilah akan sulit mengetahui apa saja kegiatannnya setelah pulang sekolah, dengan siapa saja ia berteman, hingga akhirnya anak-anak kita terjebak pada masalah yang tentunya tidak kita harapkan.

~~~

Bagaimanakah dengan situasi remaja-remaja kita di Qatar ini? Jauh sekali dengan situasi di tanah air. Kemanapun mereka pergi, baik sekolah atau jalan-jalan ke pusat pertokoan hampir selalu diantar dan dijemput oleh orang tuanya karena minimnya fasilitas kendaraan umum. Siapa saja teman-temannya hampir semua kita kenal dan kita tahu siapa orangtua mereka. Dapat dikatakan mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Katakanlah pengangguran dan pengedar narkoba hampir tidak kita temukan di negara ini.

Bila tidak ada kegiatan di luar sekolah anak-anak remaja kita akan tinggal di dalam rumah duduk mendekam di hadapan komputer. Mereka akan chatting dengan teman-temannya atau sekedar melihat teman-temannya di situs jejaring ssosial yang sedang trend. Siapakah teman-teman chatting mereka dan dimanakah teman-temannya itu berada? Bisa jadi bukan hanya teman sekolahnya, bukan pula teman di Qatar, bukan pula teman-teman di tanah air. Bisa jadi pula teman-temannya yang berada di negara-negara lain, baik tua maupun muda.

Pernah suatu kali saya dapati di komputer anak remaja saya, foto-foto temannya yang terdapat di situs jejaring sosial membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Foto sepasang remaja kira-kira berusia 14 tahun bergandeng tangan dengan teman lawan jenis. Foto berikutnya lebih mendebarkan lagi, mereka tiduran berdua di atas rumput. Dengan rasa ingin tahu yang lebih besar saya buka lagi foto-foto lainnya, ada sepasang anak bergendongan, merekapun berlawanan jenis. Ketika saya tanyakan pada anak saya siapakah mereka, anak siapakah mereka, jawabannya cukup mengejutkan. Mereka adalah remaja-remaja Indonesia yang tinggal di Qatar. Di lain kesempatan saya pernah mendapati kata-kata yang dilontarkan di situs jejaring sosial dalam percakapan anak remaja saya dengan teman-temannya tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan, apalagi syariat Islam. Sekali lagi alasannya karena bercanda.

Batas-batas pergaulan antar lawan jenis hampir hilang di dalam diri mereka. Mereka menganggapnya hal itu sudah biasa toh tidak ada nafsu di antara mereka. Foto itu hanya buat gaya-gayaan saja alasannya. Bergendongan kan hanya bercanda siapa yang paling kuat menggendong temannya. Dapat kita maklumi karena umumnya mereka sekolah di International School yang minim sekali pendidikan Islaminya. Kita sebagai orang tua tidak boleh lengah dalam membekali mereka pendidikan akhlaq yang memang wajib diberikan dari rumah bukan dari sekolah. Himbauan yang sangat klise tapi kadang kita lengah karena situasi kesibukan yang ada di sini.

Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka tulis atau foto-foto yang mereka tampilkan di komputer dalam jaringan internet dapat dilihat siapa saja dimana saja. Buat saya jalur internet yang mereka gunakan hampir sama dengan jalan raya yang dilalui oleh remaja-remaja di tanah air. Pakaian apa yang mereka gunakan dapat dilihat khalayak ramai melalui situs jejaring sosial walau mereka tidak keluar rumah. Apa yang mereka katakan dapat didengar pula oleh siapa saja walau mereka duduk manis di dalam kamarnya.

Sekali lagi himbauan yang sangat klise bagi para ibu di Qatar, mari sama-sama kita turun ke ‘jalan raya’ disela-sela kesibukan kita untuk memantau anak-anak remaja kita. Memberi bekal akhlak dalam etika pergaulan mereka di jalur internet. Saya yakin para ibu sudah tahu caranya. Marilah kita bertukar pengalaman dan informasi dalam membina pergaulan remaja-remaja kita.

pergaulan remaja

Halaqoh Keluarga

POMG

Standard

oleh Nana Fadjar

Ada yang masih ingat tidak kepanjangan dari singkatan ini. Organisasi ini sudah ada sejak saya masih duduk di bangku SD 30 tahun silam. Semua sekolah milik pemerintah alias sekolah negeri memiliki organisasi ini. Entah apa kegiatannya saya tidak pernah tahu sampai sekarang tapi yang saya ingat selalu ada pertemuan yang dilakukan setiap menjelang awal dan akhir tahun ajaran. Ayah saya sering kali hadir namun kuingat pula tidak semua orang tua hadir pada pertemuan tersebut. Kata ayah memang sekolah lebih dulu menanyakan kesediaan para orang tua murid untuk menjadi pengurus organisasi tersebut.

Setelah memiliki anak usia sekolah dasar, kebetulan anak-anak saya sekolah di sekolah Islam swasta tempat saya mengajar, ada juga bentuk organisasi seperti POMG yang diberi nama Jamiyyah.

Pengurusnya dipilih 2 orang tua siswa sebagai perwakilan dari tiap kelas. Hampir di tiap kegiatan yang diselenggarakan sekolah, mereka para pengurus Jamiyyah akan dilibatkan. Misalkan ada kompetisi Calistung antar sekolah maka guru dan siswa yang dipilih ikut serta dalam kompetisi itu akan konsentrasi penuh berlatih agar dapat memenangkan kompetisi tersebut. Sementara para pengurus Jamiyyah akan menyiapkan konsumsi untuk guru dan peserta. Bahkan kalau kendaraan sekolah tidak dapat dipinjam maka pengurus jamiyyah akan sukarela menyediakan transportasi pribadi miliknya untuk mengantar lalu menjemput guru dan peserta ke lokasi kompetisi. Buat kami para guru keberadaan pengurus Jamiyyah sangat menguntungkan. Boleh dibilang mereka termasuk dalam tim sukses kegiatan sekolah.

Tadi sore pukul 18.00 harus menjemput anak lelaki saya di sekolah yang sedang mengikuti kompetisi sepak bola antar sekolah-sekolah International di Qatar. Kebetulan kompetisi berlangsung di sekolah anak saya jadi bisa melihat dia bertanding karena kebetulan pertandingan belum usai saat saya tiba di sekolah. Kalau pertandingan berlangsung di sekolah lain maka sekolah akan menyediakan kendaraan dari sekolah ke lokasi pertandinagan. Jadi kami orang tua siswa hanya menjemput di sekolah. Di barisan kursi penonton hanya ada dua orang ibu yang duduk sementara yang lainnya adalah para siswa dari sekolah lain yang menunggu giliran timnya bertanding. Tidak lama kemudian seorang dari mereka beranjak dari kursinya setelah anaknya menghampiri kemudian keluar dari barisan kursi penonton kembali ke rumah mereka.

Ketika masih di tanah air bila ada pertandingan antar sekolah seperti ini maka kursi penonton akan dipenuhi orang tua siswa peserta pertandingan. Para ibu akan siap memberi dukungan penyemangat bila anak mereka sedang bertanding di lapangan. Bila anak mereka belum bertanding mereka akan sibuk dengan menyodorkan makanan dan minuman bahkan sibuk mengelapkan handuk ke badan anak mereka yang berpeluh keringat. Bukan hanya itu mereka juga akan membuatkan kostum seragam untuk tim sekolah anak mereka beberapa hari sebelum jadwal pertandingan. Para ibu yang notabene pengurus Jamiyyah juga akan mengenakan baju seragam. Kalau dalam 1 tahun ajaran ada kegiatan sebanyak 8 kali maka seragam mereka pun akan sebanyak 8 potong !!!

Yang saya lihat pada kompetisi hari ini, para pemain hanya mengenakan kaos seragam olah raga yang selalu mereka kenakan di setiap pelajaran olah raga. Tidak pernah ada kostum ekstra untuk setiap pertandingan olah raga. Hanya saja sekolah memberi rompi tipis yang bertuliskan nama sekolah. Menurut anakku yang hampir setiap bulan mengikuti pertandingan olah raga, rompi itu selalu dipinjamkan kepada siswa baik itu pada lomba atlit, pertandingan sepak bola atau bola basket. Rompi tersebut tidak pernah diberikan siswa untuk dibawa pulang jadi hanya dikenakan pada saat bertanding. Guru akan mengambil kembali rompi tersebut usai pertandingan. Tidak ada persiapan khusus yang menyita waktu, tenaga dan dana bagi guru dan orang tua siswa. Tidak ada campur tangan orang tua siswa sama sekali dalam kegiatan sekolah apapun baik lomba debat, kompetisi Science, olah raga atau bazaar sekolah.