Monthly Archives: May 2011

RUMAH ADALAH SEKOLAH PERTAMA BAGI ANAK

Standard

Suhu hari ini sudah mencapai 40 derajat celcius tapi tak membuat saya lelah bila menatap wajah anak-anak saya usai sekolah. Walaupun setiap hari saya antar dan jemput mereka dari dan ke sekolah. Udara bulan Mei mulai meningkat panas di kota ini pertanda memasuki musim panas. Perjalanan dari dan ke sekolah selalu saya gunakan untuk berbagi cerita dengan anak-anak membuat hati ini terasa sejuk. Topik pembicaraan pekan ini masih berkisar pernikahan The Royal Wedding. Informasi banyak sekali saya dapatkan dari anak saya mengenai pernikahan tersebut. Tak lupa saya selipkan pesan bahwa makna pernikahan lebih dari sebuah pesta megah. Contoh yang nyata seperti pernikahan orang tua Pangeran William yang berakhir tragis.

Selalu juga saya tanyakan apa yang mereka pelajari hari ini di kelas. Meski lelah usai sekolah mereka akan bercerita apa yang mereka dapat hari ini. Terakhir akan saya tanyakan apakah bekal sekolah mereka habis hari ini. Pertanyaan yang amat saya tunggu dari mereka akhirnyapun akan keluar,  “Ibu Masak apa hari ini?”.

Anak bungsu saya, Mishaal, yang belum genap berusia 6 tahun bercerita bahwa tadi dia diminta gurunya, Miss Ramsey, ke stock room -tempat menyimpan alat-alat pendukung belajar mengajar seperti spidol, kertas dan lain sebagainya-  mengambil beberapa alat keperluan untuk kelasnya. Menurutnya selalu  dia dan seorang temannya, Mimi, yang diminta ke stock room.

“Kenapa sih bu, aku terus yang disuruh ke stock room ? Aku lagi… aku lagi”, tanyanya dengan heran.

Saya jelaskan itu pertanda dia dipercaya mampu menjalankan tugas tersebut. Ruangan stock room terpisah dengan bangunan  kelasnya.  Belum tentu semua anak bisa mengerjakan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Saya sampaikan pula bahwa abangnya, Jihad, ketika masih sekolah dasar juga selalu mendapat kepercayaan tugas tersebut dari gurunya.

Malam hari usai makan malam di rumah  anak-anak mengerjakan tugas sekolah di ruang belajar kami. Saya dampingi Mishaal menyelesaikan pekerjaan rumah. Sementara pelajaran untuk kedua anak remaja saya yang usia sekolah lanjut dengan bantuan internet dan buku-buku sekolah. Semua jadi mudah terselesaikan. Saya hanya mengingatkan agar tidak menjelajah kemana-mana di internet. Berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas agar lebih cepat tidur. Tidur yang cukup akan membuat mereka fresh  di sekolah.

Keesokan paginya sambil menyiapkan sarapan dan bekal untuk sekolah lagi-lagi saya ingatkan anak-anak agar tidak lupa membawa semua perlengkapan sekolah agar tidak ada yang tertinggal di ruang belajar. Saat mengantar anak-anak sekolah tak henti-hentinya mulut ini ‘berkicau’ agar mereka memperhatikan guru, lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tambahan lagi pesan saat break time agar selesaikan lebih dulu bekal sekolah mereka lalu bermain dengan teman. Nyaris begitu setiap hari. Saya pun yakin setiap ibu melakukan hal yang sama seperti saya ingin anak-anaknya siap menimba ilmu di sekolah.

Teringat pada siswa-siswi saya saat masih mengajar di sekolah swasta di kawasan Tangerang,  they were really wonderful. Siswa-siswi saya telah hadir di kelas dengan persiapan yang matang. Lebih-lebih  anak-anak yang berprestasi bagi saya mereka adalah hasil didikan orangtua mereka dengan dukungan  segala macam fasilitas yang mereka miliki. Sementara saya sebagai gurunya kadang belum siap betul untuk memberi materi dengan segala alasan tetek bengek harurusan rumah tangga.

Pernah suatu kali saat memasuki ruang kelas untuk mengajar saya lupa membawa buku catatan saya. Seorang siswi menawarkan mengambilkannya untuk saya dari ruang guru sebelum saya pinta. Orang tuanya lah yang membuat siswi tersebut peka, siap membantu, tidak hanya kepada guru saya yakin demikian juga kepada orang lain.

Peran orangtua mereka terhadap prestasi mereka lebih besar ketimbang saya sebagai gurunya. Bahwa mereka adalah anak-anak yang menghargai  guru-guru mereka adalah hasil didikan orang tua mereka. Bahwa mereka adalah anak-anak yang berprestasi juga hasil dorongan semangat orangtua mereka. Mereka masih memiliki sopan santun atau tidak adalah hasil ajaran orangtua mereka.  Mereka mengerjakan atau tidak tugas-tugas dari sekolah adalah atas pantauan orang tua mereka.

Yang mengambil peran sangat besar dalam hal ini adalah ibu mereka. Akan sangat berbeda hasilnya bila ibu mereka tidak peduli, cuek  dengan pendidikan mereka apalagi akhlak mereka. Walau ibu mereka bekerja di luar rumah tetap saja peranannya sangat besar terhadap mereka. Apalagi bila ibu mereka di rumah sepatutnyalah yang sangat memperhatikan akhlak dan perkembangan perilaku mereka. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama mereka.

Guru mereka bisa berganti-ganti sejak TK hingga mereka kuliah tetapi apakah mereka bisa berganti-ganti orang tua? Itu sebabnya bila saat pertemuan orang tua murid, kami para guru akan saling berkomentar,

“Pantas anaknya pintar dan sopan ternyata ibunya juga seperti itu, ramah”.

Kami para guru pun tidak akan heran kalau mendapat komplain dari seorang ibu tentang anaknya yang kerap kali membolos, ujian mendapat nilai di bawah rata-rata, mengajinya terbata-bata, hapalan Qurannya ah-eh-ah-uh,  ujung-ujungnya yang disalahkan adalah pihak sekolah atau guru bidang studi bersangkutan tidak kompeten, nggak becus, tidak bisa mengatur siswa-siswinya. Kami pun hanya mesem-mesem saja,

“Hmm, pantas anaknya begitu”, nggak jadi deh diskusi mencari ujung permasalahan kenapa  anak mereka seperti itu.

Alhamdulillaah pada suatu kesempatan  menghadiri parents meeting  anak saya yang masih duduk di primary  berjumpa dengan guru Al-Quran sekaligus Bahasa Arab yang berujar saat menutup pertemuan dengan saya,

“I am sure that your son comes from a good background education. He could answer and explain about the lesson that I teach in class”. Wow melayang…

Pola asuh ibu mempengaruhi sikap perilaku anak sehari-hari terhadap teman, guru, pembantu di rumah, bahkan masyarakat sekitar. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri; jika dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri; jika dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan arti hidup dalam kehidupan.

Bila ibunya selalu menyalahkan orang lain bagaimana dengan anaknya? Bila ibunya selalu introspeksi diri begitu pula dengan anaknya tanpa menafikan peran ayah dalam mendidik anak.

Catatan Hardiknas

Advertisements