ASISTEN RUMAH

Standard

LUGU vs CANGGIH

Istilah pembantu rumah tangga kini mulai bergeser menjadi asisten rumah. Mereka memang layaknya seorang asisten, membantu pekerjaan rumah atasannya dalam hal ini majikannya. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, ada pula yang sekaligus mengasuh anak. Keberadaan mereka tidak bisa kita sepelekan apalagi bagi ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. Kala saya belum bekerja, saya juga sangat membutuhkan mereka. Apalagi ketika saya melahirkan anak ke dua sementara kakaknya belum genap berusia 2 tahun. Pada saat itu pula saya pindah ke rumah kecil milik sendiri setelah beberapa lama tinggal di rumah orang tua saya.

Wadduuh, nggak kebayang deh punya 2 anak masih balita kalau tanpa asisten rumah. Bagaimana membantu si sulung misalnya membersihkan dirinya setelah BAB sementara adiknya menangis ingin menyusui. Belum lagi harus memasak untuk anak-anak lalu pakaian kotor yang menumpuk harus pula segera dicuci. Rasanya dunia mau hancurrrr…

Setelah mencari sana-sini siapa yang bisa membantu saya di rumah tapi belum juga ada yang cocok. Umumnya mereka tidak mau tidur bersama anak balita saya sementara rumah saya hanya memiliki 2 kamar, maklumlah rumah sangat mungil. Saya belum memiliki cukup dana untuk membangun kamar lagi, lah wong dari penghasilan suami saya sudah terkuras untuk membayar uang muka rumah ditambah cicilan setiap bulan.

Setelah bertahan tanpa asisten beberapa bulan lamanya akhirnya saya mendapati seorang ibu yang bisa membantu pekerjaan rumah saya. Dia tinggal tidak jauh dari kediaman saya kira-kira 2 kilometer. Dia penduduk asli di kawasan kediaman saya jadi tidak perlu tinggal bersama saya melainkan datang pagi hari kemudian pulang siang hari. Istilah di kalangan ibu-ibu adalah “pulang hari” untuk asisten rumah yang seperti ini. Saya sangat terbantu dengan kehadirannya sehingga dapat konsentrasi mengasuh dan mendidik anak di rumah. Saya hanya memasak saja kala anak-anak saya tidur pagi hari, sementara pekerjaan rumah lainnya ditangani olehnya.

Saya memanggilnya Bi Maning, perawakannya pendek, wajahnya khas penduduk Jakarta asli, logat bicaranya kental Betawi asli, cara jalannya sangat cepat. Perkiraan saya dia seusia dengan saya walau anaknya sudah SMP. Dia tidak tahu persis berapa umurnya karena tidak memiliki KTP. Ia pun tidak tahu bahwa setiap warga Indonesia yang telah dewasa, berusia 17 tahun, wajib memiliki kartu identitas.

Setelah beberapa bulan bekerja dengan saya, baru saya sadari bahwa dia tidak tahu nilai mata uang, yang mana uang seribu perak apalagi seratus ribu. Ketika saya minta dia membayarkan belanjaan saya pada tukang sayur keliling di depan rumah, ternyata dia tidak tahu berapa jumlah semua uang yang dikembalikan oleh si tukang sayur. Akhirnya saya ketahui pula bahwa dia juga buta huruf. Sejak itu setiap hari saya ajarkan padanya nilai mata uang walau masih saja kadang-kadang salah juga. Untuk urusan baca tulis saya belum sempat mengajarkannya. Buat saya saat itu bukanlah masalah asalkan dia rajin, datang setiap hari, dan jujur.

Masalah baru timbul ketika akhirnya anak-anak masuk sekolah kemudian saya bekerja sebagai guru. Dia tiba di rumah saat saya dan anak-anak sudah pergi ke sekolah. Akhirnya saya ajarkan dia membaca numerik lebih dulu daripada alpabet karena dia harus menelpon saya bila ada sesuatu yang penting setelah sebelumnya saya ajarkan menerima telepon. Meski akhirnya dia tidak pernah menelepon saya sekalipun. Saya ajarkan pula untuk menelpon ke warung langganan bila dia harus membeli tabung gas dan air mineral. Alhamdulillah berhasil dan tidak pernah salah karena setiap kali tabung gas yang habis telah berganti dengan yang baru sementara saya tidak di rumah. Semakin lama dia semakin terampil dalam pekerjaan rumah.

Untuk urusan baca tulis saya sediakan setengah jam setelah saya pulang mengajar sebelum dia kembali ke rumahnya. Saya tidak berharap banyak karena saya sadar dia sudah lelah dengan pekerjaanya. Saya masih beruntung bahwa dia tetap setia pada saya bila saya bandingkan dengan kisah teman-teman saya mengenai asisten rumah mereka yang umumnya sok pinter, tidak jujur, dan kebanyakan tidak setia pada majikannya. Bayangkan kalau Bi Maning tidak setia, haddooohh, pulang ngajar harus mengurus pekerjaan rumah kemudian membantu PR sekolah anak-anak. Rasanya saya tak punya tenaga sebesar itu.

Hingga 7 tahun lamanya Bi Maning tetap setia pada saya. Tahun itu dia hamil anak ke 5, pada saat usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh saya minta dia cuti sementara saya sedang menyiapkan kepindahan saya ke Qatar. Walau demikian saya masih memperhatikan kebutuhannya, itu sebabnya ketika dia memasuki bulan ke sembilan kandungannya saya antar ke rumah sakit kemudian menungguinya melahirkan.

~~~

Mengikuti tugas suami ke Qatar, saya dan anak-anak sepakat tidak menggunakan asisten rumah, toh, mereka sudah besar dan saya tidak bekerja. Walaupun perusahaan tempat suami bekerja memberi fasilitas tiket pesawat setengah harga normal, setahun sekali untuk asisten rumah. Saya memutuskan hanya menggunakan part time maid, istilah untuk asisten “pulang hari”.

5 tahun lalu, atas rekomendasi seorang teman, saya mendapatkan part time maid, seorang perempuan asal India berperawakan agak tinggi, kulit gelap, logat bicaranya khas penduduk negara asalnya yang kerap kali menggelengkan kepala saat bicara. Sujata namanya, dia datang dua kali dalam sepekan, hanya 2 jam setiap datang menyetrika dan membersihkan dapur. Pekerjaannya boleh dikatakan rapi dan bersih hingga ke sudut-sudut rumah.

Namun entah kenapa 2 tahun terakhir ini, dia selalu tergesa-gesa dalam bekerja. Sering kali saya dapati debu-debu di sudut rumah rumah tidak tersapu olehnya, bahkan beberapa kali dia tinggalkan ‘perlengkapan perangnya’ berupa lap dan botol pembersih kaca ditinggalkan begitu saja di ruang tamu. Agar tidak berkelanjutan selalu saya ingatkan dia agar tidak terulang lagi.

Satu hal lagi yang membuat saya heran akhir-akhir ini, dia selalu bekerja sambil menelpon tiada henti. Kalaupun berhenti hanya sesaat dia akan menelpon kembali temannya. Entah teman yang tadi dia telpon atau teman yang lain lagi. Saya tidak tahu apa yang dia bicarakan karena dia menggunakan bahasa negerinya. Saya mulai kesal dengan kebiasaan barunya ini hingga pernah saya sindir bahwa dia sekarang ini layaknya bussiness woman karena banyak yang menelpon.

Pernah saya tanyakan berapa pulsa telepon yang dia bayar setiap bulan, wow, empat kali dari pulsa yang saya bayar. Alasannya karena dia sering menelpon anak semata wayangnya yang tinggal nun jauh di negerinya. Lalu saya beri saran agar dia mengurangi kebiasaan menelpon bila tidak terlalu penting. Sayang kan, uang yang dia dapat kalau akhirnya dia keluarkan hanya untuk pulsa. Belakangan dia mengganti fasilitas pembayaran teleponnya dengan produk budget control. Waah lebih pintar dia.

Usai mengepel, menyetrika, sambil menelpon

Kebiasaannya menelpon sambil bekerja tidak berkurang bahkan makin bertambah. Buat saya hal ini mengganggu efektifitasnya dalam bekerja. Dia selalu menjepit telepon genggamnya diantara telinga dan leher kanannya sambil menyapu, mengepel, mencuci piring, dan menyetrika. Saya tegur dia, kalau dia bisa bekerja lebih cepat bila menggunakan kedua tangannya secara bebas tanpa hambatan. Eeh, ternyata dia tidak habis akal, dia ambil sebuah kabel panjang dari dalam tasnya, dia sambungkan bagian ujung kabel ke telepon genggamnya lalu bagian ujung lain ke telinganya, hands free….

What to do…what to do….


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s