KELAS IMPIAN SEORANG GURU

Standard

Hujan yang turun sejak tadi pagi tidak membuat saya urung pergi ke sekolah tempat saya bekerja lapangan. Angkot yang membawa saya ke sekolah berjalan pelan walau penumpang penuh karena barisan mobil di depannya pun berjalan perlahan. Saya basuh jendela angkot yang mulai buram karena embun agar saya bisa melihat ke jalan dengan jelas. Lalu saya minta sopir angkot untuk berhenti,

“Bang, depan berhenti ya”.

Sambil beranjak turun dari angkot saya berikan pada sopir uang kertas yang sudah saya siapkan sejak naik angkot tadi. Lalu dengan cepat saya berlari setelah membuka payung lipat ke arah sekolah yang berjarak 100 meter dari jalan raya. Genangan air di jalan membuat sepatu dan bagian bawah rok saya basah. Akhirnya saya tiba di tempat tujuan saya. Hampir 1 bulan saya rutin datang ke sekolah ini setiap 3 kali sepekan mengajar bidang studi Bahasa Indonesia kelas 3 SMP. Hal ini saya lakukan untuk menyelesaikan laporan akhir studi Program AKTA IV yang saya ikuti di IKIP Jakarta (sekarang menjadi UNJ).

Saya langsung menuju ruang guru yang ada di bagian kiri depan bangunan sekolah itu. Hanya ada seorang guru, Pak Ginanjar, yang sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Saya sapa dia

“Siang Pak”.

Beliau mengangguk sambil tersenyum, “ Koq hujan-hujan begini tetap datang bu?”.

Dengan bingung saya balas bertanya lagi, “Loh memangnya kenapa Pak?”.

Sambil senyum lagi ia menjawab, “ Biasanya sih guru-guru nggak datang bu karena murid-murid juga nggak banyak yang datang. Tadi kelas 1 dan 2 digabung lalu diisi pelajaran agama Islam oleh Pak Azrul”.

“Hmm… nggak apalah Pak, rencananya saya memberi latihan soal hari ini” ujar saya.

Tak lama kemudian datang Nazarudin yang juga kerja praktek lapangan di sekolah ini. Dia juga sedang mengambil studi AKTA IV di IKIP Jakarta bersama saya. Dia yang mengajak saya untuk kerja lapangan di sekolah ini bersama dengan seorang teman lagi namanya Burhan. Saya yakin Burhan sudah hadir di sekolah ini karena saya tahu jadwal beliau 2 jam pelajaran sebelum waktu saya mengajar.

10 menit kemudian bel ganti pelajaran dibunyikan oleh Pak Ginanjar yang piket hari ini. Dengan cepat saya berjalan ke arah ruang kelas 3. Dari jendela tak berkaca saya lihat Pak Burhan masih berada di dalam kelas. Dia berjalan keluar kelas sambil berujar, “Bu Nana, yang hadir nggak sampe 50 persen”.

“Oh iya Pak, tadi Pak Ginanjar sudah kasih tahu, makasih” jawab saya.

Saat saya masuk kelas, 2 siswa pria pamit untuk ke kamar kecil tetapi tidak saya ijinkan. Saya tahu itu adalah siasat mereka untuk keluar kelas lalu tidak masuk kembali. Memang mudah untuk keluar dari gedung sekolah yang berbentuk huruf U ini karena tidak dikelilingi pagar. Bagian belakang dan sisi kanan sekolah adalah daerah pemukiman penduduk asli kota Jakarta. Sementara bagian sisi kiri sekolah terdapat kebun pisang milik seorang tuan tanah di kawasan tersebut. Kamar kecil yang dimiliki sekolah ini terdapat dibagian belakang bangunan. Itu sebabnya siswa yang pamit ke kamar kecil akan kabur ke arah pemukiman penduduk kemudian tidak akan kembali ke kelas hingga jam sekolah usai. Umumnya mereka yang cabut ( baca: bolos sekolah ) adalah siswa pria.

Hari pertama saya mengajar di sekolah ini agak bingung juga oleh situasi demikian. Berdasarkan cerita Nazarudin yang penduduk asli kawasan sekolah ini hal itu sudah biasa terjadi setiap hari. Akhirnya saya pahami betul bahwa sekolah ini hanyalah tempat anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri manapun karena nilai mereka yang rendah. Kasihan mereka, guru-guru di sekolah ini menyebutnya sebagai anak-anak buangan. Orang tua mereka pun tidak mampu membayar mahal pada sekolah-sekolah swasta lain yang bergengsi. Mereka hanya anak-anak sopir angkot, buruh-buruh pabrik, bahkan ada anak seorang tukang gali sumur pompa.

Saya buka kelas dengan sapaan selamat siang. Kemudian saya menggeser kursi guru yang terletak di sudut ruangan ke arah pintu masuk karena saya lihat tetesan air hujan di dekat meja guru. Tetesan itu sudah membuat genangan air di atas ubin yang kusam dimana kotoran yang menempel di atasnya sulit dibersihkan. Lalu saya minta siswa-siswa yang duduk di bagian belakang untuk pindah ke kursi bagian depan namun mereka menolak dengan alasan banyak tetesan air di bagian depan kelas. Sayapun mengerti. Baru saya ingat kala masuk ruang guru tadi ada 2 ember diletakkan di dalamnya. Satu buah tepat di pintu masuk ruang guru dan satu lagi di tengah ruangan.

Sementara saya perhatikan di ruang kelas 3, Masya Allah, ada 9 titik tetesan air dari genteng yang tidak dilapisi atap. Tidak satupun ember diletakkan di ruangan ini. Nampaknya sekolah tidak memiliki cukup ember untuk menampung tetesan-tetesan air yang ada di seluruh bangunan gedung sekolah ini. Lagi pula membeli ember sebanyak itu bukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Cuaca mendung membuat kelas yang gelap menjadi semakin gelap. Jendela yang mengelilingi ruang kelaspun sangat buram. Tidak ada lampu yang menggantung di kelas ini. Kalaupun ada saya khawatir akan terjadi arus pendek akibat hujan yang menetes melalui genteng.

Saya absen satu persatu siswa kelas 3 tapi hanya 18 yang hadir dari 52 siswa yang tertera di buku absen. Umumnya yang hadir adalah siswa perempuan. Situasi seperti ini membatalkan rencana saya hari ini memberi latihan soal pada mereka. Latihan soal itu untuk melihat sejauh mana mereka memahami materi ajar yang telah saya berikan selama kurang lebih satu bulan ini. Tidak mungkin pula saya beri lagi materi baru kalau siswa yang hadir kurang dari 50 persen. Lebih-lebih lagi papan tulis berwarna hitam yang akan saya tulisi dengan kapur tidak akan nampak jelas bagi siswa yang duduk di bagian belakang kecuali saya menulisnya dengan huruf besar-besar.

Akhirnya saya isi kelas dengan cerita-cerita yang memberi motivasi bagi siswa agar mereka tidak malas sekolah. Saya minta mereka membayangkan orang tua mereka yang bekerja berpeluh keringat demi bisa menyekolahkan mereka dan berharap kehidupan mereka jauh lebih baik daripada saat ini. 1 jam pelajaran terakhir saya minta mereka menulis harapan-harapan yang mereka inginkan dari sekolah ini. Sambil menunggu mereka menyelesaikan tugas tersebut saya duduk termenung. Memimpikan sebuah kelas yang cantik, jendela yang lebar nan bersih berikut tirai yang manis, lantai yang bersih, berpenerangan yang cukup, mesin pendingin ruangan, lengkap dengan alat bantu ajar terkini…….

SMP Dharma Bhakti kelas 3, Cipondoh, Tangerang – 1999 –

~~~~~

Hari ini sengaja saya berangkat 15 menit lebih awal dari biasanya. Saya hentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobby gedung. Saya berjalan masuk ke lift lalu menekan tombol angka 3. Gedung ini terdiri dari 6 lantai. Tempat yang saya tuju adalah ruang kelas Tsa Putri yang terdapat di lantai 3. Setibanya di ruang kelas belum ada satu siswi pun yang datang. Saya buka tirai jendela agar ruangan mendapatkan cahaya matahari jadi tak perlu menyalakan lampu. Kemudian saya nyalakan mesin pendingin ruangan. Sebelum kelas dimulai saya siapkan layar komputer yang terdapat di sudut ruangan kelas. Saya masukkan kepingan CD ke dalam disc drive hingga waktunya saat menonton nanti semua sudah siap.

Pekan lalu saya berjanji pada siswi-siswi untuk menayangkan Film “ Maryam binti Imran”. Kebetulan materi yang saya siapkan bulan ini adalah Ulul Azmi sedangkan hari ini akan saya kisahkan tentang Nabi Isa alaihissalam. Kelas selalu saya mulai dengan memeriksa bacaan Iqra’/Quran semua siswi dilanjutkan menyimak hapalan-hapalan juz amma mereka. Siswi yang belum mendapat giliran akan mengulang hapalan mereka sambil menungggu giliran.

Tepat pukul 08.30 datang 3 orang siswi masuk kelas seraya berucap, “Assalaamu’alaikum, Bu”.

“Wa’alaikumsalaam warahmatullaahi”, jawab saya.

Saya persilahkan mereka duduk di baris terdepan dari 3 baris kursi yang ada. Masing-masing baris terdapat 10 kursi lipat yang memiliki meja di atasnya. Seyogyanya kelas dimulai pukul 08.30 tapi karena baru 3 orang dari 25 siswi yang terdaftar di kelas saya maka saya tunda hingga 10 menit kemudian. Tak lama datang lagi 5 orang siswi lalu saya buka kelas dengan berdoa. Saya didampingi seorang guru lagi mulai memeriksa bacaan Quran masing-masing siswi. Tepat pukul 09.00, 17 siswi sudah hadir memenuhi kelas. Jumlah siswi dikelas saya memang paling sedikit dibandingkan kelas-kelas lain. Jadi tak perlu memakan waktu memeriksa bacaan mereka.

Kegiatan ini sudah saya jalani sejak Maret 2005 bersama beberapa teman dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Quran KAIFA bagi anak-anak Indonesia yang berada di Doha, Qatar. Sungguh merupakan tantangan buat kami yang tinggal di negara Islam tetapi karena umumnya anak-anak kami belajar di sekolah Internasional maka pelajaran Islam bukanlah yang utama. Untuk mengisi kekurangan tersebut maka bermulalah kegiatan ini. Awalnya kami mulai di sebuah komplek perumahan di Al Sadd area dengan jumlah siswa kurang dari 50 orang, usia 4 hingga 13 tahun.

Bertambahnya siswa setahun kemudian menyebabkan kami pindah ke KBRI Doha. Jumlah siswa yang mencapai 200 orang pada tahun 2007 tidak tertampung lagi di KBRI. Beberapa pendiri mencari upaya mengatasi masalah tempat di mana kami bisa menampung siswa sebanyak itu tanpa membayar sewa gedung. Akhirnya atas kebaikan pihak QICC (Qatar Islamic Culture Centre) kami mendapat 10 ruang kelas untuk menampung kurang lebih 400 siswa yang terdaftar tanpa membayar sewa gedung sepeserpun.

Usai mendapat giliran semua siswi saya minta mengingat apa yang telah saya berikan pekan lalu tentang Ulul Azmi. Lalu mulailah saya bercerita tentang Nabi Isa alaihissalaam hingga akhirnya tenggorokan saya terasa mulai kering saya lanjutkan dengan memutar film. Acara menonton di kelas adalah kegiatan yang selalu ditunggu oleh siswi-siswi saya yang berjenjang usia 8 hingga 10 tahun. Buat saya cara ini sedikit meringankan tugas saya, tidak perlu mengeluarkan suara terlalu banyak untuk menyampaikan kisah-kisah Nabi dan para sahabatnya. Baru setelah itu saya tambahkan beberapa hal dilanjutkan dengan tanya jawab.

Jam menunjukkan pukul 11.00 saatnya kelas ditutup dengan doa. Setelah semua siswi keluar kelas, saya keluarkan kepingan CD dari disc drive lalu saya matikan komputer. Sebelum meninggalkan kelas tak lupa saya matikan mesin pendingin ruangan….

Gedung Fanar, kelas Tsa Putri, Doha, Qatar – Desember 2009 –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s