ANAK GAUL

Standard

oleh Nana Fadjar

Tadi sore saya dan anak-anak berkesempatan menghadiri Pesantren Kilat Remaja yang diadakan oleh KAIFA Doha di Club House Muaither Compound, Ar Rayyan area. Sebetulnya acara berlangsung sejak kemarin sore tapi karena kami baru kembali dari Indonesia maka kami datang sore ini. Kebetulan acara sesi terakhir akan berlangsung, Talk Show: Kamu Vs Ortu. Acara tersebut dipandu oleh pembicara utama didampingi 4 orang tua, masing-masing 2 bapak dan 2 ibu. Sebagai wakil dari remaja dipilih masing-masing 1 orang remaja putra dan putri. Pada kesempatan ini Alhamdulillaah saya dipercaya sebagai pembicara mewakili seorang ibu yang memiliki anak remaja.

Sebagai pembuka pembicara utama dalam hal ini ibu Fajriati M Badrudin, S.Psi menyampaikan pengalamannya ketika bekerja di Crisis Centre RSCM Jakarta. Beliau pernah menangani seorang remaja yang dibawa oleh ibunya ke pusat krisis tersebut. Remaja putrid itu ber usia 13 tahun kabur dari rumah bersama pacarnya. Ketika ditanya kepada anak tersebut mengapa kabur dari rumah, jawabannya tidak asing lagi karena dilarang berpacaran oleh orang tuanya. Tahukah remaja itu alasan mengapa ia dilarang berpacaran oleh ibunya? Ternyata ia tahu alasannya karena sang pacar yang berusia 20 tahun adalah seorang pengangguran yang selalu nongkrong di warung dekat rumahnya. Tentu saja ibunya khawatir akan masa depan anaknya yang masih usia sekolah. Tugas putrinya saat itu adalah belajar bukan berpacaran. Itulah sebabnya sang ibu melarang putrinya berpacaran apalagi dengan seorang pengangguran.


Contoh kasus lain yang disampaikan ibu Fajri adalah seorang remaja putra usia 14 tahun yang ditanganinya di pusat rehabilitasi korban narkoba. Remaja tersebut menguraikan kisahnya mengapa sampai akhirnya ia berkenalan dengan obat-obatan terlarang. Alasannya karena ayahnya sangat keras dalam hal mendidiknya hingga seringkali ia dipukul bila ia salah melakukan suatu pekerjaan. Sementara sang ibu selalu membelanya walau dirinya salah agar ia tidak dipukul oleh ayahnya. Akhirnya ia kehilangan kepercayaan diri hingga terjebak oleh kawan-kawannya yang menawari obat-obatan terlarang.

Analisa saya bahwa remaja-remaja di tanah air kita sangat mudah terjerumus pada kedua kasus tersebut. Antara lain karena di luar rumah anak-anak bisa bertemu dengan siapa saja, selain di sekolah yang tentu teman belajarnya, mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kendaraan umum atau bahkan di warung dekat rumah yang umumnya dijadikan tempat nongkrong para pengangguran atau pengedar narkoba. Bila kita tidak dekat dengan anak-anak remaja kita pastilah akan sulit mengetahui apa saja kegiatannnya setelah pulang sekolah, dengan siapa saja ia berteman, hingga akhirnya anak-anak kita terjebak pada masalah yang tentunya tidak kita harapkan.

~~~

Bagaimanakah dengan situasi remaja-remaja kita di Qatar ini? Jauh sekali dengan situasi di tanah air. Kemanapun mereka pergi, baik sekolah atau jalan-jalan ke pusat pertokoan hampir selalu diantar dan dijemput oleh orang tuanya karena minimnya fasilitas kendaraan umum. Siapa saja teman-temannya hampir semua kita kenal dan kita tahu siapa orangtua mereka. Dapat dikatakan mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Katakanlah pengangguran dan pengedar narkoba hampir tidak kita temukan di negara ini.

Bila tidak ada kegiatan di luar sekolah anak-anak remaja kita akan tinggal di dalam rumah duduk mendekam di hadapan komputer. Mereka akan chatting dengan teman-temannya atau sekedar melihat teman-temannya di situs jejaring ssosial yang sedang trend. Siapakah teman-teman chatting mereka dan dimanakah teman-temannya itu berada? Bisa jadi bukan hanya teman sekolahnya, bukan pula teman di Qatar, bukan pula teman-teman di tanah air. Bisa jadi pula teman-temannya yang berada di negara-negara lain, baik tua maupun muda.

Pernah suatu kali saya dapati di komputer anak remaja saya, foto-foto temannya yang terdapat di situs jejaring sosial membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Foto sepasang remaja kira-kira berusia 14 tahun bergandeng tangan dengan teman lawan jenis. Foto berikutnya lebih mendebarkan lagi, mereka tiduran berdua di atas rumput. Dengan rasa ingin tahu yang lebih besar saya buka lagi foto-foto lainnya, ada sepasang anak bergendongan, merekapun berlawanan jenis. Ketika saya tanyakan pada anak saya siapakah mereka, anak siapakah mereka, jawabannya cukup mengejutkan. Mereka adalah remaja-remaja Indonesia yang tinggal di Qatar. Di lain kesempatan saya pernah mendapati kata-kata yang dilontarkan di situs jejaring sosial dalam percakapan anak remaja saya dengan teman-temannya tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan, apalagi syariat Islam. Sekali lagi alasannya karena bercanda.

Batas-batas pergaulan antar lawan jenis hampir hilang di dalam diri mereka. Mereka menganggapnya hal itu sudah biasa toh tidak ada nafsu di antara mereka. Foto itu hanya buat gaya-gayaan saja alasannya. Bergendongan kan hanya bercanda siapa yang paling kuat menggendong temannya. Dapat kita maklumi karena umumnya mereka sekolah di International School yang minim sekali pendidikan Islaminya. Kita sebagai orang tua tidak boleh lengah dalam membekali mereka pendidikan akhlaq yang memang wajib diberikan dari rumah bukan dari sekolah. Himbauan yang sangat klise tapi kadang kita lengah karena situasi kesibukan yang ada di sini.

Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka tulis atau foto-foto yang mereka tampilkan di komputer dalam jaringan internet dapat dilihat siapa saja dimana saja. Buat saya jalur internet yang mereka gunakan hampir sama dengan jalan raya yang dilalui oleh remaja-remaja di tanah air. Pakaian apa yang mereka gunakan dapat dilihat khalayak ramai melalui situs jejaring sosial walau mereka tidak keluar rumah. Apa yang mereka katakan dapat didengar pula oleh siapa saja walau mereka duduk manis di dalam kamarnya.

Sekali lagi himbauan yang sangat klise bagi para ibu di Qatar, mari sama-sama kita turun ke ‘jalan raya’ disela-sela kesibukan kita untuk memantau anak-anak remaja kita. Memberi bekal akhlak dalam etika pergaulan mereka di jalur internet. Saya yakin para ibu sudah tahu caranya. Marilah kita bertukar pengalaman dan informasi dalam membina pergaulan remaja-remaja kita.

pergaulan remaja

Halaqoh Keluarga

Advertisements

Comments are closed.