JENDELA

Standard

Benda satu ini sudah pasti dong semua tahu fungsinya. Walau bentuk dan ukurannya banyak ragam namun fungsinya tetap sama yaitu sebagai sirkulasi udara dan cahaya. Kalau sebuah rumah tidak mempunyai jendela maka akan terasa pengap karena tidak cukup udara yang ada di rumah tersebut. Juga akan terasa gelap karena tidak cukup cahaya yang menyinari rumah tersebut.

Bentuk dan bahannya berbeda-beda di setiap wilayah atau negeri. Umumnya disesuaikan dengan cuaca setempat. Di Indonesia, jendela umumnya dibuat dari kayu sebagai bingkai (baca: kusen) dan menggunakan engsel untuk membuka atau menutupnya. Sementara di tanah rantau ini, di Qatar, bingkai jendela umumnya terbuat dari aluminium. Bentuknya segi empat atau persegi panjang. Untuk membuka dan menutupnya hanya digeser saja. Jadi ada dua sisi jendela, kanan dan kiri. Umumnya bagian kanan posisinya diam, tidak dapat dipindah, sedangkan bagian kiri dapat digeser untuk membuka dan menutupnya. Nah, jendela di apartemen saya selain dua sisi tersebut, di bagian luarnya terdapat jendela kisi-kisi yang terbuat dari seperti kawat nyamuk, dibingkai alumunium juga, dan dapat digeser. Hampir semua rumah di negara ini demikian halnya.

Saat musim dingin, jendela sering saya buka tetapi bagian kisi-kisi tersebut selalu saya tutup untuk menghindari masuknya burung-burung yang sering berseliweran di musim dingin. Dengan demikian udara akan masuk ke dalam ruangan. Tak perlu menyalakan  pendingin ruangan. Saat musim panas sering terjadi badai debu itu sebabnya selalu saya tutup.  Sedangkan selalu ditutup saja debu-debu menyelimuti lantai rumah. Jadi fungsi jendela pada musim panas lebih banyak sebagai sirkulasi cahaya ke dalam rumah.

Setelah hampir 5 tahun t menempati apartemen di Qatar, saya nyaris tidak pernah membersihkan jendela kecuali hanya bagian dalam saja. Padahal jendela rumah saya di tanah air selalu dibersihkan hampir sekali seminggu. Bukan, bukan karena malas atau tidak sempat…. jengkel juga jika dari luar apartemen melihat rupa jendela saya. Untuk bagian dalam sih mudah sekali membersihkannya. Yang sulit itu bagian luar.  Bagian jendela yang digeser hanya bisa dibersihkan di sisi yang dekat bingkai sementara sisi tengah tidak dapat sama sekali dibersihkan. Ketika jendela digeser maka bagian tengah akan bertemu jendela yang mati.

Memang umumnya jendela-jendela di Qatar seperti itu, itu sebabnya bila kita perhatikan dari luar tiap-tiap gedung hampir semua jendela-jendela di apartemen dilapisi debu yang sangat tebal, tidak pernah dibersihkan oleh pemiliknya. Dengan keadaan seperti itu jendela apartemen saya menghalangi masuknya cahaya ke dalam ruangan sehingga ruang tamu dan kamar-kamar jadi gelap dan pemandangan keluar jendela pun terhalang.

Tadinya saya pikir bisa dibersihkan dari lantai dasar, kebetulan saya tinggal di lantai satu, sedangkan lantai dasar adalah lahan parkir. Ternyata tangga lipat yang dimiliki manajemen apartemen tidak sampai meraih jendela saya. Hadduuh, kesel juga niih, kan orang jadi mengira isi dalam ruangan jendela tersebut sekusam jendelanya.

Siapa nyana, percakapan dengan asisten rumah paruh waktu saya tadi siang ternyata dapat menyelesaikan masalah tersebut. Phuiihh,  setelah 5 tahun tinggal di apartemen ini, akhirnya saya  bisa membersihkan jendela saya yang tebal penuh debu. Ternyata gampang banget meski agak berat sih….

Bagian sisi kiri jendela yang dapat digeser ternyata dapat pula dilepas dari tempatnya. Demikian pula dengan jendela kisi-kisi  dapat dilepas. Walau untuk jendela kaca sangat berat sehingga dibutuhkan 2 orang untuk melepasnya. Tak masalah, akhirnya saya dan asisten rumah mengaangkat jendela tersebut dengan sangat hati-hati. Kami letakkan di dalam kamar mandi lalu kami guyur dengan air kemudian dilap hingga kering.

Wowww, mengkilat bahkan saya dapat bercermin melaluinya…..

Advertisements

Comments are closed.